Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kemuliaan luar biasa yang Allah berikan kepada Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau wafat, ‘Arsy Allah (singgasana kerajaan-Nya) bergetar karena gembira atau karena merasa agung dengan kedatangan ruhnya. Ini adalah keistimewaan khusus yang tidak diberikan kepada sembarang orang, menandakan tingginya derajat Sa’d di sisi Allah karena keimanan, keteguhan, dan perjuangannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3803) dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Teks hadits yang shahih adalah:
عَنْ جَابِرٍ ـ رضى الله عنه ـ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: " اهْتَزَّ الْعَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ "
“Arsy (Allah) bergetar karena kematian Sa’d bin Mu’adz.”
Dalam riwayat lain dari Jabir, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:
" اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ "
“Arsy Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) bergetar karena kematian Sa’d bin Mu’adz.”
Penjelasan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam Fath al-Bari) menjelaskan bahwa makna “bergetar” di sini adalah gembira dan merasa agung. Ini adalah sifat yang Allah ciptakan pada ‘Arsy sebagai bentuk penghormatan.
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) mengatakan bahwa ini adalah mukjizat Nabi ﷺ dan kemuliaan Sa’d. ‘Arsy adalah makhluk yang agung, dan getarannya menandakan keridhaan Allah atas kedatangan ruhnya.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan Sa’d, namun kita tidak boleh menafsirkan secara harfiah seperti makhluk biasa, melainkan sebagai tanda kebesaran Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk dalam keutamaan para sahabat, khususnya Sa’d bin Mu’adz al-‘Ajlani al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah pemimpin Bani ‘Abdul Asyhal, seorang yang mulia, tegas dalam agama, dan sangat dicintai Rasulullah ﷺ.
Makna “Ihtazza al-‘Arsy” (اهْتَزَّ الْعَرْشُ):
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi, sepakat bahwa ini bukanlah gerakan fisik seperti makhluk, melainkan:
- Kegembiraan dan kebahagiaan ‘Arsy atas kedatangan ruh Sa’d yang shalih.
- Pengagungan terhadap kedudukan Sa’d di sisi Allah.
- Ini adalah isyarat bahwa Allah meridhai amal dan perjuangannya.
Mengapa Sa’d bin Mu’adz Mendapat Kehormatan Ini?
- Sa’d adalah orang yang tegas dalam hukum. Ketika peristiwa Bani Quraizhah, beliau memutuskan hukuman sesuai syariat (para lelaki dibunuh, wanita dan anak-anak ditawan), dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh engkau telah memutuskan hukum Allah di atas tujuh langit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Beliau sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Ketika wafat, Nabi ﷺ bersabda: “Arsy Ar-Rahman bergetar karena kematian Sa’d bin Mu’adz.” (HR. Bukhari)
- Beliau syahid setelah Perang Khandaq karena luka yang dideritanya.
Perbedaan Riwayat:
Ada riwayat lain dari Al-Bara’ bin ‘Azib yang mengatakan “bergetar tempat tidurnya” (سرير). Namun Jabir dengan tegas membantahnya dan mengatakan bahwa antara Bani ‘Abdul Asyhal (kaum Sa’d) dan Bani ‘Amr bin ‘Auf (kaum Al-Bara’) ada permusuhan lama, sehingga Al-Bara’ mungkin meriwayatkan dengan makna yang berbeda. Yang shahih adalah “Arsy” sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir dan dikuatkan oleh Imam Al-Bukhari.
Pelajaran:
- Keutamaan sahabat tidak bisa diukur dengan akal, tetapi dengan wahyu.
- Kematian seorang mukmin yang shalih bisa menjadi sebab turunnya rahmat dan kegembiraan di langit.
- Kita wajib mencintai para sahabat dan mengakui keutamaan mereka.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu wafat, Rasulullah ﷺ dan para sahabat ikut mengurus jenazahnya. Beliau ﷺ sendiri yang turun ke liang lahat dan ikut menguburkannya. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Subhanallah! Sungguh aku melihat ‘Arsy Ar-Rahman bergetar karena kematian Sa’d bin Mu’adz.” (HR. Bukhari)
Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa tujuh puluh ribu malaikat turun untuk menyaksikan kematiannya, dan mereka ikut menshalatkannya. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang hamba yang ikhlas berjuang di jalan Allah.
Hikmah:
- Jangan pernah meremehkan seorang mukmin yang shalih, karena Allah bisa meninggikan derajatnya di langit.
- Perjuangan dan keikhlasan Sa’d dalam membela agama Allah membuatnya mendapat kehormatan yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Allah memuliakan hamba-Nya yang shalih, bahkan setelah kematian.
- Cintailah para sahabat, terutama yang memiliki keutamaan seperti Sa’d bin Mu’adz.
- Teladani keteguhan Sa’d dalam menegakkan hukum Allah, meskipun berat.
- Jangan mudah menolak hadits shahih hanya karena tidak masuk akal, karena urusan ghaib adalah hak Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.