Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mencela perbuatan menjadikan kuburan orang saleh sebagai tempat ibadah (masjid) dan menggambar makhluk di dalamnya. Beliau menyebut pelakunya sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat. Ini menunjukkan larangan tegas terhadap pengagungan berlebihan yang menjerumuskan pada syirik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manakib Al-Anshar, Bab Hijrah Al-Habasyah, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits lengkap dengan harakat:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها أَنَّ أُمَّ، حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ، فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ "إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِيكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ".
Terjemahan: "Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hisyam, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Aisyah -semoga Allah meridhainya- bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di Habasyah, di dalamnya terdapat gambar-gambar. Ketika mereka menyampaikan hal ini kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Sesungguhnya mereka, jika di antara mereka ada seorang yang saleh lalu meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan menggambar gambar-gambar itu di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.'"
Dalil Al-Qur'an yang relevan, di antaranya firman Allah:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
QS. Nuh [71]: 23
Terjemahan: "Dan mereka berkata: 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula meninggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.'"
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa nama-nama tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh. Setelah mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaumnya untuk membuat gambar mereka dan meletakkannya di tempat ibadah. Ketika generasi berikutnya datang, mereka menyembah gambar-gambar itu. Inilah asal mula penyembahan berhala.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Larangan membangun masjid di atas kuburan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keharaman membangun masjid di atas kuburan orang saleh, dan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang larangan ini.
Kedua: Larangan menggambar makhluk bernyawa di tempat ibadah.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menggambar gambar-gambar makhluk bernyawa di masjid atau tempat ibadah adalah perbuatan yang diharamkan, karena dapat menjadi sarana menuju syirik.
Ketiga: Sebab laknat dan seburuk-buruk makhluk.
Nabi ﷺ menyebut mereka sebagai syirarul khalq (seburuk-buruk makhluk) karena mereka mencampuradukkan antara ibadah kepada Allah dengan pengagungan terhadap makhluk. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa ini adalah bentuk ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan orang saleh, yang menjadi pintu masuk syirik.
Keempat: Perbedaan pendapat tentang gambar.
Para ulama dari daftar yang ada, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah, menyatakan bahwa menggambar makhluk bernyawa hukumnya haram secara mutlak. Sedangkan sebagian ulama seperti Imam Malik dan Imam Asy-Syafi'i membolehkan gambar yang tidak memiliki bayangan (seperti gambar di kain) dengan syarat tidak diagungkan. Namun, dalam konteks tempat ibadah, semua ulama sepakat tentang larangannya.
Kelima: Hikmah larangan.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa syariat menutup semua pintu menuju syirik. Membangun masjid di atas kuburan dan menggambar orang saleh di dalamnya adalah dua pintu utama menuju syirik, karena dapat mengantarkan pada pengagungan berlebihan terhadap makhluk.
Keenam: Sikap Ahlus Sunnah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menegaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak membangun masjid di atas kuburan, tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, dan tidak menggambar makhluk bernyawa di masjid. Ini adalah bentuk ittiba' (mengikuti) sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi bid'ah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anhuma pernah hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Di sana, mereka melihat sebuah gereja yang indah dengan gambar-gambar di dalamnya. Ketika mereka kembali dan menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, beliau tidak mengagumi keindahan bangunan tersebut, melainkan justru mencela praktik yang melatarbelakanginya.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang-orang Nasrani Habasyah itu, ketika ada orang saleh di antara mereka yang meninggal, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya dan menggambar orang saleh tersebut di dalamnya. Mereka melakukan ini karena kecintaan dan pengagungan yang berlebihan, sehingga mereka terjatuh dalam syirik.
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah mengutus sahabat untuk meratakan kuburan yang ditinggikan dan menghancurkan gambar-gambar. Ini menunjukkan betapa tegasnya Islam dalam menutup pintu syirik.
Hikmahnya: Betapa besar bahaya ghuluw (berlebihan) dalam agama. Cinta kepada orang saleh tidak boleh melampaui batas, apalagi sampai menjadikan kuburannya sebagai tempat ibadah atau menggambarnya untuk diagungkan.
Kesimpulan Praktis
- Jangan membangun masjid di atas kuburan, karena ini adalah perbuatan yang dilaknat dan pelakunya disebut seburuk-buruk makhluk.
- Jangan menggambar makhluk bernyawa di tempat ibadah, karena dapat menjadi sarana menuju syirik.
- Jauhi ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan orang saleh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
- Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam beribadah dan bermuamalah, termasuk dalam hal kuburan dan gambar.
- Pelajari aqidah yang benar dari para ulama Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.