Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4380 tentang Kisah kedatangan utusan Najran dan kepercayaan Abu Ubaidah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kedatangan dua pemimpin Kristen Najran, Al-‘Aqib dan As-Sayyid, yang awalnya hendak melakukan mubāhalah (saling melaknat) dengan Nabi ﷺ. Namun, mereka mengurungkan niatnya karena takut jika beliau benar-benar Nabi, laknat itu akan menimpa mereka. Mereka kemudian meminta seorang yang amanah untuk menemani mereka kembali ke Najran. Nabi ﷺ pun menunjuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan bersabda bahwa beliau adalah "orang yang amanah bagi umat ini." Hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Ubaidah, serta pelajaran tentang pentingnya kejujuran dan sikap hati-hati dalam menghadapi kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Kisah Penduduk Najran, no. 4380, dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan kisah mubāhalah (saling melaknat):

Allah Ta'ala berfirman:

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا۟ نَدْعُ أَبْنَآءَنَا وَأَبْنَآءَكُمْ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰذِبِينَ

"Maka barang siapa membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, maka katakanlah (Muhammad), 'Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah (saling melaknat) dan memohon laknat Allah kepada orang-orang yang dusta.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 61)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam bab khusus untuk menunjukkan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat mubāhalah dan bagaimana Nabi ﷺ menyikapi utusan Najran.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat mubāhalah turun berkenaan dengan kedatangan delegasi Kristen Najran, dan beliau menukil kisah ini untuk menjelaskan konteksnya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari memberikan penjelasan rinci tentang sanad, makna hadits, dan faedah-faedahnya, termasuk keutamaan Abu Ubaidah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Kisah Kedatangan Delegasi Najran

Para ulama, termasuk Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan bahwa delegasi Kristen Najran datang ke Madinah untuk berdiskusi tentang Nabi Isa 'alaihis salam. Mereka mengklaim bahwa Isa adalah anak Allah. Maka Allah menurunkan ayat-ayat awal Surah Ali 'Imran yang membantah klaim mereka. Ketika mereka tetap bersikeras, Nabi ﷺ mengajak mereka untuk mubāhalah (saling melaknat). Namun, ketika mereka melihat wajah Nabi ﷺ dan para sahabatnya yang khusyuk, mereka takut dan mundur. Mereka memilih untuk membayar jizyah (upeti) dan kembali ke negeri mereka.

2. Sikap Waspada Al-'Aqib dan As-Sayyid

Salah satu dari mereka berkata kepada temannya, "Jangan lakukan, demi Allah, jika dia seorang Nabi dan kita melakukan laknat ini, maka kami dan keturunan kami setelah kami tidak akan beruntung." Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki sisa keimanan dan pengakuan akan kebenaran, meskipun mereka tidak mau tunduk. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sikap ini adalah bentuk kehati-hatian yang terpuji dalam urusan agama, karena mereka takut akan azab Allah.

3. Permintaan Mereka akan Orang yang Amanah

Mereka berkata, "Kami akan memberikan apa yang seharusnya engkau minta, tetapi kirimkanlah seorang yang terpercaya bersama kami." Ini menunjukkan bahwa mereka mengenali sifat amanah yang melekat pada diri Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Mereka tidak meminta sembarang orang, tetapi orang yang benar-benar jujur dan dapat dipercaya.

4. Keutamaan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Nabi ﷺ bersabda, "Aku akan mengirimkan seorang yang benar-benar terpercaya." Para sahabat pun berharap menjadi orang tersebut. Namun, Nabi ﷺ memilih Abu Ubaidah dan bersabda, "Ini adalah orang yang amanah bagi umat ini." Ini adalah pujian yang sangat agung dari Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa pujian ini menunjukkan keutamaan Abu Ubaidah yang sangat tinggi. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dan termasuk as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Sifat amanahnya telah diuji dalam berbagai situasi, termasuk ketika beliau dipercaya membawa harta dari Bahrain.

5. Pelajaran tentang Kejujuran dan Amanah

Hadits ini menekankan bahwa sifat amanah adalah salah satu sifat paling mulia yang harus dimiliki seorang Muslim. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Amanah adalah bagian dari iman, dan orang yang tidak memiliki amanah tidak memiliki iman yang sempurna." Sifat ini harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam urusan agama maupun dunia.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah diutus oleh Nabi ﷺ untuk menemani delegasi Najran, beliau menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Beliau berlaku adil, jujur, dan tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Sikapnya ini membuat delegasi Najran merasa tenang dan menghormati beliau.

Kisah lain yang menunjukkan kejujuran Abu Ubaidah adalah ketika beliau diangkat menjadi gubernur di Syam. Suatu ketika, Umar bin Khattab datang mengunjunginya dan melihat rumahnya sangat sederhana. Umar bertanya, "Mengapa rumahmu sesederhana ini?" Abu Ubaidah menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, rumah ini cukup untuk menampung aku dan keluargaku, dan aku tidak ingin mengambil harta yang bukan hakku." Umar pun menangis dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Ubaidah. Engkau adalah orang yang benar-benar amanah."

Kisah ini menunjukkan bahwa sifat amanah yang dipuji oleh Nabi ﷺ bukan hanya teori, tetapi benar-benar dipraktikkan oleh Abu Ubaidah dalam kehidupan sehari-harinya.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menjaga sifat amanah dalam segala urusan, baik yang kecil maupun besar, karena ini adalah sifat yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.
  2. Bersikap hati-hati dalam urusan agama — jangan mudah terjerumus pada hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah, seperti yang dilakukan oleh delegasi Najran yang mengurungkan niat laknatnya.
  3. Menghormati dan meneladani para sahabat, terutama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, yang memiliki sifat amanah yang luar biasa.
  4. Menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat — Nabi ﷺ mengajak mubāhalah bukan untuk berdebat, tetapi untuk menegakkan kebenaran. Jika lawan bicara tidak mau menerima kebenaran, maka kita cukup menyampaikan dengan baik dan tidak memaksakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.