Penjelasan Hadits Bukhari No. 3888 tentang Isra Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma terhadap QS. Al-Isra' [17]: 60, bahwa "ru'ya" (penglihatan) yang Allah tunjukkan kepada Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj adalah penglihatan dengan mata kepala secara nyata, bukan mimpi. Sedangkan "pohon yang terkutuk" dalam Al-Qur'an adalah pohon Zaqqum, yaitu makanan penduduk neraka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Isra' [17]: 60

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ

Terjemahan: "Dan tidaklah Kami jadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an."

Hadits terkait — Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Para Anshar, Bab Mi'raj, dari jalur Al-Humaydi → Sufyan (bin 'Uyainah) → Amr (bin Dinar) → Ikrimah → Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi ﷺ secara nyata, bukan sekadar mimpi.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menukil pendapat Ibnu Abbas ini sebagai penafsiran yang kuat, bahwa "ru'ya" di sini adalah penglihatan mata langsung.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan Isra' Mi'raj terjadi dalam keadaan terjaga (yaqzhah), bukan tidur.

Penjelasan Rinci

Makna umum ayat dan hadits:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 60 bahwa penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi ﷺ dan pohon yang terkutuk dijadikan sebagai fitnah (ujian) bagi manusia. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan dua hal penting:

Pertama, "ru'ya" di sini adalah penglihatan dengan mata kepala (ru'yatu 'ain), bukan mimpi. Nabi ﷺ benar-benar melihat dengan matanya sendiri pada malam Isra' Mi'raj ketika diangkat ke Baitul Maqdis dan langit-langit. Ini menunjukkan peristiwa Isra' Mi'raj terjadi dalam keadaan sadar dan terjaga.

Kedua, "pohon yang terkutuk" (asy-syajarah al-mal'unah) adalah pohon Zaqqum, yaitu pohon yang tumbuh di dasar neraka Jahim, yang menjadi makanan penduduk neraka sebagaimana disebutkan dalam QS. Ash-Shaffat [37]: 62-66 dan QS. Ad-Dukhan [44]: 43-46.

Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil kuat bahwa Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh sekaligus. Beliau menyebutkan bahwa pendapat yang menyatakan Isra' Mi'raj hanya mimpi adalah pendapat yang lemah dan bertentangan dengan nash-nash shahih. Ibnu Hajar juga menukil bahwa "fitnah" dalam ayat ini bermakna ujian: orang-orang Quraisy yang lemah imannya murtad ketika mendengar berita Isra' Mi'raj, sementara orang beriman bertambah keyakinannya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil atsar Ibnu Abbas ini dan menguatkannya. Beliau menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ menceritakan Isra' Mi'raj kepada penduduk Makkah, sebagian mereka mendustakan dan sebagian beriman. Inilah makna "fitnah" (ujian) bagi manusia.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa Isra' Mi'raj adalah perjalanan yang terjadi dalam keadaan terjaga, berdasarkan hadits-hadits shahih tentang Mi'raj yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, termasuk hadits ini.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menafsirkan "ru'ya" dalam ayat ini sebagai mimpi Nabi ﷺ sebelum Isra' Mi'raj. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim — adalah bahwa itu adalah penglihatan mata kepala secara nyata pada malam Isra' Mi'raj. Dalilnya adalah hadits-hadits shahih tentang Mi'raj yang menggambarkan Nabi ﷺ melihat Jibril, Baitul Maqdis, langit-langit, dan berbagai peristiwa dengan jelas, serta penjelasan langsung dari Ibnu Abbas sebagai ahli tafsir dari kalangan sahabat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj kepada penduduk Makkah, orang-orang Quraisy menuntut bukti. Mereka bertanya tentang ciri-ciri Baitul Maqdis, dan Allah menampakkan Baitul Maqdis di hadapan Nabi ﷺ sehingga beliau dapat menjawab setiap pertanyaan mereka dengan tepat. Namun tetap saja, orang-orang yang hatinya dipenuhi kedustaan semakin mendustakan, sementara Abu Bakar radhiyallahu 'anhu langsung membenarkan tanpa ragu. Inilah makna "fitnah" (ujian) yang disebutkan dalam ayat: peristiwa Isra' Mi'raj menjadi pemisah antara orang yang beriman dan yang mendustakan. (Kisah ini disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dan dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari serta Ibnu Katsir dalam tafsirnya.)

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini Isra' Mi'raj sebagai peristiwa nyata — Nabi ﷺ benar-benar diangkat dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga, bukan sekadar mimpi. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah berdasarkan dalil Al-Qur'an dan hadits shahih.
  2. Renungi makna "fitnah" (ujian) — Peristiwa besar seperti Isra' Mi'raj menjadi ujian keimanan. Orang yang beriman bertambah yakin, orang yang lemah imannya goyah. Hendaknya kita termasuk yang bertambah imannya ketika mendengar ayat dan hadits.
  3. Kenali pohon Zaqqum sebagai peringatan — Allah menyebutkan pohon Zaqqum sebagai makanan penduduk neraka. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk menjauhi perbuatan yang mengantarkan ke neraka dan bersegera bertaubat.
  4. Ikuti pemahaman para ulama — Dalam memahami ayat dan hadits, kita merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim, bukan kepada tafsir yang menyimpang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?