Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4091 tentang Kisah pengiriman tujuh puluh sahabat dan tipu daya musuh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa besar dan menyedihkan dalam sejarah Islam, yaitu terbunuhnya 70 orang sahabat pilihan yang diutus Nabi ﷺ untuk berdakwah dan mengajarkan Islam kepada suku-suku yang meminta bimbingan. Mereka dikhianati dan dibunuh secara keji oleh suku 'Ril, Dhakwan, dan 'Ushayyah'. Kisah ini menunjukkan keteguhan iman para sahabat yang lebih memilih mati syahid daripada selamat tanpa menyampaikan risalah, serta kesedihan dan doa Nabi ﷺ terhadap orang-orang yang mengkhianati utusan beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang (Al-Maghazi), Bab Perang Raji' dan Ri'l serta Dhakwan dan Sumur Ma'una, no. 4091, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Peristiwa ini menjadi sebab turunnya firman Allah tentang orang-orang yang terbunuh di jalan-Nya:

QS. Ali 'Imran [3]: 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

Kaitan dengan Ulama:

Peristiwa ini dijelaskan oleh para ulama ahli hadits dan sejarah dari kalangan yang disebutkan, di antaranya:

  • Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab Al-Maghazi).
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (jilid 4) dan Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. Ali 'Imran [3]: 169.
  • Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari, jilid 7, Kitab Al-Maghazi).
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Al-Jihad wa As-Siyar).

Penjelasan Rinci

Konteks Peristiwa:

Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa Bi'r Ma'unah (Sumur Ma'unah). Disebutkan oleh para ulama bahwa setelah Perang Uhud, datanglah Abu Bara' 'Amir bin Malik (paman dari 'Amir bin Tufail) kepada Nabi ﷺ dan meminta beliau mengirimkan utusan dakwah kepada penduduk Najd. Nabi ﷺ mengirimkan 70 orang sahabat pilihan dari kalangan Ahlus Shuffah (para sahabat yang tinggal di serambi masjid), dipimpin oleh pamannya sendiri, Al-Mundzir bin 'Amr (saudara Ummu Sulaim) radhiyallahu 'anhu.

Tawaran 'Amir bin Tufail:

'Amir bin Tufail, pemimpin Bani 'Amir, menawarkan tiga pilihan kepada Nabi ﷺ:

  1. Penduduk kota (pedalaman) di bawah kekuasaannya dan penduduk kota (Madinah) di bawah kekuasaan Nabi ﷺ.
  2. Ia menjadi pengganti (khalifah) Nabi ﷺ.
  3. Ia akan menyerang Nabi ﷺ dengan dua ribu pasukan Bani Ghathafan.

Namun Allah melindungi Nabi ﷺ dari kejahatannya. 'Amir bin Tufail terkena penyakit kelenjar (gudah) dan mati di atas kudanya sebelum sempat menyerang.

Pengkhianatan dan Kesyahidan Para Sahabat:

Ketika rombongan sahabat tiba di Bi'r Ma'unah, mereka disambut oleh Haram bin Milhan (saudara Ummu Sulaim) yang membawa surat dari Rasulullah ﷺ. Namun sebelum surat itu dibacakan, ia ditikam dari belakang oleh seorang penunggu kuda. Haram pun mengucapkan kalimat yang agung:

"الله أكبر، فزت ورب الكعبة"

"Allahu Akbar, demi Tuhan Ka'bah, aku telah beruntung (menang)!"

Ia gugur sebagai syahid. Kemudian para sahabat lainnya dikepung dan dibunuh secara keji, kecuali Ka'ab bin Zaid (yang pincang) yang selamat karena berada di puncak gunung.

Ayat yang Pernah Turun Kemudian Dinaskh:

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Allah menurunkan ayat yang kemudian termasuk yang dinaskh (dihapus bacaannya namun tetap berlaku hukumnya):

"إنا قد لقينا ربنا فرضي عنا وأرضانا"

"Sesungguhnya kami telah bertemu dengan Tuhan kami, dan Dia ridha kepada kami serta menjadikan kami ridha."

Ayat ini menunjukkan kedudukan mulia para syuhada di sisi Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini termasuk yang dibaca pada masa awal Islam kemudian dihapus bacaannya, tetapi maknanya tetap benar dan sesuai dengan QS. Ali 'Imran [3]: 169.

Doa Nabi ﷺ:

Nabi ﷺ sangat bersedih atas peristiwa ini. Beliau mendoakan keburukan atas suku-suku yang berkhianat selama 30 hari di dalam shalat, yaitu: Ri'l, Dhakwan, Bani Lihyan, dan 'Ushayyah yang telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

Hikmah dari Kisah Ini:

  1. Keutamaan mati syahid: Para sahabat ini adalah orang-orang yang benar-benar ikhlas. Mereka tidak berperang karena harta atau kedudukan, tetapi murni untuk menyampaikan risalah Allah. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.
  2. Kesabaran Nabi ﷺ: Meskipun sangat sedih, Nabi ﷺ tetap bersabar dan hanya mendoakan mereka, tidak membalas dengan kebencian yang melampaui batas.
  3. Bahaya pengkhianatan: Kisah ini mengajarkan bahwa pengkhianatan terhadap utusan dakwah adalah dosa besar yang dimurkai Allah.

Story Telling

Dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah: Ketika Haram bin Milhan ditikam dari belakang, ia tidak mengeluh atau marah. Justru ia tersenyum dan mengucapkan, "Allahu Akbar, fuztu wa rabbil Ka'bah!" (Aku menang, demi Tuhan Ka'bah!).

Seorang sahabat yang menyaksikan dari kejauhan bertanya-tanya dalam hatinya, "Apa yang ia menangkan?" Padahal saat itu ia sedang ditikam dan darahnya mengalir. Namun Haram mengetahui bahwa kematiannya adalah jalan menuju surga. Ia tidak takut mati, karena ia yakin apa yang ia bawa adalah kebenaran.

Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau sangat sedih. Para sahabat melihat air mata beliau mengalir. Namun beliau tidak marah secara berlebihan, melainkan mendoakan mereka yang berkhianat selama 30 hari. Ini mengajarkan kita bahwa kesedihan adalah hal yang wajar, tetapi kita harus tetap menjaga adab dan tidak melampaui batas dalam membalas.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam berdakwah: Para sahabat tidak mencari keuntungan dunia. Mereka siap mati demi menyampaikan kebenaran. Kita harus meneladani keikhlasan mereka dalam setiap amal.
  2. Yakin akan balasan Allah: Kematian di jalan Allah bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan sejati. Jangan takut mati dalam kebenaran.
  3. Menjaga amanah: Pengkhianatan adalah dosa besar. Kita harus selalu menepati janji dan amanah, baik kepada Allah maupun sesama manusia.
  4. Bersabar dalam musibah: Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak membalas dengan cara yang melampaui batas. Doa adalah senjata orang mukmin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.