Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan keberanian Az-Zubair bin al-'Awwam radhiyallahu 'anhu pada Perang Yarmuk: beliau menembus barisan musuh sendirian setelah para sahabat berjanji akan menyusul, lalu kembali dengan dua luka di bahunya — salah satunya bekas lama dari Perang Badr. Hadits ini mengajarkan keberanian, kejujuran, dan kesetiaan dalam jihad, serta menjadi dalil bahwa bekas luka di jalan Allah adalah kemuliaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ahzab [33]: 23
وَمِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
Terjemahan: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang masih menunggu; dan mereka tidak mengubah (janjinya)."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (Perang), Bab Qatl Abi Jahl, no. 3975. Sanadnya: Ahmad bin Muhammad → Abdullah (bin al-Mubarak) → Hisyam bin 'Urwah → dari ayahnya ('Urwah bin az-Zubair).
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits-hadits tentang keutamaan Az-Zubair, termasuk sabda Nabi ﷺ: "Setiap nabi memiliki hawari (penolong setia), dan hawariku adalah Az-Zubair bin al-'Awwam." (diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim).
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil keutamaan Az-Zubair dan keberaniannya yang luar biasa, serta menyebutkan bahwa 'Urwah bin az-Zubair (perawi hadits ini) adalah putra Az-Zubair sendiri, sehingga riwayat ini sangat kuat karena berasal dari keluarga langsung.
- Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah Yarmuk dan keberanian Az-Zubair sebagai salah satu contoh keutamaan sahabat.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa bekas luka di jalan Allah adalah tanda kemuliaan, bukan cela.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Keberanian Az-Zubair bin al-'Awwam
Para sahabat bertanya kepada Az-Zubair: "Apakah kamu akan menyerang musuh agar kami menyerang bersamamu?" Ini menunjukkan bahwa mereka mengakui keberanian Az-Zubair dan ingin mengikutinya. Namun Az-Zubair menjawab dengan jujur: "Jika saya menyerang, kalian tidak akan mendukung saya." Ini bukanlah tuduhan, melainkan penilaian realistis berdasarkan pengalaman — karena dalam peperangan, janji untuk menyusul seringkali tidak terwujud karena berbagai faktor.
2. Kejujuran dan kesetiaan para sahabat
Meskipun Az-Zubair meragukan dukungan mereka, para sahabat tetap berjanji: "Tidak, kami akan mendukungmu." Ini menunjukkan akhlak mereka yang mulia — mereka tidak tersinggung, tetapi justru berusaha membuktikan kesetiaan.
3. Tembusnya barisan musuh
Az-Zubair benar-benar menyerang sendirian dan berhasil menembus barisan Bizantium. Ini adalah keberanian luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang yang hatinya penuh iman. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah salah satu bukti keutamaan Az-Zubair yang disebut Nabi ﷺ sebagai hawari (penolong setia) beliau.
4. Dua luka di bahu
Ketika Az-Zubair kembali, musuh memegang kendali kudanya dan memukulnya dua kali di bahunya. Di antara dua luka itu ada bekas luka dari Perang Badr. Ini menunjukkan bahwa Az-Zubair telah berjihad sejak awal Islam dan terus berjuang hingga akhir hayatnya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa bekas luka di jalan Allah adalah tanda kemuliaan di dunia dan akhirat.
5. 'Urwah bin az-Zubair dan kenangan masa kecil
'Urwah (perawi hadits ini) menceritakan bahwa ketika masih kecil, ia biasa memasukkan jari-jarinya ke dalam bekas luka ayahnya sambil bermain. Ini menunjukkan kedekatan seorang anak dengan ayahnya, dan bagaimana 'Urwah tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kisah kepahlawanan Islam.
6. Abdullah bin az-Zubair ikut serta
Pada hari itu, Abdullah bin az-Zubair (putra Az-Zubair) juga ikut serta meskipun baru berusia sepuluh tahun. Az-Zubair mengangkatnya di atas kuda dan menyerahkannya kepada seseorang untuk dijaga. Ini menunjukkan bahwa Az-Zubair mendidik anaknya sejak dini untuk mengenal jihad, namun tetap memperhatikan keselamatannya.
Perbedaan pendapat ulama:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keutamaan Az-Zubair dan keberaniannya. Semua sepakat bahwa beliau adalah salah satu sahabat terbaik dan termasuk yang dijamin masuk surga.
Story Telling
Kisah Az-Zubair bin al-'Awwam: Hawari Rasulullah ﷺ
Az-Zubair bin al-'Awwam radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam. Beliau adalah putra dari Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi ﷺ, sehingga beliau masih kerabat dekat Rasulullah ﷺ.
Sejak kecil, Az-Zubair dikenal sebagai pemuda yang kuat dan pemberani. Beliau adalah orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah ketika mendengar kabar bahwa Nabi ﷺ akan dibunuh. Ketika itu, beliau masih sangat muda, namun hatinya sudah penuh dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Pada Perang Badr, Az-Zubair ikut serta dan mendapat luka di bahunya. Luka itu tidak pernah hilang, bahkan menjadi tanda kemuliaan baginya. Pada Perang Yarmuk, ketika beliau sudah berusia lanjut, beliau masih menyerang musuh sendirian dan menembus barisan mereka. Para sahabat yang melihatnya tercengang dengan keberaniannya.
'Urwah bin az-Zubair, putranya, menceritakan bahwa ketika masih kecil, ia sering memasukkan jari-jarinya ke dalam bekas luka ayahnya sambil bermain. Ia tidak menyadari bahwa luka itu adalah tanda kehormatan yang Allah berikan kepada ayahnya di jalan jihad.
Nabi ﷺ pernah bersabda: "Setiap nabi memiliki hawari (penolong setia), dan hawariku adalah Az-Zubair bin al-'Awwam." (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ini adalah pujian tertinggi dari Rasulullah ﷺ yang menunjukkan kedudukan Az-Zubair yang sangat tinggi.
Az-Zubair terus berjihad hingga akhir hayatnya. Beliau syahid dalam sebuah pertempuran dan meninggalkan warisan keberanian serta kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Keberanian dalam kebenaran — Az-Zubair mengajarkan kita untuk berani membela kebenaran meskipun sendirian, selama itu di jalan Allah.
- Kejujuran dalam berbicara — Az-Zubair berkata jujur kepada para sahabat bahwa mereka mungkin tidak akan menyusulnya. Kejujuran adalah akhlak mulia.
- Kesetiaan pada janji — Para sahabat berusaha menepati janji mereka, meskipun pada akhirnya Az-Zubair yang lebih dahulu menyerang.
- Bekas luka di jalan Allah adalah kemuliaan — Jangan malu dengan bekas perjuangan di jalan Allah, karena itu adalah tanda kehormatan.
- Mendidik anak sejak dini — Az-Zubair membawa anaknya Abdullah yang berusia sepuluh tahun ke medan perang untuk mengenalkan jihad, namun tetap menjaga keselamatannya.
- Mengenang jasa para sahabat — Kita harus mengenang dan meneladani para sahabat Nabi ﷺ dalam keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.