Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3887 tentang Isra Mi'raj dan pencucian hati Nabi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu riwayat terpenting tentang peristiwa Isra' Mi'raj yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha'sha'ah. Hadits ini menjelaskan secara rinci perjalanan Nabi ﷺ dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha, pertemuan beliau dengan para nabi di setiap langit, dan puncaknya adalah perintah shalat lima puluh waktu yang kemudian diringankan menjadi lima waktu sehari-semalam. Ini adalah mukjizat agung yang menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ dan kasih sayang Allah kepada umat ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Isra' [17]: 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

QS. An-Najm [53]: 13-18

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ (١٤) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ (١٥) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧) لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ (١٨)

"Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini adalah hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Anshar, Bab Isra' Mi'raj, no. 3887. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Isra' Rasulullah ﷺ, no. 162.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in besar dan ahli tafsir) dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha'sha'ah. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari telah memberikan penjelasan mendalam tentang hadits ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj ini terjadi setelah tahun kesedihan (peristiwa wafatnya Khadijah dan Abu Thalib), dan merupakan penghiburan agung dari Allah kepada Nabi-Nya ﷺ.

1. Pembelahan dada dan pencucian hati

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa sebelum perjalanan, dada Nabi ﷺ dibelah dan hatinya dicuci dengan air dari bejana emas yang berisi iman. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah pembersihan dan penyucian hati Nabi ﷺ sebagai persiapan untuk menerima wahyu dan perjalanan spiritual yang agung. Ini juga menunjukkan kesucian hati beliau dari segala kotoran.

2. Buraq - kendaraan langit

Nabi ﷺ diangkut dengan Buraq, makhluk yang lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai, berwarna putih, dan langkahnya sejauh pandangan matanya. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan kecepatan yang luar biasa, melebihi kemampuan manusia biasa.

3. Pertemuan dengan para nabi

Di setiap langit, Nabi ﷺ bertemu dengan para nabi:

  • Langit pertama: Nabi Adam
  • Langit kedua: Nabi Yahya dan Nabi Isa
  • Langit ketiga: Nabi Yusuf
  • Langit keempat: Nabi Idris
  • Langit kelima: Nabi Harun
  • Langit keenam: Nabi Musa
  • Langit ketujuh: Nabi Ibrahim

Mereka semua menyambut dengan ucapan "Marhaban bil ibnish shalih wan nabiyyish shalih" (Selamat datang anak yang saleh dan nabi yang saleh). Ini menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ yang sangat mulia di sisi para nabi sebelumnya.

4. Tangisan Nabi Musa

Ketika Nabi Musa mengetahui bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ akan masuk surga lebih banyak dari umatnya, beliau menangis. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ yang paling banyak masuk surga dibanding umat-umat sebelumnya.

5. Sidratul Muntaha dan Baitul Ma'mur

Di Sidratul Muntaha, Nabi ﷺ melihat pohon yang buahnya seperti kendi Hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Di sana juga terdapat empat sungai: dua sungai di surga, dan dua sungai yang terlihat yaitu Nil dan Eufrat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sungai Nil dan Eufrat berasal dari surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.

6. Pilihan susu dan kewajiban shalat

Nabi ﷺ ditawari tiga bejana: khamr, susu, dan madu. Beliau memilih susu, dan Jibril berkata, "Itulah fitrah (Islam) yang engkau dan umatmu berada di atasnya." Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

7. Perjalanan negosiasi shalat

Ini bagian yang sangat penting. Awalnya Allah mewajibkan 50 shalat sehari. Nabi Musa menyarankan Nabi ﷺ untuk meminta keringanan karena umatnya tidak akan mampu. Nabi ﷺ bolak-balik menghadap Allah hingga akhirnya menjadi 5 shalat sehari. Namun pahala tetap 50, karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ
  • Kedudukan Nabi Musa yang sangat perhatian kepada umat
  • Adab Nabi Muhammad ﷺ dalam meminta - beliau berhenti ketika merasa malu
  • Keutamaan shalat lima waktu yang pahalanya tetap 50

8. Isra' Mi'raj dengan ruh dan jasad

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Isra' Mi'raj terjadi dengan ruh dan jasad secara bersamaan, dalam keadaan sadar, bukan mimpi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa ini adalah pendapat jumhur ulama dan merupakan makna zhahir Al-Qur'an.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika peristiwa Isra' Mi'raj terjadi, kaum Quraisy tidak mempercayainya. Abu Jahal mendatangi Abu Bakar dan bertanya, "Apakah kamu membenarkan sahabatmu bahwa dia pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam?"

Abu Bakar menjawab dengan tegas, "Jika dia mengatakannya, maka sungguh dia benar."

Abu Jahal bertanya lagi, "Apakah kamu membenarkan bahwa dia pergi ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum pagi?"

Abu Bakar menjawab, "Ya, aku membenarkannya, bahkan lebih dari itu. Aku membenarkan berita langit yang datang kepadanya di pagi dan sore hari."

Karena itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (yang sangat membenarkan). Kisah ini menunjukkan bahwa keimanan yang benar adalah membenarkan semua yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, meskipun akal manusia tidak mampu menjangkaunya.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada Isra' Mi'raj adalah bagian dari iman kepada hal-hal ghaib. Kita wajib membenarkannya tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  2. Shalat adalah perintah langsung dari Allah tanpa perantara malaikat, dan merupakan hadiah agung dari perjalanan Isra' Mi'raj. Maka janganlah kita meremehkan shalat.
  3. Kasih sayang Allah kepada umat ini sangat besar. Dari 50 menjadi 5, namun pahalanya tetap 50. Ini adalah kemurahan yang tiada tara.
  4. Meneladani Nabi Musa yang memberi nasihat dengan ikhlas, dan meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang menerima nasihat dengan rendah hati.
  5. Menjaga shalat lima waktu dengan sebaik-baiknya, karena ia adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.