Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3761 tentang Keutamaan Abdullah bin Mas'ud dan bacaan Al-Qur'annya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan pertemuan antara Alqamah (murid Ibnu Mas'ud) dengan Abu Darda di Syam. Abu Darda memuji Abdullah bin Mas'ud dengan tiga keutamaan besar: (1) ia pembawa sandal, siwak, dan wadah air wudhu Nabi ﷺ, (2) ia orang yang dijaga Allah dari setan, dan (3) ia pemegang rahasia Nabi ﷺ. Hadits ini menunjukkan kedudukan mulia Abdullah bin Mas'ud di sisi Nabi ﷺ dan para sahabat, serta keutamaan membaca Al-Qur'an sesuai bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Abdullah bin Mas'ud, no. 3761, dari Alqamah bin Qais.

Ayat yang disebutkan dalam hadits:

QS. Al-Lail [92]: 1-3

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿٢﴾ وَالذَّكَرِ وَالْأُنثَىٰ ﴿٣﴾

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan."

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk makna "صَاحِبُ السِّرِّ" (pemegang rahasia) dan keutamaan Ibnu Mas'ud. Beliau menukil dari para ulama salaf tentang keutamaan Ibnu Mas'ud.

Penjelasan Rinci

1. Latar Belakang Hadits

Alqamah bin Qais — seorang tabi'in besar dan murid setia Abdullah bin Mas'ud — pergi ke Syam. Di sana ia bertemu dengan Abu Darda, sahabat Nabi ﷺ yang terkenal bijaksana. Pertemuan ini terjadi dalam suasana saling menghormati antara sahabat dan tabi'in.

2. Tiga Keutamaan Abdullah bin Mas'ud

Pertama: "صَاحِبُ النَّعْلَيْنِ وَالْوِسَادِ وَالْمِطْهَرَةِ" (Pembawa sandal, bantal, dan wadah air wudhu)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Ibnu Mas'ud adalah pelayan pribadi Nabi ﷺ yang membawa perlengkapan beliau. Ini menunjukkan kedekatan fisik dan pelayanan yang tulus. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa Ibnu Mas'ud termasuk ahlush shuffah yang selalu bersama Nabi ﷺ.

Kedua: "الَّذِي أُجِيرَ مِنَ الشَّيْطَانِ" (Orang yang dijaga dari setan)

Ini merujuk pada hadits Nabi ﷺ: "Tidak halal bagi seseorang kecuali aku, dan sesungguhnya Allah telah menjaganya dari setan" — sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada Ibnu Mas'ud.

Ketiga: "صَاحِبُ السِّرِّ" (Pemegang rahasia)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa rahasia ini adalah tentang bacaan Al-Qur'an yang diajarkan Nabi ﷺ secara khusus, atau hal-hal lain yang tidak diketahui orang lain. Ini menunjukkan kepercayaan besar Nabi ﷺ kepadanya.

3. Perdebatan Tentang Bacaan Surat Al-Lail

Ketika Abu Darda bertanya tentang bacaan Ibnu Mas'ud, Alqamah membacakan: "وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنثَى" (dengan huruf wa pada kata "الذَّكَرِ").

Abu Darda berkata bahwa Nabi ﷺ membacakan kepadanya secara langsung (fāhu ilā fīyy — mulut ke mulut). Namun orang-orang Syam berusaha memaksanya membaca dengan versi lain: "وَالذَّكَرِ وَمَا خَلَقَ" (dengan "wa mā khalaqa"). Abu Darda menolak karena ia berpegang pada bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kedua bacaan ini sahih dari Nabi ﷺ, namun bacaan Ibnu Mas'ud adalah yang lebih masyhur. Ini menunjukkan bahwa perbedaan qira'at adalah hal yang wajar dan tidak boleh menjadi sebab perpecahan.

4. Pelajaran dari Sikap Abu Darda

Abu Darda tidak memaksakan bacaannya kepada Alqamah, dan Alqamah pun tidak memaksakan bacaannya. Keduanya saling menghormati karena keduanya berasal dari Nabi ﷺ. Ini mengajarkan adab dalam perbedaan — selama bersumber dari dalil yang sahih, perbedaan qira'at atau pendapat adalah rahmat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Abdullah bin Mas'ud membaca Al-Qur'an, Rasulullah ﷺ menangis mendengarnya. Dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda: "Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku." Ibnu Mas'ud bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan kepadamu padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Nabi ﷺ menjawab, "Aku suka mendengarnya dari orang lain." Maka Ibnu Mas'ud membaca surat An-Nisa' hingga sampai ayat: "فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا" (QS. An-Nisa' [4]: 41), maka Nabi ﷺ berkata, "Cukup." Ibnu Mas'ud berkata, "Maka aku menoleh kepadanya, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata."

Ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan Nabi ﷺ dengan Ibnu Mas'ud, dan betapa mulianya kedudukan Ibnu Mas'ud di sisi Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Menghormati keutamaan sahabat — Kita wajib mencintai dan menghormati para sahabat Nabi ﷺ tanpa berlebihan, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  2. Berpegang pada bacaan Al-Qur'an yang sahih — Perbedaan qira'at adalah hal yang wajar selama bersumber dari riwayat yang sahih. Kita tidak boleh mencela bacaan orang lain yang sahih.
  3. Adab dalam perbedaan — Abu Darda dan Alqamah saling menghormati meski berbeda bacaan. Ini pelajaran berharga: perbedaan pendapat tidak boleh merusak ukhuwah.
  4. Melayani ulama dan orang shalih — Ibnu Mas'ud melayani Nabi ﷺ dengan ikhlas, dan Allah mengangkat derajatnya. Ini dorongan untuk melayani orang-orang shalih dengan niat ibadah.
  5. Menjaga rahasia — Sifat pemegang rahasia adalah akhlak mulia yang diajarkan Islam. Kita harus menjaga amanah dan tidak menyebarkan rahasia orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.