Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan pengakuan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu terhadap keutamaan Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu sebagai salah satu sahabat terbaik. Utsman menegaskan hal itu tiga kali dengan sumpah, bahwa Zubair adalah yang terbaik di antara mereka. Ini menunjukkan kedudukan Zubair yang sangat tinggi dalam pandangan para sahabat senior, khususnya Utsman bin Affan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Zubair bin Al-Awwam, nomor 3718. Sanadnya: Ubaid bin Ismail ← Abu Usamah ← Hisyam bin Urwah ← ayahnya (Urwah bin Az-Zubair) ← Marwan bin Al-Hakam.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan para sahabat secara umum:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh sahabat Nabi ﷺ, dan para sahabat senior seperti Zubair bin Al-Awwam termasuk di dalamnya tanpa keraguan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama: Kedudukan Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu
Zubair bin Al-Awwam adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, salah satu dari enam anggota syura yang ditunjuk Umar bin Al-Khattab, dan termasuk sahabat yang paling awal masuk Islam. Beliau juga merupakan keponakan Khadijah binti Khuwailid, dan salah satu tokoh Muhajirin yang berhijrah ke Habasyah kemudian ke Madinah.
Kedua: Pengakuan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu
Dalam hadits ini, Utsman bin Affan menyatakan dengan sumpah tiga kali bahwa Zubair adalah yang terbaik di antara mereka. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pernyataan Utsman ini menunjukkan pengakuan beliau terhadap keutamaan Zubair, dan ini bukanlah bentuk merendahkan sahabat lain, melainkan pengakuan terhadap keunggulan Zubair dalam aspek tertentu, seperti keberanian, keteguhan, dan pengorbanannya di jalan Allah.
Ketiga: Konteks pembicaraan tentang pengganti (khalifah)
Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat saling bermusyawarah dan mempertimbangkan siapa yang layak menjadi pemimpin. Ketika seseorang mengusulkan Zubair sebagai pengganti Utsman, Utsman tidak menolak usulan itu, bahkan membenarkan keutamaan Zubair. Ini menunjukkan sikap tawadhu dan kejujuran Utsman dalam mengakui keutamaan saudaranya.
Keempat: Pemahaman ulama tentang hadits ini
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan sahabat harus dipahami sebagai pengakuan atas keutamaan mereka, bukan sebagai sarana untuk mencela yang lain. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa keutamaan sahabat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ dan diakui oleh sesama sahabat, dan kita wajib mencintai mereka semua.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Zubair bin Al-Awwam memiliki keutamaan yang sangat tinggi, dan pengakuan Utsman ini adalah bentuk pujian yang tulus dari seorang khalifah terhadap sahabatnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat pemberani. Beliau adalah orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah. Dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan berbagai peperangan lainnya, beliau selalu berada di barisan terdepan membela Rasulullah ﷺ.
Urwah bin Az-Zubair, putra Zubair, adalah salah satu tabi'in terkemuka dan termasuk dalam daftar ulama yang menjadi rujukan. Beliau meriwayatkan banyak hadits dari ayahnya dan dari para sahabat lainnya. Dalam hadits ini, Urwah mendengar langsung dari Marwan bin Al-Hakam tentang peristiwa di majelis Utsman bin Affan.
Marwan bin Al-Hakam, yang saat itu masih muda, menyaksikan sendiri bagaimana Utsman bin Affan dengan penuh adab dan kejujuran mengakui keutamaan Zubair. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang mengakui keutamaan orang-orang saleh di sekitarnya.
Kesimpulan Praktis
- Mencintai para sahabat Nabi ﷺ adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah. Kita wajib mencintai Zubair bin Al-Awwam dan seluruh sahabat, serta mengakui keutamaan mereka.
- Mengakui keutamaan orang lain adalah akhlak mulia. Seperti Utsman bin Affan yang mengakui keutamaan Zubair, hendaknya kita juga mengakui dan menghargai keutamaan saudara-saudara kita.
- Bermusyawarah dalam memilih pemimpin adalah sunnah para sahabat. Mereka tidak memilih pemimpin berdasarkan hawa nafsu, tetapi berdasarkan keutamaan dan kelayakan.
- Menjauhi ghuluw (berlebihan) dalam memuji atau mencela. Para sahabat saling mengakui keutamaan tanpa merendahkan yang lain.
- Mempelajari sejarah para sahabat dapat menumbuhkan kecintaan kepada mereka dan semangat untuk meneladani akhlak mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.