Penjelasan Hadits Bukhari No. 3922 tentang Perlindungan Allah saat Nabi dan Abu Bakar di gua

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan momen paling kritis dalam perjalanan hijrah Nabi ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ketika mereka bersembunyi di Gua Tsur dan kaki para pengejar terlihat dari atas. Di saat Abu Bakar cemas, Nabi ﷺ menenangkannya dengan kalimat penuh tawakal: "Diamlah, (karena kita) dua dan Allah yang ketiga dari kita." Hadits ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai hamba yang bertawakal dan beriman, meskipun secara zahir tidak ada jalan keluar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Hijrah Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya ke Madinah, nomor 3922. Perawinya: Anas bin Malik, dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang sangat erat kaitannya dengan hadits ini adalah firman Allah:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

QS. At-Taubah [9]: 40

Terjemah ringkas: "Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya, sedang dia salah seorang dari dua orang (yang bersembunyi) di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan kepada-Nya dan memperkuatnya dengan tentara-tentara yang tidak kamu lihat, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu yang paling rendah. Dan kalimat Allah itulah yang paling tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa di Gua Tsur, dan menjadi dalil keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu karena Allah menyebutnya sebagai "sahabatnya" (shahibahu) dalam konteks yang penuh kemuliaan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan salah satu episode paling menegangkan dalam sejarah Islam: hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah. Setelah kaum Quraisy menyusun rencana pembunuhan, Nabi ﷺ dan Abu Bakar berangkat secara rahasia dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Para pengejar dari Quraisy sampai ke mulut gua, bahkan menurut sebagian riwayat, kaki mereka terlihat dari tempat Nabi ﷺ dan Abu Bakar berada.

Makna ucapan Nabi ﷺ: "Diamlah, wahai Abu Bakar! (Karena kita) dua dan Allah yang ketiga dari kita."

Para ulama menjelaskan makna kalimat ini dengan beberapa poin penting:

Pertama, penegasan tentang ma'iyyatullah (kebersamaan Allah), yaitu kebersamaan berupa pertolongan, dukungan, dan penjagaan, bukan kebersamaan zat Allah dengan makhluk-Nya. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Allah bersama mereka dengan nashr (pertolongan) dan ta'yid (dukungan), sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 40: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."

Kedua, teguran lembut kepada kekhawatiran Abu Bakar. Perlu dipahami bahwa kekhawatiran Abu Bakar bukanlah kekhawatiran atas dirinya sendiri, melainkan kekhawatiran atas keselamatan Nabi ﷺ. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama menjelaskan Abu Bakar khawatir jika Nabi ﷺ terbunuh, maka akan terputuslah risalah dan dakwah. Ini menunjukkan kecintaan Abu Bakar yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan agama.

Ketiga, pelajaran tawakal dan keyakinan akan pertolongan Allah. Nabi ﷺ tidak menjawab dengan strategi duniawi, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah yang Maha Kuasa akan melindungi mereka. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa menegaskan bahwa ini adalah pelajaran tentang husnuzhzhann billah (berbaik sangka kepada Allah) dan tawakal yang sempurna.

Keempat, keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq. Imam Al-Bukhari sengaja menempatkan hadits ini dalam Kitab Keutamaan Ansar, dan para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar yang istimewa, karena ia disebut sebagai "yang kedua" dalam ayat Al-Qur'an, dan Nabi ﷺ menyebut "kita dua" yang menunjukkan kebersamaan dalam pertolongan Allah.

Kaitan dengan hadits lain:

Dalam Shahih Muslim, terdapat hadits dari Abu Bakar sendiri yang lebih panjang, di mana ia menangis dan Nabi ﷺ menenangkannya. Juga dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda tentang Abu Bakar: "Janganlah engkau menyakiti Abu Bakar, karena sesungguhnya Allah bersama kita berdua." Ini menegaskan kedudukan Abu Bakar yang mulia.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama sepakat tentang keutamaan hadits ini dan kedudukan Abu Bakar. Yang mungkin berbeda adalah detail teknis seperti berapa lama mereka di gua, dan siapa yang melihat kaki mereka. Namun inti makna dan pelajarannya tidak ada perbedaan.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa ketika Nabi ﷺ dan Abu Bakar berada di Gua Tsur, datanglah sekelompok orang Quraisy yang mencari mereka. Salah satu dari mereka, menurut sebagian riwayat, adalah Suraqah bin Malik atau orang-orang yang dipimpin oleh Abu Jahal. Mereka berdiri tepat di atas gua, dan Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka dari celah gua.

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata dengan penuh kekhawatiran: "Wahai Nabi Allah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah, mereka akan melihat kita." Namun Nabi ﷺ dengan tenang dan penuh keyakinan menjawab: "Diamlah, wahai Abu Bakar! (Karena kita) dua dan Allah yang ketiga dari kita."

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau biarkan mereka melihat kami." Maka Allah menutup pandangan mereka, dan mereka tidak melihat Nabi ﷺ dan Abu Bakar. Bahkan, menurut sebagian riwayat, seekor laba-laba membuat sarang di mulut gua dan burung merpati bertelur di sana, sehingga orang-orang Quraisy menyangka tidak ada orang yang masuk ke gua itu.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati, Allah akan memberikan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata, di mana Allah melindungi beliau dengan cara yang tidak terlihat oleh musuh-musuh-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi kesulitan dan ketakutan. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang beriman.
  2. Husnuzhzhann billah (berbaik sangka kepada Allah). Jangan pernah putus asa dari rahmat dan pertolongan Allah, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  3. Mencintai Nabi ﷺ dan para sahabatnya, khususnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang telah menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan luar biasa dalam membela Islam.
  4. Menenangkan orang lain dengan kalimat yang baik. Nabi ﷺ menenangkan Abu Bakar dengan kalimat yang penuh iman, bukan dengan kepanikan. Ini adalah adab yang harus kita teladani.
  5. Meyakini bahwa pertolongan Allah itu nyata, meskipun secara zahir tidak ada jalan keluar. Allah bisa menolong hamba-Nya dengan cara yang tidak terduga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?