Penjelasan Hadits Bukhari No. 3737 tentang Kecintaan Nabi kepada keluarga Ummu Aiman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bagaimana Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menegur orang yang shalatnya tidak sempurna, lalu mengenang kecintaan Nabi ﷺ kepada keluarga Ummu Aiman. Hadits ini mengajarkan dua hal: pentingnya menyempurnakan rukuk dan sujud, serta adab mengenang orang-orang shalih dan keluarga yang dicintai Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Menyebut Usamah bin Zaid, nomor 3737, melalui jalur Harmala mantan budak Usama bin Zaid, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Terkait kewajiban menyempurnakan rukuk dan sujud, Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

وَحَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Terjemahan: "Dan peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk."

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan menjaga shalat dengan menyempurnakan syarat, rukun, dan sunnah-sunnahnya.

Hadits lain yang sangat terkait, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang shalatnya tidak sempurna:

Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَلَا يَبْصُقْ أَمَامَهُ

Namun yang lebih relevan adalah hadits "Al-Musii' fi Shalatihi" (orang yang buruk shalatnya), di mana Nabi ﷺ mengajarkan rukuk, sujud, dan tuma'ninah dengan benar. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tuma'ninah dalam rukuk dan sujud adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua pelajaran utama.

Pertama: Teguran Ibn Umar terhadap shalat yang tidak sempurna.

Harmala menceritakan bahwa Al-Hajjaj bin Aiman masuk dan shalat tanpa menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Abdullah bin Umar langsung menyuruhnya mengulang shalat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat tegas dalam menjaga kesempurnaan shalat, karena shalat adalah ibadah paling utama. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah Ibn Umar "أَعِدْ" (ulangi) menunjukkan kewajiban tuma'ninah, dan bahwa shalat yang tidak tuma'ninah tidak sah menurut jumhur ulama, termasuk Imam Ahmad, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Malik. Imam Abu Hanifah juga mewajibkan tuma'ninah, meski dalam kadar minimal.

Kedua: Kecintaan Nabi ﷺ kepada keluarga Ummu Aiman.

Setelah Al-Hajjaj pergi, Ibn Umar bertanya siapa dia, lalu berkata, "Jika Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau akan mencintainya." Ummu Aiman adalah Barakah al-Habasyiyah, pengasuh Nabi ﷺ sejak kecil. Anak-anaknya, termasuk Aiman dan Usama bin Zaid, sangat dicintai Nabi ﷺ. Usama bin Zaid bahkan dijuluki "Al-Hibbu ibn Al-Hibb" (orang yang dicintai, anak dari orang yang dicintai). Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menyebutkan bahwa Ummu Aiman adalah wanita mulia yang Nabi ﷺ sangat menghormatinya, bahkan beliau pernah berkata, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku."

Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma mengenang kecintaan Nabi ﷺ ini sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan keutamaan keluarga tersebut. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mengenang orang-orang shalih dan menyebut keutamaan mereka adalah bagian dari adab Islam.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ummu Aiman radhiyallahu 'anha adalah wanita yang mengasuh Nabi ﷺ setelah ibunya Aminah wafat. Ketika Nabi ﷺ sudah menjadi Rasul, beliau tetap memuliakannya. Suatu hari Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Ya Ummi!" (Wahai ibuku!) — panggilan penuh kasih. Ummu Aiman pernah datang kepada Nabi ﷺ dan beliau menyambutnya dengan gembira, bahkan beliau pernah bersabda, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku." Anaknya, Aiman, gugur syahid dalam Perang Hunain. Dan Usama bin Zaid, cucunya, menjadi salah satu komandan pasukan Muslim termuda yang dipercaya Nabi ﷺ. Ibn Umar, ketika melihat Al-Hajjaj bin Aiman, teringat betapa Nabi ﷺ mencintai keluarga ini, sehingga beliau berkata, "Jika Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau akan mencintainya." (Disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Adz-Dzahabi).

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib menyempurnakan rukuk dan sujud dengan tuma'ninah; shalat yang tidak tuma'ninah tidak sah.
  2. Hendaknya kita saling menasihati dalam ibadah dengan lembut, seperti Ibn Umar menegur Al-Hajjaj.
  3. Mengenang orang-orang shalih dan keluarga Nabi ﷺ adalah bagian dari adab dan kecintaan kepada sunnah.
  4. Menghormati orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya adalah tanda keimanan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?