Penjelasan Hadits Bukhari No. 3734 tentang Kecintaan Nabi pada Usamah bin Zaid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ kepada Usamah bin Zaid dan keluarganya, sampai-sampai Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata tentang anak Usamah: "Kalau Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau mencintainya." Hadits ini juga mengandung pelajaran adab: menundukkan pandangan dan tidak tergesa menilai orang, serta keutamaan mengenang dan mencintai keluarga orang-orang yang dicintai Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Menyebut Usamah bin Zaid, nomor 3734, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits yang disebutkan:

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبَّادٍ، يَحْيَى بْنُ عَبَّادٍ، حَدَّثَنَا الْمَاجِشُونُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، قَالَ: نَظَرَ ابْنُ عُمَرَ يَوْمًا وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ إِلَى رَجُلٍ يَسْحَبُ ثِيَابَهُ فِي نَاحِيَةٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: انْظُرْ مَنْ هَذَا، لَيْتَ هَذَا عِنْدِي. قَالَ لَهُ إِنْسَانٌ: أَمَا تَعْرِفُ هَذَا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ أُسَامَةَ. قَالَ: فَطَأْطَأَ ابْنُ عُمَرَ رَأْسَهُ، وَنَقَرَ بِيَدَيْهِ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ قَالَ: لَوْ رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَأَحَبَّهُ.

Terjemahan ringkas: Ibnu Umar melihat seseorang menyeret pakaiannya di sudut masjid, lalu bertanya siapa dia dan berharap dia ada di dekatnya. Ketika diberitahu bahwa itu adalah Muhammad bin Usamah, Ibnu Umar menundukkan kepala, mengetuk-ngetuk tanah dengan tangannya, lalu berkata: "Kalau Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau mencintainya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan mencintai Nabi ﷺ dan keluarganya serta para sahabat yang dicintai beliau:

QS. Al-Hujurat [49]: 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

Ayat ini menunjukkan ikatan iman yang melahirkan cinta dan penghormatan di antara kaum mukmin, terlebih kepada orang-orang yang dicintai Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyimpan beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keutamaan Usamah bin Zaid dan anaknya, Muhammad bin Usamah.

Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma adalah anak dari Zaid bin Haritsah, sahabat yang sangat dicintai Nabi ﷺ. Nabi ﷺ pernah bersabda tentang Usamah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, bahwa beliau mencintainya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada Usamah adalah kecintaan yang kuat, karena Usamah adalah anak dari orang yang dicintai Nabi ﷺ (Zaid bin Haritsah) dan juga cucu dari Ummu Aiman, yang disebut Nabi ﷺ sebagai "ibuku setelah ibuku."

Kedua: Perkataan Ibnu Umar "Kalau Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau mencintainya."

Ini adalah bentuk penghormatan Ibnu Umar kepada keluarga orang yang dicintai Nabi ﷺ. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dikenal sangat ketat mengikuti sunnah dan sangat mencintai Nabi ﷺ serta keluarganya. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para sahabat mencintai seseorang karena Nabi ﷺ mencintainya, dan ini adalah bentuk cinta karena Allah dan karena kecintaan kepada Nabi ﷺ.

Ketiga: Adab Ibnu Umar ketika menyadari kekeliruannya.

Awalnya Ibnu Umar melihat seseorang menyeret pakaiannya di masjid, yang secara zhahir kurang pantas. Namun ketika tahu itu adalah Muhammad bin Usamah, beliau langsung menundukkan kepala dan mengetuk-ngetuk tanah dengan tangannya — ini adalah isyarat penyesalan dan rasa malu karena telah berprasangka atau berbicara tentang seseorang yang dicintai Nabi ﷺ. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa menundukkan kepala dan diam adalah tanda penyesalan seorang mukmin ketika menyadari kekeliruannya.

Keempat: Tentang "menyeret pakaian" (isbal).

Para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa menyeret pakaian di bawah mata kaki (isbal) adalah perkara yang dilarang dalam syariat, sebagaimana hadits Nabi ﷺ: "Apa yang di bawah mata kaki dari kain adalah di neraka." Namun dalam konteks hadits ini, Ibnu Umar tidak menghukumi orang tersebut, melainkan justru menunjukkan penghormatan setelah tahu identitasnya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Umar memisahkan antara kesalahan amal dengan keutamaan pribadi seseorang, dan tidak menjadikan kesalahan tersebut alasan untuk merendahkan orang yang dicintai Nabi ﷺ.

Kelima: Perbedaan pendapat tentang isbal.

Di antara ulama dalam daftar, Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa isbal yang dilarang adalah yang dilakukan karena sombong (kibr), berdasarkan hadits: "Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong." Adapun jika bukan karena sombong, sebagian ulama menyatakan itu makruh, dan sebagian lain tetap mengharamkannya secara mutlak. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah bahwa isbal karena sombong adalah haram, sedangkan isbal tanpa sombong adalah makruh atau haram ringan, dan tetap lebih utama bagi seorang muslim untuk menjulurkan pakaiannya di atas mata kaki.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma adalah seorang anak yang tumbuh dalam asuhan Nabi ﷺ. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah orang yang sangat dicintai Nabi ﷺ, sampai-sampai Nabi ﷺ bersabda tentangnya: "Zaid adalah orang yang paling aku cintai." Ketika Zaid gugur di Perang Mu'tah, Nabi ﷺ sangat bersedih. Usamah kemudian menjadi orang yang dicintai Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ pernah menunjuknya sebagai komandan pasukan di usia yang masih muda, yang menunjukkan kepercayaan besar beliau kepadanya.

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, yang dikenal sebagai sahabat yang sangat ketat mengikuti sunnah, ketika melihat anak Usamah — Muhammad bin Usamah — beliau teringat kepada Nabi ﷺ dan kecintaan beliau kepada keluarga Zaid. Maka beliau berkata: "Kalau Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau mencintainya." Ini adalah bentuk cinta karena Allah dan karena kecintaan kepada Nabi ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah orang-orang yang dicintai Nabi ﷺ dan keluarganya, karena itu bagian dari cinta kepada Nabi ﷺ.
  2. Jangan tergesa menilai orang hanya dari perbuatan lahirnya, terutama jika kita belum tahu identitas dan keutamaannya.
  3. Jika menyadari kekeliruan, segera bertaubat dan menundukkan diri sebagaimana Ibnu Umar menundukkan kepala dan mengetuk tanah sebagai tanda penyesalan.
  4. Jagalah adab dalam berpakaian, dan hindari isbal (menjulurkan pakaian di bawah mata kaki) karena sombong, karena itu dilarang dalam syariat.
  5. Pisahkan antara kesalahan amal dengan keutamaan pribadi — seseorang bisa memiliki kekurangan dalam satu hal, tetapi tetap memiliki keutamaan yang harus dihormati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?