Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua bagian penting. Pertama, Nabi ﷺ menyatakan bahwa seandainya Al-Muth'im bin 'Adi masih hidup dan meminta kepada beliau untuk membebaskan para tawanan Badr, maka beliau akan membebaskan mereka karena Al-Muth'im pernah berjasa melindungi Nabi ﷺ di masa sulit. Kedua, Sa'id bin Al-Musayyib (seorang Tabi'in) menjelaskan bahwa setiap generasi sahabat yang mulia (ahli Badr, lalu ahli Hudaibiyah) berangsur-angsur wafat seiring terjadinya fitnah-fitnah besar, hingga fitnah ketiga yang menghabiskan kekuatan manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang (Kitab Al-Maghazi), dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari ayahnya (Jubair bin Muth'im) radhiyallahu 'anhu.
Adapun bagian kedua hadits, Imam Al-Bukhari menyebutkan perkataan Sa'id bin Al-Musayyib melalui jalur Al-Laits dari Yahya (bin Sa'id Al-Anshari) dari Sa'id bin Al-Musayyib.
Hadits terkait yang memperkuat keutamaan Al-Muth'im bin 'Adi:
Dari Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang tawanan Badr:
لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ
"Seandainya Al-Muth'im bin 'Adi masih hidup, kemudian ia berbicara kepadaku tentang orang-orang yang berbau busuk ini (para tawanan Badr), niscaya aku akan membebaskan mereka untuknya."
(HR. Al-Bukhari no. 4024)
Penjelasan Rinci
Makna bagian pertama hadits:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Al-Muth'im bin 'Adi adalah seorang pemuka Quraisy yang meskipun belum masuk Islam, namun memiliki jasa besar terhadap Nabi ﷺ. Di antaranya, beliau pernah menjadi pelindung Nabi ﷺ ketika kaum Quraisy hendak menyakiti beliau, dan beliau juga berperan dalam upaya pembatalan boikot terhadap Bani Hasyim. Al-Muth'im juga yang menyampaikan pesan kepada Nabi ﷺ saat perjanjian Hudaibiyah.
Nabi ﷺ menyebut para tawanan dengan kata النَّتْنَى (an-natna) yang berarti "yang berbau busuk" — ini adalah bentuk penghinaan terhadap kekafiran dan kesombongan mereka, bukan penghinaan terhadap pribadi mereka. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan bolehnya mencela kekafiran dan para pelakunya.
Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang membalas kebaikan orang kafir yang berbuat baik kepada kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mumtahanah [60]: 8:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
Makna bagian kedua hadits (perkataan Sa'id bin Al-Musayyib):
Sa'id bin Al-Musayyib (wafat 94 H), seorang Tabi'in besar dan salah satu fuqaha Madinah yang paling terkemuka, menjelaskan bahwa:
- Fitnah pertama — yaitu pembunuhan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu (35 H). Setelah peristiwa ini, tidak tersisa seorang pun dari ahli Badr yang masih hidup.
- Fitnah kedua — yaitu perang Al-Harra (63 H), ketika pasukan Yazid bin Mu'awiyah menyerang Madinah. Setelah peristiwa ini, tidak tersisa seorang pun dari ahli Hudaibiyah (para sahabat yang ikut Bai'at Ridhwan).
- Fitnah ketiga — yaitu fitnah yang lebih luas (sebagian ulama menyebutnya fitnah Ibnu Zubair atau fitnah-fitnah setelahnya), yang tidak reda sampai menghabiskan kekuatan manusia.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Sa'id bin Al-Musayyib ini menunjukkan keutamaan ahli Badr dan ahli Hudaibiyah, serta bahwa generasi terbaik umat ini berangsur-angsur wafat seiring munculnya fitnah. Ini juga isyarat bahwa fitnah-fitnah besar terjadi setelah generasi terbaik itu pergi.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa Al-Harra adalah musibah besar bagi Madinah, dan setelah itu tidak tersisa para sahabat senior yang menjadi benteng umat.
Story Telling
Al-Muth'im bin 'Adi adalah salah satu pemuka Quraisy yang memiliki kedudukan tinggi. Ketika Nabi ﷺ berdakwah di Mekah dan mendapat tekanan keras dari kaum Quraisy, Al-Muth'im termasuk orang yang menolak menyakiti Nabi ﷺ secara fisik. Bahkan, ketika kaum Quraisy menulis piagam boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib, Al-Muth'im termasuk yang berusaha menghapus piagam tersebut.
Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah dan terjadi Perang Badr, Al-Muth'im sudah wafat dalam keadaan belum masuk Islam. Namun Nabi ﷺ tetap mengingat kebaikannya. Ketika para tawanan Badr — termasuk kerabat-kerabat mereka — dibawa menghadap Nabi ﷺ, beliau mengucapkan sabdanya yang penuh hikmah itu.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Jubair bin Muth'im (putra Al-Muth'im) kemudian masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa kebaikan orang tua dapat menjadi sebab hidayah bagi anaknya.
Sa'id bin Al-Musayyib sendiri adalah salah satu dari tujuh fuqaha Madinah. Beliau hidup melewati berbagai fitnah besar dan menyaksikan bagaimana generasi sahabat terbaik berangsur-angsur wafat. Perkataannya ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi peringatan bahwa fitnah akan datang silih berganti, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang kekuatannya terkuras oleh fitnah tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Balaslah kebaikan dengan kebaikan, bahkan kepada orang yang belum beriman. Nabi ﷺ mengakui jasa Al-Muth'im bin 'Adi meskipun ia belum masuk Islam.
- Keutamaan ahli Badr dan ahli Hudaibiyah sangat tinggi. Mereka adalah generasi terbaik yang menjadi benteng umat Islam.
- Fitnah akan datang silih berganti. Setiap kali satu fitnah berlalu, akan datang fitnah berikutnya. Yang menyelamatkan adalah iman, ilmu, dan keteguhan di atas sunnah.
- Hendaknya kita mengambil pelajaran dari generasi terbaik dan berusaha meneladani mereka dalam keimanan, keteguhan, dan pengorbanan.
- Jangan mencela pribadi orang kafir secara berlebihan, tetapi boleh mencela kekafiran dan kesombongannya, sebagaimana Nabi ﷺ menyebut para tawanan dengan sifat mereka yang sombong.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.