Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada Kisra (raja Persia) melalui Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Kisra membalas dengan merobek surat itu karena kesombongannya, lalu Nabi ﷺ mendoakan agar kerajaannya dirobek-robek dan hancur. Hadits ini mengajarkan adab dakwah, kesabaran Nabi ﷺ, dan akibat buruk dari kesombongan serta penolakan kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Perang), Bab Surat Nabi ﷺ kepada Kisra dan Qaisar, nomor 4424. Perawi sahabatnya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan jalur periwayatannya melalui Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu ulama Tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan.
Adapun ayat yang sangat relevan dengan tema kesombongan dan penolakan kebenaran:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
QS. Al-Isra' [17]: 37
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
Ayat lain yang berkaitan dengan akibat kesombongan:
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
QS. Fushshilat [41]: 15
"Adapun kaum 'Ad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: 'Siapakah yang lebih kuat dari kami?' Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Dakwah Nabi ﷺ kepada para raja dan penguasa. Nabi ﷺ tidak hanya berdakwah kepada orang-orang di sekitarnya, tetapi juga mengirim surat kepada para penguasa besar di zamannya, termasuk Kisra (Persia), Qaisar (Romawi), dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam bersifat universal dan mencakup semua lapisan, termasuk para pemimpin. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi dakwah yang bijak, karena jika seorang raja masuk Islam, rakyatnya akan lebih mudah menerima.
Kedua: Pengiriman melalui perantara yang terpercaya. Nabi ﷺ mengutus Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang dikenal keberanian dan kesetiaannya. Surat itu diserahkan kepada gubernur Al-Bahrain terlebih dahulu, lalu diteruskan kepada Kisra. Ini menunjukkan pentingnya amanah dan tata cara penyampaian pesan yang baik.
Ketiga: Reaksi Kisra yang sombong. Ketika Kisra membaca surat Nabi ﷺ, ia merobeknya. Ini adalah bentuk penolakan yang sangat kasar terhadap kebenaran. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Kisra merasa dirinya terlalu tinggi untuk menerima surat dari seseorang yang ia anggap bukan penguasa besar. Kesombongan inilah yang menjadi penyebab kehancurannya.
Keempat: Doa Nabi ﷺ atas kehancuran mereka. Nabi ﷺ mendoakan agar mereka dirobek-robek dan dihancurkan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa ini dikabulkan Allah, terbukti dengan hancurnya kerajaan Persia beberapa tahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ mustajab, dan bahwa kesombongan terhadap kebenaran akan berujung pada kehancuran.
Kelima: Perbedaan pendapat tentang siapa yang merobek surat. Dalam hadits ini, Az-Zuhri menyebutkan bahwa Ibnu Al-Musayyab (Sa'id bin Al-Musayyib, salah satu ulama Tabi'in dalam daftar) berkata bahwa Nabi ﷺ mendoakan agar mereka dirobek-robek. Ini menunjukkan bahwa para ulama Tabi'in sangat memperhatikan detail periwayatan dan tidak menambahkan sesuatu yang tidak mereka yakini.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (meskipun hadits ini dari Bukhari, beliau juga membahasnya dalam konteks yang sama) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang adab dalam berdakwah, kesabaran dalam menghadapi penolakan, dan keyakinan bahwa Allah akan menolong agama-Nya meskipun banyak yang menentang.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang sangat setia dan berani. Ketika ia ditugaskan membawa surat Nabi ﷺ kepada Kisra, ia melaksanakan tugas itu dengan penuh tanggung jawab. Ia menyerahkan surat kepada gubernur Al-Bahrain, yang kemudian meneruskannya kepada Kisra.
Kisra, yang saat itu adalah penguasa Persia yang sangat berkuasa dan sombong, membaca surat Nabi ﷺ yang berisi ajakan untuk masuk Islam. Karena kesombongannya, ia merobek surat itu tanpa mempertimbangkan isinya. Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda dengan doa yang penuh makna: "Semoga Allah merobek-robek kerajaan mereka."
Tidak lama setelah itu, kerajaan Persia yang begitu besar dan kuat mulai goyah. Kisra dibunuh oleh anaknya sendiri, dan kerajaan itu terpecah belah. Ini adalah bukti nyata bahwa Allah membalas kesombongan dengan kehancuran. Kisah ini juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa kekuasaan dan kekuatan tidak akan berarti apa-apa di hadapan Allah.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi sekitar tahun 6 atau 7 Hijriah, dan menjadi salah satu tanda kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Berdakwahlah dengan bijak dan penuh adab, meskipun kepada orang yang sombong atau berkuasa. Tugas kita hanya menyampaikan, hasilnya adalah urusan Allah.
- Jangan sombong terhadap kebenaran. Kesombongan Kisra menjadi penyebab kehancuran kerajaannya. Sebaliknya, bersikap tawadhu dan terbuka terhadap nasihat adalah jalan keselamatan.
- Yakinlah bahwa doa orang yang terzalimi dan doa Nabi ﷺ mustajab. Allah akan menolong agama-Nya dan menghancurkan kesombongan.
- Teladani kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi penolakan. Beliau tidak membalas dengan kekerasan, tetapi menyerahkan semuanya kepada Allah.
- Pelajari sejarah untuk mengambil ibrah (pelajaran). Kisah Kisra mengingatkan kita bahwa kekuasaan duniawi tidak abadi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.