Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan perjalanan Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu menemui Nabi ﷺ, dan di tengah jalan beliau bertemu dua orang Yaman yang kemudian kembali pulang setelah mendengar kabar wafatnya Nabi ﷺ. Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan berbicara tentang Nabi ﷺ, adab dalam menyampaikan berita, serta isyarat tentang perubahan sistem kepemimpinan setelah masa khilafah. Yang paling penting: hadits ini menunjukkan bahwa berita wafatnya Nabi ﷺ adalah peristiwa besar yang mengubah arah sejarah umat Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Perjalanan Jarir ke Yaman (no. 4359), dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu.
Adapun ayat yang berkaitan dengan tema kepemimpinan dan ketaatan, Allah ﷻ berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
QS. An-Nisa' [4]: 59
"Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu."
Ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami sikap Ahlus Sunnah terhadap kepemimpinan: taat selama tidak memerintahkan maksiat, dan tidak memberontak dengan senjata.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa sisi penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Keutamaan Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.
Jarir termasuk sahabat yang mulia. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Jarir dikenal sebagai sahabat yang sangat mencintai Nabi ﷺ dan sering menyampaikan hadits tentang beliau. Dalam hadits ini, Jarir aktif menceritakan tentang Rasulullah ﷺ kepada orang-orang Yaman — ini menunjukkan semangat dakwah dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.
Kedua: Dhu 'Amr dan Dhu Kala' — dua tokoh Yaman.
Keduanya adalah pembesar Yaman. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Dhu 'Amr kemudian masuk Islam setelah peristiwa ini, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. Perkataan Dhu 'Amr "jika benar apa yang kamu katakan, maka dia telah meninggal tiga hari lalu" menunjukkan bahwa berita wafatnya Nabi ﷺ sudah sampai ke Yaman melalui jalur lain, atau ini adalah isyarat ilham yang Allah berikan.
Ketiga: Sikap Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Ketika Jarir melaporkan bahwa dua orang Yaman itu datang lalu pulang, Abu Bakr berkata: "Mengapa kamu tidak membawa mereka kepadaku?" Ini menunjukkan perhatian Abu Bakr terhadap orang-orang yang baru masuk Islam atau yang ingin mengenal Islam. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sikap ini adalah bagian dari kelembutan dan kepedulian pemimpin terhadap rakyatnya.
Keempat: Perkataan Dhu 'Amr tentang sistem kepemimpinan.
Dhu 'Amr berkata: "Kamu, kaum Arab, akan tetap sejahtera selama kamu memilih dan mengangkat pemimpin lain setiap kali pemimpin sebelumnya meninggal. Tetapi jika kekuasaan diperoleh dengan kekuatan pedang, maka para penguasa akan menjadi raja yang marah seperti raja dan senang seperti raja."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa perkataan ini adalah isyarat tentang perubahan sistem dari khilafah (pemilihan) menuju kerajaan (monarki) yang terjadi setelah masa Khulafa' ar-Rasyidin. Ini bukan celaan terhadap sistem kerajaan secara mutlak, tetapi isyarat bahwa ketika kekuasaan diambil dengan paksaan, maka sifat kepemimpinan akan berubah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kepada kita untuk tetap taat kepada pemimpin selama mereka menegakkan shalat dan tidak memerintahkan maksiat, sebagaimana hadits-hadits lain yang shahih. Beliau juga menekankan pentingnya menghindari pemberontakan dengan senjata karena dampaknya yang lebih besar.
Kelima: Perbedaan pendapat ulama tentang status Dhu 'Amr.
Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Dhu 'Amr akhirnya masuk Islam. Namun ada riwayat yang menunjukkan ia kembali ke Yaman dan tidak sempat bertemu Nabi ﷺ secara langsung. Yang jelas, hadits ini menunjukkan bahwa berita tentang Nabi ﷺ sampai kepada pembesar-pembesar Yaman, dan ini adalah bagian dari tersebarnya dakwah Islam.
Story Telling
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menceritakan tentang keutamaan para sahabat dalam menyampaikan berita tentang Nabi ﷺ. Jarir bin Abdullah adalah salah satu sahabat yang dikenal sangat jujur dan berani. Ketika ia berada di Yaman, ia tidak ragu menceritakan tentang Rasulullah ﷺ kepada dua pembesar Yaman, meskipun ia tahu keduanya belum masuk Islam.
Ketika berita wafatnya Nabi ﷺ sampai, Jarir segera kembali ke Madinah dan melaporkan kepada Abu Bakr. Abu Bakr yang saat itu baru diangkat sebagai khalifah menunjukkan kepemimpinan yang penuh perhatian: "Mengapa kamu tidak membawa mereka kepadaku?" — sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa besar harapan Abu Bakr agar orang-orang Yaman itu masuk Islam.
Dhu 'Amr kemudian berkata kepada Jarir: "Kamu telah berbuat baik kepadaku, dan aku akan memberitahumu sesuatu..." — lalu ia menyampaikan nasihat tentang kepemimpinan. Ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang belum masuk Islam pun bisa melihat kebenaran dalam sistem yang dibawa Islam: kepemimpinan yang dipilih dengan musyawarah lebih membawa kebaikan daripada kepemimpinan yang diambil dengan pedang.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa peristiwa wafatnya Nabi ﷺ adalah ujian terbesar bagi para sahabat, dan bagaimana mereka tetap teguh adalah bukti keimanan mereka yang kokoh.
Kesimpulan Praktis
- Semangat menyampaikan tentang Nabi ﷺ — Jadikan kebiasaan menceritakan sunnah dan akhlak Nabi ﷺ kepada keluarga dan orang di sekitar kita, sebagaimana Jarir melakukannya.
- Adab dalam menerima berita — Dhu 'Amr tidak langsung menolak, tetapi ia menyampaikan pendapatnya dengan santun. Ini mengajarkan kita untuk berbicara dengan adab, terutama tentang hal-hal besar.
- Ketaatan kepada pemimpin — Selama pemimpin menegakkan shalat dan tidak memerintahkan maksiat, kita wajib taat. Ini adalah prinsip Ahlus Sunnah yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Syaikh al-Utsaimin.
- Menghindari pemberontakan dengan senjata — Sebagaimana isyarat dalam hadits ini, kekuasaan yang diambil dengan pedang membawa perubahan sifat kepemimpinan. Ahlus Sunnah memilih jalan sabar dan nasihat, bukan kekerasan.
- Percaya pada janji Allah — Kaum Arab tetap dalam kebaikan selama mereka bermusyawarah dalam memilih pemimpin. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya syura dalam Islam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.