Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kemuliaan akhlak para sahabat Ansar yang menawarkan berbagi kebun kurma mereka dengan kaum Muhajirin. Ketika Nabi ﷺ menolak pembagian kepemilikan, kaum Ansar dengan lapang dada menawarkan solusi agar kaum Muhajirin ikut mengurus kebun dan berbagi hasilnya. Kaum Muhajirin pun menerima dengan penuh ketaatan. Ini adalah pelajaran agung tentang itsar (mendahulukan orang lain), kerja sama, dan ketaatan kepada pemimpin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Persaudaraan Nabi ﷺ antara Muhajirin dan Ansar, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا الصَّلْتُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو هَمَّامٍ، قَالَ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَتِ الأَنْصَارُ اقْسِمْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ النَّخْلَ. قَالَ "لاَ". قَالَ يَكْفُونَا الْمَئُونَةَ وَتُشْرِكُونَا فِي التَّمْرِ. قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا.
Terjemahan: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kaum Ansar berkata (kepada Nabi ﷺ), 'Bagilah pohon kurma antara kami dan mereka (kaum Muhajirin).' Nabi ﷺ bersabda, 'Tidak.' Lalu kaum Ansar berkata, 'Biarkan mereka (kaum Muhajirin) bekerja mengurus kebun untuk kami dan kami berbagi hasil kurmanya.' Kaum Muhajirin berkata, 'Kami mendengar dan kami taat.'"
Ayat Al-Qur'an yang sangat relevan dengan tema ini adalah firman Allah tentang keutamaan kaum Ansar:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
QS. Al-Hasyr [59]: 9
Terjemahan: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memuji kaum Ansar yang dengan ikhlas memberikan harta dan tempat tinggal mereka kepada kaum Muhajirin, bahkan mendahulukan mereka meskipun kaum Ansar sendiri dalam keadaan membutuhkan. Imam As-Sa'di juga menegaskan bahwa ini adalah puncak akhlak mulia, yaitu itsar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan salah satu momen paling indah dalam sejarah Islam, yaitu persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar yang dibangun oleh Nabi ﷺ. Kaum Ansar, penduduk asli Madinah, menawarkan kepada Nabi ﷺ agar kebun-kebun kurma mereka dibagi dua secara kepemilikan dengan kaum Muhajirin. Namun Nabi ﷺ menolak tawaran mulia itu, karena beliau tidak ingin mengambil hak milik kaum Ansar secara permanen. Beliau menginginkan agar kaum Muhajirin tetap berusaha dan tidak menjadi beban.
Melihat penolakan itu, kaum Ansar tidak lantas berhenti berbuat baik. Mereka mencari jalan tengah yang tetap menguntungkan kedua belah pihak: kaum Muhajirin bekerja mengurus kebun, dan hasil kurmanya dibagi bersama. Kaum Muhajirin pun menyambut baik tawaran ini dengan ucapan "sami'na wa atha'na" (kami mendengar dan kami taat).
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan kaum Ansar dalam berkorban dan kecerdasan mereka dalam mencari solusi yang tidak memberatkan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menekankan bahwa ini adalah contoh kerja sama (musyarakah) dalam pertanian yang dibolehkan, yaitu muzara'ah atau musaqah, di mana satu pihak menyediakan lahan dan pihak lain mengelola dengan bagi hasil.
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menyebutkan bahwa sikap kaum Ansar ini adalah wujud nyata dari itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudara seiman di atas kepentingan pribadi, meskipun mereka sendiri membutuhkan. Ini adalah akhlak yang sangat jarang ditemukan pada umat-umat lain.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya terhadap hadits-hadits Bukhari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang pentingnya bermusyawarah dan mencari solusi yang adil dalam bermuamalah. Juga menunjukkan bahwa ketaatan kepada keputusan yang membawa maslahat adalah bagian dari iman.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan setiap Muhajirin dengan seorang Ansar. Salah satu contohnya adalah Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin Rabi' al-Ansari. Sa'd menawarkan kepada Abdurrahman untuk membagi hartanya menjadi dua, bahkan menawarkan salah satu istrinya untuk diceraikan agar bisa dinikahi Abdurrahman. Namun Abdurrahman bin Auf dengan halus menolak dan hanya meminta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun berdagang hingga sukses. Kisah ini sejalan dengan hadits di atas, di mana kaum Ansar menawarkan kebun kurma mereka, tetapi Nabi ﷺ mengarahkan agar kaum Muhajirin tetap berusaha. Hikmahnya adalah bahwa kemuliaan bukan hanya dalam memberi, tetapi juga dalam menjaga harga diri penerima agar tetap mandiri. (Kisah ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).
Kesimpulan Praktis
- Teladani itsar kaum Ansar: Hendaklah kita berusaha mendahulukan kepentingan saudara seiman, terutama dalam keadaan mereka membutuhkan, tanpa mengharap balasan.
- Cari solusi yang adil dan saling menguntungkan: Ketika ada perbedaan atau kebutuhan, musyawarahkanlah jalan tengah yang tidak merugikan salah satu pihak, seperti yang dicontohkan kaum Ansar.
- Taat pada kesepakatan yang baik: Ucapan "sami'na wa atha'na" kaum Muhajirin menunjukkan sikap positif terhadap tawaran yang membawa maslahat.
- Jaga kemandirian: Meskipun menerima bantuan, tetaplah berusaha dan bekerja, sebagaimana Nabi ﷺ mengarahkan kaum Muhajirin untuk mengelola kebun, bukan sekadar menerima pembagian.
- Perkuat ukhuwah: Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman akan melahirkan kerja sama yang indah dan memberkati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.