Penjelasan Hadits Bukhari No. 4348 tentang Pengiriman Mu'adz ke Yaman dan bacaan shalatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika diutus Nabi ﷺ ke Yaman, beliau mengimami shalat Subuh dan membaca surat An-Nisa', termasuk ayat "وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا" (Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih). Seorang lelaki di belakangnya spontan berkata, "Betapa senangnya ibu Ibrahim!" — sebuah ungkapan kekaguman atas kemuliaan Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Hadits ini menunjukkan bolehnya membaca surat panjang dalam shalat, keutamaan Mu'adz, dan keutamaan Nabi Ibrahim sebagai khalilullah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Mu'adz:

QS. An-Nisa' [4]: 125

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Terjemahan: "Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Perang, Bab Pengiriman Abu Musa dan Mu'adz ke Yaman Sebelum Haji Wada', no. 4348. Perawi: 'Amr bin Maimun, dari Sa'id bin Jubair, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Syu'bah, dari Sulaiman bin Harb.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil bolehnya membaca surat panjang dalam shalat Subuh, dan bahwa makmum boleh mengucapkan sesuatu yang bukan bagian dari shalat jika mengandung kebaikan, selama tidak mengubah shalat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa ucapan makmum tersebut adalah bentuk tafahhum (pemahaman) dan kekaguman, bukan celaan.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. An-Nisa' [4]: 125 menjelaskan bahwa "khalil" berarti kekasih yang sempurna kecintaannya, dan Allah mengkhususkan Ibrahim dengan gelar ini sebagai bentuk pemuliaan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu diutus oleh Nabi ﷺ ke Yaman sebagai qadhi (hakim) dan pengajar. Ketika tiba, beliau mengimami shalat Subuh dan membaca surat An-Nisa' — surat yang cukup panjang. Ketika sampai pada ayat 125, seorang lelaki di belakangnya berkata, "قَرَّتْ عَيْنُ أُمِّ إِبْرَاهِيمَ" — "Betapa senangnya ibu Ibrahim!" Ini adalah ungkapan kegembiraan dan kekaguman karena Ibrahim 'alaihissalam mendapat kedudukan mulia sebagai khalilullah.

Pemahaman ulama:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan:
  • Bolehnya membaca surat panjang dalam shalat Subuh, sebagaimana dilakukan Mu'adz.
  • Bolehnya makmum mengucapkan kalimat yang bukan dzikir shalat jika mengandung maslahat, selama tidak mengubah shalat. Ucapan tersebut adalah bentuk tafakkur dan kekaguman, bukan gangguan.
  • Keutamaan Mu'adz bin Jabal sebagai imam dan pengajar.
  1. Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan lelaki tersebut adalah bentuk "tafahhum" — memahami makna ayat dan mengagumi kemuliaan Ibrahim. Beliau juga menyebutkan bahwa ini menunjukkan bolehnya mengucapkan kalimat baik di dalam shalat jika tidak mengubah rukun shalat.
  2. Ibn Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan makna "khalil" secara bahasa: khalil adalah kekasih yang kecintaannya telah meresap ke dalam hati, bukan sekadar cinta biasa. Allah mengkhususkan Ibrahim dengan gelar ini sebagai pemuliaan, dan para ulama sepakat bahwa Ibrahim adalah khalilullah.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ juga menyebut Ibrahim sebagai khalil dalam hadits-hadits lain, dan bahwa gelar ini adalah kekhususan bagi Ibrahim 'alaihissalam.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang hukum berbicara di dalam shalat. Namun mayoritas ulama dari daftar — seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi — menyimpulkan bahwa ucapan tersebut tidak membatalkan shalat karena:

  • Bukan pembicaraan sia-sia.
  • Mengandung dzikir dan pemahaman ayat.
  • Tidak mengubah rukun shalat.

Pendapat yang paling kuat: ucapan tersebut diperbolehkan selama tidak banyak dan tidak mengubah shalat, sebagaimana dipahami dari konteks hadits.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dalam ilmunya. Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ketika diutus ke Yaman, beliau menghadapi kaum yang baru masuk Islam dan perlu diajari. Dalam shalat Subuh, beliau membaca surat An-Nisa' — surat yang panjang — untuk mengajarkan tauhid dan hukum. Ketika sampai pada ayat tentang Ibrahim sebagai khalil, seorang lelaki Yaman spontan berkata, "Betapa senangnya ibu Ibrahim!" — menunjukkan bahwa hatinya tersentuh oleh kemuliaan Ibrahim. Mu'adz tidak menegurnya, karena ucapan itu adalah bentuk kekaguman dan pemahaman, bukan gangguan. Ini menunjukkan adab Mu'adz yang lembut dan pemahaman beliau bahwa makmum boleh mengucapkan kalimat baik selama tidak mengubah shalat.

Hikmah: Seorang dai dan imam hendaknya memahami keadaan makmum, dan makmum hendaknya menjaga adab dalam shalat. Kekaguman terhadap ayat Al-Qur'an adalah tanda hati yang hidup.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh membaca surat panjang dalam shalat Subuh, sebagaimana dilakukan Mu'adz bin Jabal, terutama jika ada maslahat pengajaran.
  2. Makmum boleh mengucapkan kalimat baik di dalam shalat jika mengandung dzikir atau pemahaman ayat, selama tidak banyak dan tidak mengubah shalat.
  3. Keutamaan Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagai khalilullah adalah kedudukan mulia yang Allah khususkan baginya.
  4. Adab imam terhadap makmum: Mu'adz tidak menegur ucapan tersebut, menunjukkan lembutnya sikap beliau.
  5. Hendaknya kita mengagumi ayat Al-Qur'an dan merenungkan maknanya, karena itu tanda hati yang hidup dan iman yang kuat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?