Penjelasan Hadits Bukhari No. 3897 tentang Hijrah demi Allah dan balasan pahala di akhirat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pelajaran agung tentang keikhlasan dalam berhijrah dan beramal. Khabbab bin Al-Arats radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa para sahabat berhijrah semata-mata mengharap wajah Allah, bukan karena dunia. Di antara mereka ada yang langsung meninggal (syahid) sebelum menikmati hasil dunia, seperti Mus'ab bin 'Umair yang kain kafannya saja tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Ada pula yang Allah berikan umur panjang sehingga ia melihat buah dari usahanya di dunia. Keduanya tetap mulia, karena ukuran kemuliaan bukan pada hasil dunia, melainkan pada keikhlasan niat dan kesabaran di atas jalan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Anshar, Bab Hijrah Nabi ﷺ dan Para Sahabat ke Madinah, no. 3897, dari sahabat Khabbab bin Al-Arats radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 988) dengan redaksi yang serupa.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan keikhlasan dan balasan di sisi Allah:

QS. Al-Baqarah [2]: 207

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

Ayat ini menurut para ulama tafsir (diantaranya disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya) turun berkaitan dengan peristiwa hijrah dan pengorbanan para sahabat, di antaranya ada yang menafsirkannya dengan peristiwa Ali bin Abi Thalib ketika menggantikan tempat tidur Nabi ﷺ pada malam hijrah. Namun makna umumnya mencakup seluruh orang yang mengorbankan jiwa dan hartanya demi Allah.

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna Hijrah dan Keikhlasan

Khabbab radhiyallahu 'anhu memulai ucapannya dengan kalimat yang sangat dalam: "Kami berhijrah bersama Nabi ﷺ demi Allah (nuridu wajhallah), maka pahala kami menjadi hak dan pasti dari Allah."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa amal yang diterima Allah hanyalah yang ikhlas karena-Nya dan sesuai tuntunan Rasul-Nya. Hijrah para sahabat bukan untuk harta, kedudukan, atau dunia, tetapi murni li wajhillah (mengharap wajah Allah). Karena itu, Allah menjamin pahala mereka, baik yang meninggal lebih dahulu maupun yang hidup lebih lama.

Kedua: Kisah Mus'ab bin 'Umair dan Pelajaran Kesederhanaan

Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu adalah pemuda Quraisy yang sebelumnya hidup berkecukupan dan dimanjakan oleh ibunya. Setelah masuk Islam dan berhijrah, ia hidup sangat sederhana. Ia gugur di Perang Uhud dalam keadaan kain kafannya (namirah - kain bergaris) tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka; jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar kepalanya ditutup dan kakinya diberi rumput idhkhir (sejenis rumput harum).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan Mus'ab dan para syuhada Uhud, serta bolehnya menggunakan rumput atau daun untuk menutupi bagian tubuh mayat yang tidak memungkinkan ditutup dengan kain kafan karena keterbatasan.

Pelajaran penting: Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari harta dan kemewahan dunia. Mus'ab yang syahid dengan kain kafan seadanya lebih mulia di sisi Allah daripada banyak orang yang hidup bergelimang harta namun lalai dari jalan-Nya.

Ketiga: Dua Golongan dalam Satu Jalan

Khabbab membagi para sahabat yang berhijrah menjadi dua golongan:

  1. Golongan yang meninggal lebih dahulu tanpa menikmati dunia, seperti Mus'ab bin 'Umair. Mereka mendapat pahala penuh di sisi Allah.
  2. Golongan yang Allah berikan umur panjang sehingga melihat "buahnya" di dunia, yaitu keberhasilan dan kemenangan Islam. Khabbab sendiri termasuk golongan ini, karena ia hidup hingga masa kekhalifahan Ali dan melihat Islam tersebar luas.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kedua golongan ini sama-sama mendapat kebaikan. Yang pertama disegerakan pahalanya di akhirat, yang kedua diberikan tambahan nikmat dunia sebagai ujian, namun pahala akhirat tetap menanti mereka.

Keempat: Pelajaran tentang Kafan dan Jenazah

Hadits ini juga mengajarkan adab mengurus jenazah: jika kain kafan tidak mencukupi, maka yang ditutup adalah bagian kepala (aurat utama), dan bagian lain yang tidak tertutup boleh dialasi dengan sesuatu seperti rumput. Ini adalah pemahaman yang diambil oleh para ulama fiqih dari kalangan sahabat dan tabi'in, sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu adalah pemuda paling tampan dan paling dimanjakan di Mekkah. Ibunya sangat menyayanginya dan memberinya pakaian terbaik serta wewangian termahal. Ketika ia masuk Islam, ibunya mengurungnya dan berusaha memutus keinginannya, namun Mus'ab tetap teguh.

Ia kemudian berhijrah ke Madinah dan menjadi duta pertama yang dikirim Nabi ﷺ untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah sebelum hijrah. Ia hidup sangat sederhana, bahkan terkadang hanya makan seadanya. Ketika gugur di Uhud, ia tidak memiliki kain kafan yang layak. Para sahabat menangis melihat keadaan Mus'ab, dan Nabi ﷺ pun bersabda tentangnya dengan penuh keharuan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Ishabah menukil bahwa Nabi ﷺ berdiri di dekat jenazah Mus'ab dan membacakan firman Allah: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (syahid), dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab [33]: 23).

Hikmahnya: Kehidupan dunia yang mewah tidak menjamin kemuliaan. Kemuliaan sejati adalah ketika seseorang mampu meninggalkan kemewahan demi agama Allah, dan tetap istiqamah sampai akhir hayatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam setiap amal — niatkan hijrah, belajar, bekerja, dan beribadah semata-mata karena Allah, bukan karena pujian atau keuntungan dunia.
  2. Jangan iri pada yang lebih kaya — kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan harta. Mus'ab yang syahid dengan kain kafan seadanya lebih mulia dari banyak orang kaya yang lalai.
  3. Siap menerima takdir Allah — ada yang disegerakan pahalanya di dunia, ada yang ditunda ke akhirat. Keduanya baik jika kita berada di atas keikhlasan dan kesabaran.
  4. Belajar dari kisah salaf — kisah para sahabat adalah obat hati dan penumbuh semangat untuk berkorban di jalan Allah.
  5. Menjaga adab dalam urusan jenazah — jika kemampuan terbatas, tutuplah bagian yang wajib dan gunakan seadanya yang layak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?