Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menyebutkan tiga sifat buruk warisan zaman jahiliyah yang harus dijauhi: mencela nasab/keturunan orang lain, meratapi mayit dengan niyahah, dan yang ketiga (yang sempat terlupa oleh perawi) menurut Sufyan bin 'Uyainah adalah mempercayai hujan turun karena pengaruh bintang (al-istisqa' bil anwa'). Semuanya bertentangan dengan tauhid, akhlak, dan adab Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Rajam di Zaman Jahiliyah, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Ali bin Abdullah dari Sufyan bin 'Uyainah dari Ubaidullah bin Abi Yazid.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan mencela nasab dan meratapi mayit:
Pertama, larangan mencela dan merendahkan orang lain:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari mereka. Dan janganlah para wanita merendahkan wanita lain, karena bisa jadi mereka lebih baik. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (memanggil dengan) kefasikan setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Kedua, larangan berlebihan dalam meratapi mayit dan keyakinan hujan karena bintang:
QS. Al-Waqi'ah [56]: 75-76
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
Terjemahan: "Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang. Dan sungguh, itu adalah sumpah yang sangat besar, jika kamu mengetahui."
Ayat ini menunjukkan bahwa bintang-bintang adalah makhluk Allah yang tunduk pada perintah-Nya, bukan penentu turunnya hujan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan tiga perkara yang merupakan sisa-sisa kebiasaan jahiliyah yang harus ditinggalkan oleh seorang Muslim:
Pertama: Mencela nasab (ath-tha'n fil-ansab). Ini adalah kebiasaan merendahkan seseorang karena asal-usul keluarga, suku, atau keturunannya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mencela nasab termasuk dosa besar karena mengandung kezaliman, kesombongan, dan permusuhan yang tidak berdasar. Islam datang untuk menghapus fanatisme kesukuan dan menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah hanyalah dengan takwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13.
Kedua: Niyahah (meratapi mayit). An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa niyahah adalah meratapi mayit dengan suara keras, menangis berlebihan, merobek pakaian, memukul-mukul wajah, dan mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidaksabaran terhadap takdir Allah. Ini dilarang karena bertentangan dengan sabar dan ridha terhadap qadha' Allah. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: "Dua perkara pada manusia yang keduanya kufur: mencela nasab dan niyahah (meratapi mayit)."
Ketiga: Al-Istisqa' bil anwa' (mempercayai hujan karena bintang). Sufyan bin 'Uyainah menyebutkan bahwa inilah sifat ketiga yang terlupa oleh Ubaidullah. Maksudnya adalah keyakinan orang jahiliyah bahwa turunnya hujan disebabkan oleh munculnya bintang tertentu, bukan karena karunia dan ketentuan Allah. Ini termasuk syirik kecil (syirik dalam rububiyyah) karena menisbatkan nikmat Allah kepada selain-Nya. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa menisbatkan hujan kepada bintang adalah bentuk kesyirikan karena Allah berfirman dalam QS. Al-Waqi'ah [56]: 68-69: "Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?"
Ibnul Qayyim juga menukil hadits Nabi ﷺ riwayat Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani: "Allah berfirman: 'Pada pagi ini ada hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Yang berkata: 'Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya', maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Yang berkata: 'Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu', maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.'"
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "sifat ketiga" yang terlupa bisa jadi adalah sesuatu yang lain, namun pendapat yang masyhur dan dipegang oleh Sufyan bin 'Uyainah serta jumhur ulama adalah al-istisqa' bil anwa'. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang melarang menisbatkan hujan kepada bintang. Maka yang paling kuat adalah pendapat Sufyan bin 'Uyainah ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang tanda-tanda hari kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ, beliau menyebutkan bahwa di antara tanda-tanda akhir zaman adalah ketika hujan diturunkan namun manusia mengingkarinya dengan berkata: "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu." (Makna hadits riwayat Muslim). Ini menunjukkan bahwa penyakit jahiliyah ini akan terus muncul hingga akhir zaman, dan seorang Muslim harus senantiasa menjaga tauhidnya.
Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menceritakan bahwa sebagian salaf berkata: "Barangsiapa menisbatkan nikmat Allah kepada selain Allah, maka ia telah kufur terhadap nikmat itu." Ini adalah pelajaran berharga dari hadits Ibnu Abbas ini, bahwa lisan dan hati harus selalu menjaga pengakuan bahwa segala nikmat, termasuk hujan, datangnya dari Allah semata.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi mencela nasab dan keturunan orang lain. Kemuliaan bukan pada suku, warna kulit, atau garis keturunan, tetapi pada takwa.
- Tinggalkan niyahah. Saat ada yang meninggal, bersabarlah, ucapkan kalimat istirja', dan doakan mayit dengan doa yang baik.
- Jangan menisbatkan hujan kepada bintang atau ramalan cuaca sebagai penentu. Hujan turun semata-mata karena karunia dan ketentuan Allah. Boleh menyebut sebab-sebab fisik (seperti awan, musim), tetapi keyakinan bahwa yang menurunkan adalah Allah harus tertanam kuat.
- Bertaubatlah dari sisa-sisa kebiasaan jahiliyah yang mungkin masih ada dalam diri kita, baik dalam ucapan maupun keyakinan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.