Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma tidak suka jika ada orang mengatakan bahwa ia berhijrah lebih dahulu daripada ayahnya, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Beliau menegaskan bahwa keduanya datang bersama-sama kepada Nabi ﷺ, dan Umar-lah yang lebih dahulu berbai'at, kemudian beliau menyusul. Ini menunjukkan adab seorang anak terhadap ayahnya, dan bahwa hijrah keduanya terjadi bersamaan, bukan berurutan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Hijrah Nabi ﷺ dan para sahabatnya ke Madinah, nomor 3916, dari jalur Abu Utsman an-Nahdi (Abdurrahman bin Mil) dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan hijrah dan bai'at:
QS. Al-Mumtahanah [60]: 12
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Terjemahan: "Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbai'at kepadamu bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan melakukan kebohongan yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah bai'at mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat ini menunjukkan bahwa bai'at adalah perkara yang disyariatkan dan memiliki kedudukan besar, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma kepada Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Adab Ibnu Umar terhadap ayahnya, Umar bin al-Khaththab
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa kemarahan Ibnu Umar ketika ada yang mengatakan ia berhijrah sebelum ayahnya bukanlah kemarahan yang tercela, melainkan karena beliau tidak ingin ada klaim yang tidak sesuai fakta, dan karena beliau sangat memuliakan kedudukan ayahnya. Ibnu Umar dikenal sebagai sahabat yang paling keras dalam mengikuti sunnah dan paling beradab terhadap kedua orang tuanya.
Kedua: Urutan bai'at dalam peristiwa ini
Dalam hadits ini, Ibnu Umar menceritakan bahwa setelah Nabi ﷺ bangun dari istirahat siang (qailulah), beliau sendiri yang masuk lebih dahulu dan berbai'at, kemudian memberitahu Umar. Setelah itu keduanya pergi bersama, dan Umar masuk lebih dahulu untuk berbai'at, baru kemudian Ibnu Umar. Ini menunjukkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu adalah yang lebih dahulu berbai'at dalam peristiwa ini, bukan Ibnu Umar.
Ketiga: Hijrah keduanya terjadi bersamaan
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam penjelasannya tentang hadits-hadits hijrah menegaskan bahwa Umar dan Ibnu Umar berhijrah bersama-sama dari Makkah ke Madinah. Tidak ada riwayat yang sah yang menyatakan bahwa Ibnu Umar berhijrah lebih dahulu daripada ayahnya. Bahkan Ibnu Umar masih muda pada saat itu, dan beliau bersama ayahnya dalam perjalanan hijrah.
Keempat: Makna "qailulah" (istirahat siang)
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ sedang "qa'il" (istirahat siang). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ juga manusia yang membutuhkan istirahat, dan bahwa para sahabat sangat memperhatikan keadaan beliau, tidak ingin mengganggu ketika beliau sedang istirahat. Ini adalah adab yang tinggi.
Kelima: Bai'at kepada Nabi ﷺ
Bai'at yang dimaksud dalam hadits ini adalah bai'at hijrah atau bai'at Islam secara umum. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa bai'at pada masa Nabi ﷺ ada beberapa macam: bai'at Islam, bai'at hijrah, bai'at jihad, dan bai'at atas ketaatan. Bai'at dalam hadits ini menunjukkan komitmen Umar dan Ibnu Umar untuk taat kepada Nabi ﷺ.
Keenam: Perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih dahulu hijrah
Sebagian orang pada masa Ibnu Umar mungkin mengira bahwa Ibnu Umar berhijrah lebih dahulu karena beliau lebih muda dan lebih cepat dalam berbagai kebaikan. Namun Ibnu Umar sendiri membantah anggapan itu dan menegaskan bahwa ayahnyalah yang lebih dahulu berbai'at. Ini menunjukkan kejujuran ilmiah Ibnu Umar dan penghormatan beliau kepada ayahnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau bahkan pernah menangis ketika mendengar hadits tentang larangan memandang wanita, dan beliau sangat berhati-hati dalam berfatwa.
Suatu ketika, ada seseorang yang mengatakan kepada Ibnu Umar, "Engkau berhijrah sebelum ayahmu." Mendengar itu, Ibnu Umar marah. Beliau tidak suka ada orang yang mengklaim sesuatu yang tidak sesuai fakta, terlebih lagi jika itu menyangkut kedudukan ayahnya, Umar bin al-Khaththab, yang merupakan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ.
Ibnu Umar lalu menceritakan kisah sebenarnya: "Aku dan Umar datang kepada Rasulullah ﷺ, dan kami mendapati beliau sedang istirahat siang. Kami pun kembali ke rumah. Kemudian Umar mengirimku dan berkata, 'Pergilah dan lihat apakah beliau sudah bangun.' Aku pergi, masuk ke tempat beliau, dan berbai'at. Kemudian aku kembali kepada Umar dan memberitahukan bahwa beliau sudah bangun. Maka kami berdua pergi dengan cepat, dan Umar masuk lebih dahulu untuk berbai'at, kemudian aku menyusul."
Kisah ini menunjukkan betapa Ibnu Umar sangat menghormati ayahnya dan tidak ingin ada klaim yang mengurangi kedudukan ayahnya. Ini adalah pelajaran bagi kita semua untuk beradab kepada orang tua dan tidak mengklaim sesuatu yang tidak sesuai fakta.
Kesimpulan Praktis
- Beradab kepada orang tua: Sebagaimana Ibnu Umar tidak suka jika ada yang mengklaim ia lebih dahulu hijrah daripada ayahnya, kita pun harus memuliakan orang tua dan tidak mendahului mereka dalam hal yang bisa mengurangi kedudukan mereka.
- Jujur dalam menyampaikan fakta: Ibnu Umar membantah klaim yang tidak benar dengan dalil dan fakta, bukan dengan emosi semata.
- Menghormati waktu istirahat orang lain: Para sahabat tidak mengganggu Nabi ﷺ yang sedang istirahat, dan mereka menunggu dengan sabar. Ini adalah adab yang perlu kita teladani.
- Bai'at adalah komitmen: Bai'at kepada Nabi ﷺ menunjukkan komitmen untuk taat. Dalam konteks kita, komitmen kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mengikuti Al-Qur'an dan sunnah.
- Hijrah adalah peristiwa besar: Hijrah Nabi ﷺ dan para sahabat ke Madinah adalah titik balik sejarah Islam. Umar dan Ibnu Umar adalah bagian dari peristiwa agung itu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.