Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan momen bersejarah saat Rasulullah ﷺ membebaskan kota Mekkah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ, bahkan kepada musuh yang paling keras sekalipun. Beliau membantah perkataan Sa'd bin 'Ubadah yang ingin membalas dendam, dan menegaskan bahwa hari itu adalah hari pemuliaan Ka'bah, bukan hari pertumpahan darah. Ini adalah bukti bahwa kemenangan dalam Islam harus diiringi dengan kasih sayang dan pengampunan, bukan kesombongan dan balas dendam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab "Di Mana Nabi ﷺ Menancapkan Bendera Pada Hari Pembebasan", nomor 4280. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Fath [48]: 1-2:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus."
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Mekkah), sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya.
Hadits terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ، وَعَنْ يَمِينِهِ الزُّبَيْرُ، وَعَنْ شِمَالِهِ عَلِيٌّ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ أُسَامَةُ، قَالَ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَنْزِلُ فِي دَارِكَ؟" قَالَ: "وَهَلْ تَرَكَ عَقِيلٌ مِنْ دَارٍ؟" ثُمَّ قَالَ: "لَا يَرِثُنِي عَقِيلٌ وَلَا طَالِبٌ، إِنَّمَا يَرِثُنِي جَعْفَرٌ وَعَلِيٌّ"
"Ketika Rasulullah ﷺ memasuki Mekkah pada hari pembebasan, di sebelah kanannya Az-Zubair, di sebelah kirinya Ali, dan di depannya Usamah. Beliau ditanya: 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau singgah di rumahmu?' Beliau menjawab: 'Apakah Aqil meninggalkan rumah untuk kita?' Kemudian beliau bersabda: 'Aqil dan Thalib tidak mewarisiku, yang mewarisiku hanyalah Ja'far dan Ali.'" (HR. Muslim)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak pelajaran penting. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa peristiwa Fathu Makkah adalah salah satu bukti terbesar kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya.
Pertama: Kelembutan Nabi ﷺ dalam Kemenangan
Ketika Sa'd bin 'Ubadah radhiyallahu 'anhu—yang merupakan pemimpin kaum Anshar—mengucapkan perkataan yang keras kepada Abu Sufyan: "Hari ini adalah hari pertempuran besar, hari ini Ka'bah akan dihalalkan," maka Nabi ﷺ segera membantahnya. Beliau bersabda: "Sa'd berbohong, tetapi hari ini Allah akan memuliakan Ka'bah dan hari ini Ka'bah akan ditutupi dengan penutup."
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membantah perkataan Sa'd ini karena beliau ingin menegaskan bahwa penaklukan Mekkah bukanlah untuk balas dendam atau pertumpahan darah, melainkan untuk memuliakan Baitullah dan membersihkannya dari kemusyrikan. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ yang agung.
Kedua: Sikap Tawadhu Nabi ﷺ
Meskipun Nabi ﷺ adalah pemimpin tertinggi dan sedang dalam keadaan menang, beliau tetap bersikap rendah hati. Beliau tidak memasuki Mekkah dengan kesombongan, melainkan dengan ketundukan kepada Allah. Beliau bahkan menundukkan kepalanya saat memasuki Mekkah sebagai bentuk syukur dan kerendahan hati di hadapan Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat lain.
Ketiga: Hikmah Penancapan Bendera
Nabi ﷺ memerintahkan agar benderanya ditancapkan di Al-Hajun, sebuah tempat di dekat Mekkah. Ini menunjukkan bahwa dalam setiap urusan besar, perlu ada simbol dan tanda yang jelas. Namun yang lebih penting, penancapan bendera ini juga menjadi tanda bahwa kemenangan itu milik Allah, bukan milik individu atau kelompok tertentu.
Keempat: Pelajaran tentang Ukhuwwah dan Persatuan
Dalam hadits ini, kita melihat bagaimana berbagai kabilah dan suku berbaris dengan tertib di hadapan Abu Sufyan. Ini menunjukkan persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa persatuan ini adalah buah dari keimanan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kelima: Sikap Nabi ﷺ terhadap Musuh yang Menyerah
Ketika Abu Sufyan ditangkap dan kemudian memeluk Islam, Nabi ﷺ tidak mempermalukannya, bahkan memberinya kehormatan dengan memintanya menyaksikan pasukan Muslimin. Ini adalah bentuk hilm (kelembutan) dan afw (memaafkan) yang diajarkan Islam. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ ini adalah untuk melunakkan hati Abu Sufyan dan kaumnya agar mereka menerima Islam dengan baik.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ memasuki Mekkah pada hari pembebasan, beliau dalam keadaan menundukkan kepala di atas untanya, dan kemenangan itu tidak membuat beliau sombong. Para sahabat melihat beliau begitu khusyuk beribadah kepada Allah, hingga air mata mengalir karena syukur.
Saat itu, orang-orang Quraisy yang dahulu menyiksa dan mengusir beliau berdiri di hadapannya dengan ketakutan. Mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Nabi ﷺ terhadap mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda dengan penuh kasih sayang:
اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
"Pergilah kalian, kalian semua bebas (tidak akan ditawan atau dibunuh)." (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan-nya)
Inilah akhlak agung yang diajarkan Islam. Kemenangan tidak membuat Nabi ﷺ lupa diri, justru semakin meningkatkan ketawadhuannya kepada Allah dan kasih sayangnya kepada manusia.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam kemenangan — ketika kita diberi kemenangan atau keberhasilan, janganlah menjadi sombong atau ingin membalas dendam, tetapi jadilah pemaaf dan rendah hati.
- Menjaga lisan dari perkataan yang memprovokasi — perkataan Sa'd bin 'Ubadah yang keras segera dibantah oleh Nabi ﷺ. Ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam berkata-kata, terutama saat dalam keadaan emosi atau kemenangan.
- Memuliakan tempat-tempat suci — Nabi ﷺ menegaskan bahwa hari itu adalah hari pemuliaan Ka'bah, bukan hari pertumpahan darah. Ini mengajarkan kita untuk menghormati kesucian tempat ibadah.
- Menjaga persatuan umat — peristiwa ini menunjukkan kekuatan persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan yang benar. Kita harus menjaga ukhuwwah Islamiyyah dalam segala keadaan.
- Memaafkan musuh yang menyerah — sikap Nabi ﷺ terhadap Abu Sufyan dan penduduk Mekkah adalah teladan terbaik dalam memaafkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.