Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan saat Umar bin Khattab رضي الله عنه ditusuk, lalu Ibnu Abbas رضي الله عنه menghiburnya dengan menyebut keutamaan pergaulannya bersama Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan kaum Muslimin. Umar tidak menyombongkan diri, tetapi mengembalikan semua itu sebagai karunia Allah semata, dan ia justru menyatakan ketakutannya kepada azab Allah serta keinginannya menebus diri dengan emas sebesar bumi. Pelajarannya: keutamaan sejati melahirkan tawadhu, bukan rasa aman dari hisab.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Umar bin Khattab Abu Hafsh Al-Qurasyi Al-Adawi رضي الله عنه, nomor 3692. Perawi sahabat: Al-Miswar bin Makhramah رضي الله عنه, dan pada jalur lain Ibnu Abbas رضي الله عنه.
Ayat yang sangat relevan dengan sikap Umar ini adalah firman Allah:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
(QS. Al-Baqarah [2]: 188)
Terjemahan ringkas: "Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil."
Ayat ini secara umum menunjukkan larangan mengambil hak dengan cara tidak sah; dan para ulama memahaminya sebagai bagian dari prinsip keadilan dan tanggung jawab. Sikap Umar yang takut kepada hisab adalah buah dari kesadaran bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan.
Ayat lain yang lebih dekat maknanya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara."
Hadits ini juga sejalan dengan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه:
لَنْ يُنْجِيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ
Terjemahan ringkas: "Tidak akan menyelamatkan seseorang dari kalian amalnya."
Para sahabat bertanya, "Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak juga aku, kecuali bahwa Allah menyelimutiku dengan rahmat-Nya."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah dengan rahmat Allah, bukan semata amal. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits Umar ini menegaskan bahwa sikap Umar merupakan contoh tawadhu dan khauf (rasa takut) kepada Allah, meskipun ia memiliki keutamaan yang sangat besar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama: Keutamaan Umar bin Khattab رضي الله عنه.
Ibnu Abbas رضي الله عنه menyebutkan tiga fase pergaulan Umar:
- Bersama Rasulullah ﷺ, dan ia berpisah dalam keadaan Nabi ﷺ ridha kepadanya.
- Bersama Abu Bakar رضي الله عنه, dan ia berpisah dalam keadaan Abu Bakar ridha kepadanya.
- Bersama kaum Muslimin, dan ia menjaga hubungan baik dengan mereka.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan ridha Nabi ﷺ dan Abu Bakar kepada Umar adalah bukti keutamaan besar, karena ridha mereka bukanlah ridha biasa, melainkan pengakuan atas keimanan dan ketakwaan Umar.
Kedua: Tawadhu Umar رضي الله عنه.
Umar tidak merasa bangga dengan pujian Ibnu Abbas. Ia justru berkata bahwa semua itu adalah mann (karunia) dari Allah. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Umar dikenal sebagai sosok yang sangat takut kepada Allah dan tidak pernah merasa aman dari makar-Nya, meskipun ia telah dijamin masuk surga melalui berbagai hadits.
Ketiga: Khauf (rasa takut) kepada azab Allah.
Umar berkata, "Demi Allah, jika aku memiliki emas sebesar bumi, aku akan menebus diriku dengan itu dari azab Allah sebelum aku melihat-Nya." Ini menunjukkan bahwa Umar tidak merasa aman dari hisab, meskipun ia memiliki amal yang sangat banyak.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati selalu berada di antara raja' (harapan) dan khauf (takut). Umar adalah contoh sempurna dari keseimbangan ini: ia berharap kepada rahmat Allah, tetapi juga sangat takut kepada azab-Nya.
Keempat: Perbedaan riwayat.
Dalam riwayat Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Ibnu Abi Mulaikah dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Ibnu Abbas sendiri yang masuk menemui Umar. Sedangkan dalam riwayat pertama, Al-Miswar bin Makhramah yang menceritakan. Imam Al-Bukhari menyebutkan keduanya untuk menunjukkan bahwa hadits ini shahih dari dua jalur.
Kelima: Adab dalam menghibur orang sakit.
Ibnu Abbas رضي الله عنه memberikan contoh adab yang indah: ia menghibur Umar dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang Allah berikan kepadanya. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menganjurkan agar seseorang yang menjenguk orang sakit menghiburnya dengan mengingatkan rahmat Allah dan keutamaan amalnya, agar hatinya tenang.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab رضي الله عنه ditusuk oleh Abu Lu'luah saat shalat Subuh, ia merasakan sakit yang sangat. Ibnu Abbas رضي الله عنه yang saat itu masih muda datang menjenguknya. Melihat wajah Umar yang pucat dan tubuhnya yang lemah, Ibnu Abbas berusaha menghiburnya.
Ibnu Abbas berkata dengan lembut, "Wahai Amirul Mukminin, bergembiralah. Engkau telah bersama Rasulullah ﷺ dan engkau menjaga pergaulan itu dengan baik. Engkau telah bersama Abu Bakar dan engkau menjaga pergaulan itu dengan baik. Engkau telah bersama kaum Muslimin dan engkau menjaga pergaulan itu dengan baik."
Namun Umar, dengan mata yang masih jernih meski tubuhnya lemah, menjawab, "Wahai Ibnu Abbas, apa yang engkau sebutkan tentang pergaulan dengan Rasulullah ﷺ dan ridhanya kepadaku, itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepadaku. Begitu juga pergaulan dengan Abu Bakar. Adapun kegelisahanku yang engkau lihat, itu adalah karena aku memikirkan kalian semua. Demi Allah, seandainya aku memiliki emas sebesar bumi, aku akan menebus diriku dengan itu dari azab Allah sebelum aku menghadap-Nya."
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa Umar sangat mencintai kaum Muslimin dan sangat takut kepada Allah. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan umat yang akan ia tinggalkan.
Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menukil bahwa Umar pernah berkata, "Aku tidak pernah merasa aman dari azab Allah sejak aku masuk Islam." Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Tawadhu adalah ciri orang beriman. Umar tidak merasa bangga dengan pujian, tetapi mengembalikan semua keutamaan kepada Allah.
- Jangan merasa aman dari azab Allah. Sebesar apa pun amal kita, kita tetap harus takut kepada hisab Allah.
- Hibur orang sakit dengan mengingatkan rahmat Allah. Seperti yang dilakukan Ibnu Abbas, hiburlah orang yang sakit dengan menyebutkan keutamaan dan rahmat Allah.
- Cintailah kaum Muslimin. Umar memikirkan umatnya bahkan di saat-saat terakhir hidupnya.
- Ridha Nabi ﷺ dan Abu Bakar adalah bukti keutamaan. Kita harus mencintai para sahabat dan mengikuti jejak mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.