Penjelasan Hadits Bukhari No. 4066 tentang Pembelaan Ibnu Umar atas Utsman bin Affan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi pembelaan tegas Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma terhadap Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan sebagian orang. Ibn Umar menjelaskan bahwa ketidakhadiran Utsman dalam Perang Badr dan Bai'at Ridwan memiliki alasan yang sah dan justru menunjukkan keutamaannya, sedangkan pelariannya di Perang Uhud telah diampuni Allah. Hadits ini mengajarkan adab dalam berbicara tentang sahabat Nabi ﷺ dan pentingnya meneliti kebenaran sebelum menyebarkan tuduhan.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an yang berkaitan dengan pengampunan pada Perang Uhud:

QS. Ali 'Imran [3]: 155

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari bertemunya dua pasukan (Perang Uhud), sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan karena sebagian kesalahan yang mereka perbuat. Sungguh, Allah telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."

Hadits terkait — dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Perang, Bab Perkataan Allah Ta'ala, no. 4066. Hadits ini juga memiliki jalur lain dalam Shahih Al-Bukhari dan disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan keutamaan Utsman bin Affan.

Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas tentang keutamaan Utsman bin Affan dan bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan keutamaan Utsman dan menjelaskan konteks Bai'at Ridwan.

Penjelasan Rinci

Latar belakang hadits: Seorang lelaki datang berhaji lalu bertemu Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, salah satu sahabat yang paling berilmu dan paling berhati-hati dalam berfatwa. Lelaki itu mengajukan tiga pertanyaan yang tampak seperti tuduhan terhadap Utsman bin Affan:

  1. Apakah benar Utsman melarikan diri pada Perang Uhud?
  2. Apakah benar Utsman tidak ikut Perang Badr?
  3. Apakah benar Utsman tidak hadir dalam Bai'at Ridwan?

Ibn Umar menjawab "ya" untuk ketiga hal itu secara faktual, tetapi kemudian menjelaskan konteks dan bantahannya. Ini menunjukkan metode ilmiah: mengakui fakta, lalu menjelaskan sebab dan kedudukannya.

Pertama: Pelarian pada Perang Uhud. Ibn Umar bersaksi bahwa Allah telah mengampuni mereka yang berpaling pada hari Uhud, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 155. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para sahabat yang gugup dan mundur pada Perang Uhud, dan Allah secara tegas menyatakan pengampunan-Nya. Ibnu Hajar menambahkan bahwa Ibn Umar sengaja memulai dengan pengampunan Allah agar tuduhan itu tidak dijadikan senjata.

Kedua: Ketidakhadiran pada Perang Badr. Utsman tidak ikut karena merawat Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ, putri Nabi yang menjadi istrinya, yang sedang sakit keras. Nabi ﷺ sendiri yang memerintahkan Utsman untuk tinggal, dan menjanjikan pahala orang yang ikut Badr beserta bagian ghanimahnya. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah keutamaan besar bagi Utsman: ia mendapat pahala mujahid Badr tanpa harus meninggalkan kewajiban merawat putri Nabi.

Ketiga: Ketidakhadiran pada Bai'at Ridwan. Bai'at Ridwan terjadi ketika Nabi ﷺ dan para sahabat hendak umrah, lalu dihalangi oleh Quraisy. Nabi ﷺ mengutus Utsman ke Mekkah sebagai juru bicara karena Utsman memiliki kedudukan terhormat di kalangan Quraisy. Ketika Utsman pergi, tersiar kabar bahwa ia dibunuh, sehingga Nabi ﷺ mengambil bai'at dari para sahabat. Karena Utsman sedang bertugas, Nabi ﷺ mengangkat tangan kanannya dan bersabda: "Inilah tangan Utsman," lalu menepukkannya ke tangan beliau yang lain, sebagai simbol bahwa Utsman ikut dalam bai'at tersebut. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah keutamaan khusus yang tidak dimiliki sahabat lain.

Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai keutamaan Utsman dan kebenaran penjelasan Ibn Umar. Yang ada hanyalah tuduhan dari kelompok-kelompok menyimpang di luar Ahlus Sunnah, yang dibantah oleh Ibnu Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala'. Yang paling kuat dan sesuai dalil adalah penjelasan Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma sebagaimana dikuatkan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ketika ditanya tentang Utsman dengan nada menuduh, tidak marah dan tidak menghardik. Beliau justru berkata: "Ayo, aku akan memberitahumu dan menjelaskan kepadamu." Ini adalah adab salaf: menjawab tuduhan dengan ilmu, bukan dengan emosi. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa sikap lembut dan penjelasan yang jelas adalah jalan para ulama dalam membela kebenaran.

Dalam riwayat lain, ketika seorang bertanya kepada Ibn Umar tentang Utsman, beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan Utsman dan berkata bahwa Utsman adalah orang yang paling dicintai Nabi ﷺ setelah Abu Bakar dan Umar. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menukil bahwa para sahabat sepakat atas keutamaan Utsman dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mencela beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menuduh tanpa ilmu. Sebelum menilai seseorang, teliti konteks dan sebabnya, sebagaimana Ibn Umar menjelaskan konteks tiga tuduhan terhadap Utsman.
  2. Bela kehormatan sahabat Nabi ﷺ. Mencela sahabat, terutama Utsman bin Affan, adalah tanda penyimpangan. Ibnu Taymiyyah menegaskan bahwa mencela sahabat adalah pintu masuk kepada kekafiran.
  3. Akui fakta, jelaskan hikmah. Ibn Umar mengakui ketidakhadiran Utsman, tetapi menjelaskan sebab dan keutamaannya. Ini metode ilmiah yang jujur.
  4. Beradab dalam berbicara. Gunakan bahasa lembut, tidak menghakimi, dan fokus pada penjelasan, bukan pada menyerang pribadi.
  5. Pelajari sejarah Islam dari sumber terpercaya. Rujuklah kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah seperti Fathul Bari, Syarh Shahih Muslim, Siyar A'lam an-Nubala', dan Minhaj as-Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?