Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kisah sepuluh sahabat yang diutus Nabi ﷺ sebagai mata-mata, lalu dikhianati oleh Bani Lihyan. Di antara mereka, 'Ashim bin Tsabit tetap teguh dan syahid, sementara Khubaib bin 'Adi dan Zaid bin ad-Datsinah ditawan lalu dijual ke Mekkah dan akhirnya dibunuh. Kisah ini mengajarkan keteguhan iman, menepati janji, dan keutamaan shalat dua rakaat sebelum syahid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (Perang), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini termasuk kisah besar yang menunjukkan keutamaan para syuhada dan mukjizat Nabi ﷺ.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keteguhan dan kesabaran:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
QS. Ali 'Imran [3]: 169
Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini turun berkaitan dengan para syuhada, termasuk kisah-kisah seperti ini, bahwa ruh mereka hidup dan diberi rezeki di sisi Allah.
Hadits ini juga berkaitan dengan sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan shalat dua rakaat sebelum dibunuh, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bahwa Khubaib adalah orang pertama yang mencontohkan shalat dua rakaat sebelum eksekusi bagi tawanan Muslim.
Penjelasan Rinci
Kisah ini bermula ketika Nabi ﷺ mengutus sepuluh sahabat di bawah pimpinan 'Ashim bin Tsabit al-Anshari untuk suatu tugas pengintaian. Di tengah jalan, mereka diketahui oleh Bani Lihyan dari suku Hudzail, yang mengirim sekitar seratus pemanah untuk mengejar mereka. Ketika terdesak, 'Ashim dan para sahabatnya berlindung di tempat tinggi.
Bani Lihyan menawarkan janji perlindungan agar mereka turun dan menyerah. Namun 'Ashim dengan tegas menolak, beliau berkata: "Aku tidak akan turun untuk berlindung kepada orang kafir." Ini menunjukkan keutamaan izzah (kemuliaan) seorang mukmin, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad bahwa seorang mukmin tidak boleh merendahkan dirinya dengan berlindung kepada musuh agama.
'Ashim kemudian berdoa: "Ya Allah, beritahukanlah kepada Nabi-Mu tentang keadaan kami." Doa ini dikabulkan, dan Nabi ﷺ memberitahu para sahabat tentang peristiwa tersebut pada hari yang sama — ini adalah salah satu mukjizat kenabian yang disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Tiga orang turun dengan janji perlindungan: Khubaib, Zaid bin ad-Datsinah, dan seorang lelaki lain. Namun begitu mereka turun, Bani Lihyan melanggar janji dan mengikat mereka dengan tali busur. Lelaki ketiga menyadari pengkhianatan ini dan menolak ikut, beliau berkata: "Ini adalah pengkhianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan ikut kalian, karena aku memiliki teladan pada mereka yang telah syahid." Beliau pun dibunuh di tempat.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sikap lelaki ini menunjukkan kewaspadaan terhadap pengkhianatan dan keutamaan mati syahid daripada hidup dalam kehinaan.
Khubaib dan Zaid kemudian dijual di Mekkah setelah Perang Badr. Khubaib dibeli oleh Bani al-Harits bin 'Amir karena Khubaib telah membunuh ayah mereka di Badr. Selama ditawan, Khubaib menunjukkan akhlak mulia. Putri al-Harits menceritakan bahwa ia pernah melihat Khubaib makan anggur segar padahal ia terikat rantai besi dan saat itu tidak ada buah di Mekkah — ini adalah karomah (kemuliaan) yang Allah berikan kepadanya, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Hajar.
Ketika mereka hendak membunuhnya di luar tanah haram, Khubaib meminta izin shalat dua rakaat. Setelah shalat, beliau berdoa: "Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu, bunuhlah mereka, dan jangan tinggalkan seorang pun." Doa ini dikabulkan, dan tidak lama kemudian banyak dari mereka yang tewas. Kemudian Khubaib melantunkan syair: "Aku tidak peduli di sisi mana aku dibunuh sebagai Muslim, karena kematianku adalah untuk Allah."
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kisah Khubaib menunjukkan keutamaan shalat dua rakaat sebelum syahid, dan menjadi sunnah bagi kaum Muslimin yang akan dibunuh secara zalim.
Adapun 'Ashim, ketika orang Quraisy ingin mengambil bagian tubuhnya untuk memastikan kematiannya (karena ia membunuh pemimpin mereka di Badr), Allah mengirimkan sekawanan tawon yang melindungi jenazahnya. Ini adalah karomah lain yang disebutkan Imam al-Bukhari dan dijelaskan Ibnu Hajar sebagai bentuk pemuliaan Allah bagi hamba-Nya yang syahid.
Story Telling
Diceritakan bahwa putri al-Harits bin 'Amir, wanita yang pernah meminjamkan pisau kepada Khubaib, berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah melihat tawanan yang lebih baik dari Khubaib. Aku pernah melihatnya makan anggur dari tangannya padahal ia terikat rantai besi, dan saat itu tidak ada buah di Mekkah." Ia menyadari bahwa itu adalah rezeki yang Allah berikan kepada Khubaib.
Ketika Khubaib hendak dibunuh, ia meminta waktu untuk shalat dua rakaat. Setelah selesai, ia berkata: "Demi Allah, seandainya bukan karena kalian akan mengira aku takut, aku akan menambah shalatku." Lalu ia berdoa dengan doa yang mengguncang langit, dan tidak lama setelah itu, banyak dari mereka yang tewas dalam keadaan mengenaskan.
Kisah ini menjadi pelajaran bagi para sahabat, dan Nabi ﷺ sendiri memberitahu mereka tentang peristiwa ini pada hari yang sama. Ini menunjukkan betapa Allah menjaga dan memuliakan para syuhada, serta mengabulkan doa hamba-Nya yang teraniaya.
Kesimpulan Praktis
- Teguh dalam iman — Seperti 'Ashim, jangan pernah merendahkan diri dengan berlindung kepada musuh agama dalam hal yang haram.
- Menepati janji — Bani Lihyan melanggar janji, dan ini menunjukkan bahwa pengkhianatan adalah sifat tercela.
- Keutamaan shalat sebelum syahid — Khubaib mencontohkan shalat dua rakaat sebelum dibunuh, dan ini menjadi sunnah bagi kaum Muslimin.
- Karomah para wali Allah — Allah memberikan kemuliaan kepada hamba-Nya yang shalih, seperti anggur yang diberikan kepada Khubaib dan tawon yang melindungi 'Ashim.
- Doa orang teraniaya — Doa Khubaib dikabulkan, menunjukkan bahwa doa orang yang dizalimi mustajab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.