Penjelasan Hadits Bukhari No. 4376 tentang Praktik jahiliyah menyembah batu dan takhayul

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kondisi masyarakat Arab jahiliyah sebelum Islam, khususnya kebiasaan menyembah batu dan takhayul bulan Rajab, serta bagaimana sebagian orang justru lari kepada Musailimah al-Kadzdzab (nabi palsu) ketika mendengar kedatangan Nabi Muhammad ﷺ. Hadits ini menunjukkan betapa besar perubahan yang dibawa Islam dan pentingnya ilmu serta bimbingan untuk keluar dari kebodohan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (Perang), Bab Kedatangan Bani Hanifah dan Kisah Tsumamah bin Utsal, nomor 4376. Perawi sahabat dalam hadits ini adalah Abu Raja' al-'Utharidi (seorang tabi'in yang meriwayatkan dari masa jahiliyah dan awal Islam).

Allah ﷻ berfirman mengenai kondisi jahiliyah dan datangnya cahaya Islam:

QS. Al-Ma'idah [5]: 50

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?"

QS. Ibrahim [14]: 1

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

"Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya (yang terang) dengan izin Tuhan mereka, yaitu menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji."

Hadits ini juga berkaitan dengan hadits-hadits lain tentang Musailimah al-Kadzdzab yang dikisahkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, di mana Nabi ﷺ menyebutnya sebagai pendusta besar.

Penjelasan Rinci

Pertama: Gambaran Kebodohan Jahiliyah dalam Beribadah

Abu Raja' al-'Utharidi menceritakan bahwa di masa jahiliyah, kaumnya menyembah batu. Jika menemukan batu yang lebih baik, mereka membuang yang lama dan mengambil yang baru. Jika tidak menemukan batu, mereka mengumpulkan tanah, memerah susu domba di atasnya, lalu thawaf mengelilinginya. Ini menunjukkan betapa kosongnya akal mereka dari tauhid dan betapa rusaknya cara beribadah mereka — menyembah benda mati yang mereka sendiri buat dan ganti sesuka hati.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan hakikat syirik jahiliyah yang tidak memiliki dasar sama sekali, hanya mengikuti tradisi nenek moyang tanpa dalil. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah juga menyebutkan bahwa bangsa Arab jahiliyah memiliki berbagai bentuk penyembahan berhala, termasuk menyembah batu, pohon, dan benda-benda lain yang mereka anggap memiliki kekuatan.

Kedua: Takhayul Bulan Rajab

Abu Raja' menyebutkan bahwa ketika bulan Rajab tiba, mereka menyebutnya munashshilul asinnah (penghapus besi), yaitu bulan di mana mereka menghentikan peperangan dan mencabut besi dari tombak dan anak panah. Ini adalah tradisi jahiliyah yang mengkhususkan Rajab sebagai bulan haram untuk berhenti berperang. Islam kemudian mengatur bulan-bulan haram secara jelas (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) dengan aturan yang benar, bukan berdasarkan takhayul.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menetapkan bulan-bulan haram untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk ritual-ritual kosong. Adapun mengkhususkan amalan tertentu di Rajab tanpa dalil, para ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibn Rajab al-Hanbali mengingatkan agar tidak mengada-adakan ibadah yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.

Ketiga: Lari kepada Musailimah al-Kadzdzab

Abu Raja' berkata, "Ketika Nabi ﷺ diutus, saya masih anak-anak yang menggembala unta keluarga. Ketika kami mendengar kemunculannya, kami lari ke api, yaitu kepada Musailimah al-Kadzdzab." Ini menggambarkan bahwa sebagian orang, karena kebodohan dan kesesatan, justru memilih mengikuti pendusta daripada mengikuti kebenaran. Musailimah bin Habib (al-Kadzdzab) mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, dan ia kemudian diperangi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Musailimah adalah salah satu dari tiga pendusta besar yang mengaku nabi (bersama al-Aswad al-'Ansi dan Thulaihah bin Khuwailid). Nabi ﷺ bersabda tentang mereka dalam hadits yang shahih. Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menceritakan secara panjang tentang Musailimah, klaim kenabiannya, dan bagaimana ia dibunuh oleh Wahsyi bin Harb pada Perang Yamamah.

Keempat: Pelajaran Tauhid dan Bahaya Kesesatan

Hadits ini mengajarkan bahwa:

  1. Kebodohan tentang tauhid adalah akar dari segala kesesatan.
  2. Islam datang untuk menghapus semua bentuk syirik dan takhayul.
  3. Mengikuti kebenaran membutuhkan ilmu dan keberanian, bukan sekadar ikut-ikutan.
  4. Pendusta yang mengaku nabi adalah fitnah besar, dan umat Islam wajib berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab at-Tauhid menegaskan bahwa semua bentuk penyembahan kepada selain Allah, termasuk menyembah batu, adalah syirik akbar yang menghapus amal. Syaikh bin Baz rahimahullah juga menjelaskan bahwa takhayul dan bid'ah dalam beribadah adalah pintu menuju kesesatan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Tsumamah bin Utsal, seorang pemimpin Bani Hanifah, pernah ditawan oleh kaum Muslimin dan kemudian masuk Islam. Ia kemudian kembali ke kaumnya dan berdakwah kepada mereka. Namun, sebagian Bani Hanifah justru mengikuti Musailimah al-Kadzdzab yang mengaku nabi. Tsumamah sendiri tetap teguh di atas Islam dan berlepas diri dari Musailimah.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Musailimah: "Sesungguhnya akan ada tiga puluh pendusta yang mengaku nabi." Dan Musailimah adalah salah satunya. Ketika Musailimah menulis surat kepada Nabi ﷺ mengajak berbagi kenabian, Nabi ﷺ menjawab dengan tegas menolak dan menyebutnya sebagai pendusta.

Hikmahnya: kebodohan dan kesombongan dapat menjerumuskan seseorang kepada kesesatan yang nyata. Sebaliknya, ilmu dan tauhid adalah cahaya yang menyelamatkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Belajar tauhid adalah kewajiban utama setiap Muslim agar terhindar dari syirik dan takhayul.
  2. Jangan mengikuti tradisi tanpa dalil, terutama dalam ibadah. Setiap amalan harus berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
  3. Waspadai pendusta dan aliran sesat yang mengaku membawa kebenaran tetapi menyimpang dari ajaran Nabi ﷺ.
  4. Bersyukur atas nikmat Islam yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya tauhid.
  5. Berpegang pada pemahaman ulama Ahlus Sunnah dalam memahami agama, bukan pada opini atau tradisi yang tidak berdasar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?