Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan Nabi ﷺ. Saat sakaratul maut, beliau mengarahkan pandangannya ke atas dan mengucapkan, "Ar-Rafiq al-A'la" (Kekasih/Teman yang Maha Tinggi) sebanyak tiga kali, yang menandakan pilihan beliau untuk bertemu dengan Allah ﷻ. Hadits ini juga mengisahkan bagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan bijak menenangkan umat yang guncang setelah wafatnya Nabi ﷺ, serta menunjukkan keutamaan besar beliau sebagai Khalifah pertama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab "Pernyataan Nabi ﷺ 'Seandainya Aku Mengambil Seorang Kekasih'", no. 3669, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dalil Al-Qur'an yang Disebut dalam Hadits:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali 'Imran [3]: 144)
Hadits Pendukung tentang "Ar-Rafiq al-A'la":
Dalam riwayat lain dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
"مَا ضَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى"
"Aku tidak merasa sakit (menyaksikan) Rasulullah ﷺ dalam sakitnya yang menyebabkan beliau wafat, kecuali karena beliau mengucapkan: '(Aku memilih) Ar-Rafiq al-A'la (Teman yang Maha Tinggi).'" (HR. Al-Bukhari no. 4436, dari 'Aisyah)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "Ar-Rafiq al-A'la" adalah pilihan Nabi ﷺ untuk bertemu dengan Allah ﷻ dan berkumpul dengan para nabi dan rasul di surga yang tertinggi. Ini menunjukkan kerinduan beliau kepada Rabb-nya, bukan karena bosan dengan kehidupan dunia, melainkan karena cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Allah ﷻ.
Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang makna ini: Beliau menjelaskan bahwa Nabi ﷺ diberikan pilihan antara tetap hidup di dunia atau bertemu dengan Allah ﷻ, dan beliau memilih pertemuan dengan Allah ﷻ. Ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan beliau di sisi Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Ali 'Imran: 144 turun sebagai pelajaran bagi umat setelah wafatnya Nabi ﷺ. Ayat ini mengajarkan bahwa kematian atau terbunuhnya seorang rasul bukanlah alasan untuk murtad dari agama Islam. Agama ini kokoh dengan dalil-dalilnya, bukan dengan keberadaan seseorang.
Kisah Abu Bakar ash-Shiddiq:
Setelah Nabi ﷺ wafat, umat Islam mengalami guncangan hebat. Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu sempat berkata, "Barangsiapa yang mengatakan Muhammad telah mati, maka aku akan penggal lehernya!" Beliau tidak bisa menerima kenyataan ini karena kecintaannya yang luar biasa kepada Nabi ﷺ.
Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berdiri dan berpidato di hadapan orang-orang. Beliau berkata:
"مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ"
"Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati."
Kemudian beliau membacakan ayat QS. Ali 'Imran: 144. Maka Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku hampir jatuh tersungkur karena kaget, sampai-sampai kedua kakiku tidak mampu membawaku. Aku tahu bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat." (HR. Al-Bukhari no. 3668)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pidato Abu Bakar ini adalah salah satu bukti keteguhan dan kebijaksanaan beliau. Allah ﷻ memberikan ketenangan kepada umat melalui lisan Abu Bakar, dan ini menjadi salah satu keutamaan terbesar beliau.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ wafat dalam keadaan memilih yang paling utama, yaitu bertemu dengan Allah ﷻ. Ini juga mengajarkan kita bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari, dan kita harus mempersiapkan diri menghadapinya dengan amal shalih.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, para sahabat sangat sedih dan bingung. Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berdiri di masjid dan berkata dengan tegas, "Demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak mati! Sungguh beliau pergi kepada Rabb-nya sebagaimana Musa bin Imran pergi, lalu beliau akan kembali kepada kita."
Namun ketika Abu Bakar ash-Shiddiq datang dari rumahnya di As-Sunuh, beliau langsung menemui Nabi ﷺ yang telah ditutup kain, lalu mencium wajah beliau dan berkata, "Demi Allah, engkau sungguh telah merasakan kematian yang telah Allah tetapkan untukmu, maka kamu tidak akan mati setelah ini selama-lamanya."
Kemudian Abu Bakar keluar menemui orang-orang yang sedang berkumpul di pintu masjid. Beliau berpidato dengan tenang dan penuh hikmah, membacakan ayat QS. Ali 'Imran: 144. Maka orang-orang pun tersadar dan menerima kenyataan bahwa Nabi ﷺ telah wafat, namun agama Islam tetap tegak.
Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah, tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu kecuali aku terkejut sampai-sampai kedua kakiku tidak mampu membawaku, dan aku jatuh ke tanah. Aku tahu bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat." (HR. Al-Bukhari no. 3668)
Hikmah: Keteguhan dan kebijaksanaan Abu Bakar ash-Shiddiq menyelamatkan umat dari kekacauan. Beliau mengingatkan bahwa agama ini berdiri di atas tauhid kepada Allah ﷻ, bukan kepada manusia. Ini pelajaran berharga bahwa kita harus selalu kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi musibah.
Kesimpulan Praktis
- Cinta kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ adalah sumber ketenangan. Nabi ﷺ memilih bertemu dengan Allah ﷻ karena cinta dan kerinduannya yang mendalam.
- Kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Kita harus mempersiapkan diri dengan amal shalih dan taubat sebelum datangnya kematian.
- Keteguhan iman seperti Abu Bakar ash-Shiddiq adalah teladan. Beliau tidak goyah meskipun kehilangan orang yang paling dicintainya, karena imannya tertambat kepada Allah ﷻ yang Maha Hidup.
- Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi musibah atau ujian, adalah jalan keselamatan.
- Meneladani kelembutan dan kebijaksanaan dalam berdakwah dan menasihati orang lain, sebagaimana Abu Bakar menenangkan umat dengan hikmah dan dalil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.