Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pertemuan Alqamah (seorang tabi'in dari Kufah) dengan sahabat mulia Abu Darda radhiyallahu 'anhu di masjid Syam. Abu Darda menyebutkan keutamaan tiga sahabat besar: Hudzaifah bin al-Yaman (pemegang rahasia Nabi ﷺ), Ammar bin Yasir (yang didoakan Nabi ﷺ agar dijauhkan dari setan), dan Abdullah bin Mas'ud (pemilik siwak Nabi ﷺ). Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi ﷺ dan pentingnya berpegang teguh pada riwayat yang sah dari Nabi ﷺ, tidak menggantinya dengan bacaan atau pendapat orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Ammar dan Hudzaifah radhiyallahu 'anhuma, nomor 3743.
Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim dari jalur Abu Darda radhiyallahu 'anhu.
Adapun ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits ini adalah awal Surat Al-Lail:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿٢﴾
Terjemahan: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang." (QS. Al-Lail [92]: 1-2)
Dalam sebagian riwayat, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu membaca ayat ketiga Surat Al-Lail dengan lafazh:
وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ
Terjemahan: "Dan demi laki-laki dan perempuan."
Sedangkan bacaan dalam mushaf Utsmani yang masyhur adalah:
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ
Terjemahan: "Dan demi (Tuhan) yang menciptakan laki-laki dan perempuan." (QS. Al-Lail [92]: 3)
Penjelasan Rinci
Pertama: Doa Alqamah memohon teman saleh
Alqamah bin Qais an-Nakha'i, seorang tabi'in terkemuka dari Kufah, murid utama Abdullah bin Mas'ud, ketika memasuki masjid di Syam ia berdoa: "Ya Allah, mudahkanlah bagiku seorang teman duduk yang saleh." Doa ini menunjukkan adab salaf dalam memilih teman dan pentingnya bergaul dengan orang saleh. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa bergaul dengan orang saleh adalah sebab datangnya keberkahan dan ilmu.
Kedua: Keutamaan Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu
Abu Darda menyebut Hudzaifah sebagai "pemegang rahasia yang tidak diketahui orang lain." Yang dimaksud adalah rahasia tentang nama-nama orang munafik yang diberitahukan Nabi ﷺ khusus kepada Hudzaifah. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mempercayakan kepada Hudzaifah pengetahuan tentang fitnah dan orang-orang munafik yang tidak beliau sampaikan kepada sahabat lain. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pun pernah bertanya kepada Hudzaifah tentang dirinya untuk memastikan ia bukan termasuk yang disebut Nabi ﷺ.
Ketiga: Keutamaan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu
Abu Darda menyebut Ammar sebagai "orang yang Allah selamatkan dari setan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ." Ini merujuk pada sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim:
إِنَّ عَمَّارًا مَلِيءٌ إِيمَانًا مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمِهِ
Terjemahan: "Sesungguhnya Ammar penuh dengan keimanan dari ujung rambut hingga ujung kakinya."
Juga sabda beliau ﷺ:
عَمَّارٌ مَا عُرِضَ عَلَيْهِ أَمْرَانِ إِلَّا اخْتَارَ أَرْشَدَهُمَا
Terjemahan: "Ammar tidak pernah dihadapkan pada dua perkara kecuali ia memilih yang lebih benar di antara keduanya."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ untuk Ammar agar dijauhkan dari setan adalah bentuk perlindungan khusus yang menunjukkan kedudukan Ammar yang tinggi.
Keempat: Keutamaan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Abu Darda menyebut Abdullah bin Mas'ud sebagai "pemegang siwak" (shahib as-siwak) atau "pemegang rahasia" (shahib as-sirar). Yang masyhur adalah bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah orang yang selalu membawakan siwak Nabi ﷺ dan menyiapkan air wudhu beliau. Ini menunjukkan kedekatan beliau dengan Nabi ﷺ dan kepercayaan yang diberikan kepada beliau.
Kelima: Perbedaan bacaan Abdullah bin Mas'ud
Ketika Abu Darda bertanya bagaimana Abdullah bin Mas'ud membaca Surat Al-Lail, Alqamah menjawab bahwa beliau membaca "وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ" (dan demi laki-laki dan perempuan) tanpa menyebut "وَمَا خَلَقَ". Ini adalah bacaan yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas'ud sebagai salah satu qira'at syadzah (bacaan yang tidak mutawatir).
Keenam: Sikap Abu Darda yang teguh
Abu Darda berkata: "Orang-orang ini (penduduk Syam) terus mendesakku hingga hampir membuatku meninggalkan sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ." Ini menunjukkan keteguhan Abu Darda dalam mempertahankan riwayat yang beliau terima langsung dari Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Abu Darda tetap berpegang pada bacaan yang beliau dengar dari Nabi ﷺ dan tidak mau menggantinya dengan bacaan lain meskipun banyak yang mendesaknya.
Catatan tentang qira'at:
Para ulama seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bacaan yang mutawatir dan disepakati adalah "وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ" sebagaimana dalam mushaf Utsmani. Adapun bacaan Abdullah bin Mas'ud adalah bacaan yang tidak mutawatir dan tidak boleh diamalkan dalam shalat, namun tetap menjadi bagian dari penjelasan ilmu qira'at.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Alqamah bin Qais, seorang tabi'in mulia, melakukan perjalanan jauh dari Kufah ke Syam untuk menuntut ilmu. Ketika memasuki masjid, ia tidak langsung mencari tempat duduk, tetapi terlebih dahulu berdoa kepada Allah: "Ya Allah, mudahkanlah bagiku seorang teman duduk yang saleh."
Allah mengabulkan doanya dengan mempertemukannya dengan Abu Darda radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat Nabi ﷺ yang terkenal zuhud dan bijaksana. Abu Darda pun mulai bertanya tentang penduduk Kufah dan menyebutkan keutamaan-keutamaan sahabat yang ada di sana.
Dalam pertemuan itu, Abu Darda menunjukkan kekagumannya kepada tiga sahabat besar: Hudzaifah, Ammar, dan Ibnu Mas'ud. Beliau juga menanyakan bacaan Abdullah bin Mas'ud, dan ketika mengetahui bahwa Ibnu Mas'ud membaca dengan lafazh yang berbeda dari bacaan umum, Abu Darda menegaskan bahwa beliau tidak akan meninggalkan apa yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ hanya karena desakan orang lain.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ilmu yang sahih dari Nabi ﷺ adalah yang paling utama untuk diikuti, dan bahwa para sahabat memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak bisa disamai oleh generasi setelah mereka.
Kesimpulan Praktis
- Berdoalah memohon teman yang saleh — sebagaimana Alqamah berdoa ketika memasuki masjid. Teman yang saleh adalah harta yang sangat berharga.
- Kenalilah keutamaan para sahabat Nabi ﷺ — Hudzaifah, Ammar, dan Ibnu Mas'ud adalah tiga sahabat mulia yang memiliki keistimewaan masing-masing. Mencintai mereka adalah bagian dari iman.
- Berpegang teguhlah pada riwayat yang sahih — Abu Darda menolak mengganti apa yang beliau dengar dari Nabi ﷺ dengan bacaan lain. Ini mengajarkan kita untuk mengutamakan dalil yang sahih dalam beribadah.
- Hormatilah perbedaan qira'at — perbedaan bacaan antara Ibnu Mas'ud dan bacaan mushaf Utsmani adalah perkara yang dikenal dalam ilmu qira'at. Yang wajib diikuti adalah bacaan yang mutawatir.
- Bergaullah dengan orang-orang saleh — karena mereka akan membawa kita kepada kebaikan dan mengingatkan kita kepada akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.