Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan sebagian perjalanan hijrah Nabi ﷺ bersama Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه, mulai dari persembunyian di bawah naungan batu, susu dari penggembala kambing, hingga dikejar Suraqah bin Malik. Intinya: keteguhan iman, kesetiaan Abu Bakar, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai orang yang beriman dan bertawakal. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar sebagai sahabat paling utama dari kalangan Muhajirin.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat yang sangat relevan dengan ucapan Nabi ﷺ "لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا" adalah firman Allah:
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
QS. At-Taubah [9]: 40
Terjemah ringkas: "Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya, sedang dia salah seorang dari dua orang (yang bersembunyi) di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan kepada-Nya dan memperkuatnya dengan tentara-tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu yang paling rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang paling tinggi. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Para Muhajirin, no. 3652, dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan hadits ini dalam bab keutamaan Muhajirin.
Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini di bawah bab keutamaan Muhajirin. Ini menunjukkan bahwa kisah hijrah bukan sekadar catatan sejarah, tetapi bukti nyata keutamaan para Muhajirin — terutama Abu Bakar رضي الله عنه — yang meninggalkan kampung halaman demi agama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini memuat banyak faedah: keutamaan Abu Bakar, kejujuran muamalah, tawakal, dan mukjizat Nabi ﷺ.
2. Muamalah yang jujur antara Abu Bakr dan 'Azib.
Abu Bakr membeli pelana (rah) dari 'Azib dengan harga tiga belas dirham. Perhatikan: seorang khalifah dan sahabat utama tetap melakukan jual beli secara jelas, dengan harga yang disebutkan, tanpa memanfaatkan kedudukannya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para salaf sangat menjaga kejelasan harga dan barang dalam muamalah, karena itu bagian dari amanah.
3. 'Azib menahan pelana sebagai "syarat" untuk mendengar kisah hijrah.
'Azib berkata: "Tidak, kecuali kamu menceritakan kepada kami bagaimana kamu dan Rasulullah ﷺ ketika keluar dari Makkah." Ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada kisah Nabi ﷺ. Mereka tidak sekadar ingin barang, tetapi ingin ilmu dan kisah yang menguatkan iman. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa mendengarkan kisah Nabi ﷺ dan para salaf adalah sarana menguatkan iman dan meneladani mereka.
4. Perjalanan hijrah dan pencarian naungan.
Abu Bakr menceritakan: mereka berjalan siang malam hingga tengah hari, lalu ia mencari naungan dan menemukan batu besar dengan sisa bayangan. Ia membersihkan tempat itu, membentangkan alas untuk Nabi ﷺ, dan mempersilakan beliau berbaring. Ini menunjukkan adab dan khidmat Abu Bakr kepada Nabi ﷺ: ia mendahulukan kenyamanan Nabi ﷺ sebelum dirinya. Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa dalam seluruh perjalanan hijrah, Abu Bakr selalu berusaha melayani Nabi ﷺ dengan sepenuh tenaga.
5. Penggembala kambing dan susu.
Abu Bakr mencari informasi dan menemukan seorang penggembala. Ia bertanya dengan lembut, meminta susu, dan mengatur cara memerahnya — mengikat kaki kambing, membersihkan ambing dari debu, membersihkan tangan. Lalu ia menuangkan air ke dalam susu agar bagian bawahnya dingin, dan membawanya kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan kecerdasan, kehati-hatian, dan kasih sayang Abu Bakr. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perbuatan Abu Bakr ini menunjukkan bolehnya memanfaatkan susu hewan milik orang lain dengan izin pemiliknya, dan bolehnya mendinginkan minuman untuk orang yang dicintai.
6. Ucapan Nabi ﷺ: "لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا".
Ketika Suraqah bin Malik muncul mengejar dengan kuda, Abu Bakr khawatir bukan karena takut mati, tetapi karena khawatir keselamatan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat yang Allah abadikan dalam QS. At-Taubah [9]: 40. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung tawakal, keyakinan akan pertolongan Allah, dan ketenangan jiwa. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa "Allah bersama kita" berarti pertolongan, perlindungan, dan kemenangan dari Allah.
7. Perbedaan pendapat ulama tentang "ghar" (gua).
Sebagian ulama menyebut gua Tsur, sebagian menyebut gua lain. Ibnu Hajar dan Ibn Katsir menyebutkan bahwa yang masyhur adalah Gua Tsur. Namun yang penting bukan nama guanya, melainkan maknanya: Allah menolong Nabi ﷺ dengan cara yang tidak terduga.
Story Telling
Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه menceritakan kisah ini bukan sebagai dongeng, tetapi sebagai kesaksian. Ia mendengar langsung dari Abu Bakr رضي الله عنه, dan ia menyampaikannya kepada generasi setelahnya. Bayangkan: seorang sahabat muda mendengar kisah hijrah dari lisan orang yang mengalami sendiri peristiwa itu. Ia melihat bagaimana Abu Bakr membersihkan tempat untuk Nabi ﷺ, memerah susu dengan tangan sendiri, dan berkata dengan penuh cinta: "Minumlah, wahai Rasulullah." Lalu ketika bahaya datang, Nabi ﷺ berkata dengan tenang: "Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Kisah ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya teori, tetapi tindakan nyata: khidmat, tawakal, dan keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang beriman.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kesetiaan Abu Bakr رضي الله عنه: mendahulukan Nabi ﷺ, melayani dengan tulus, dan tetap tenang dalam bahaya.
- Jaga kejujuran dalam muamalah: sebutkan harga dan barang dengan jelas, seperti Abu Bakr dan 'Azib.
- Raih ilmu dari kisah salaf: dengarkan dan pelajari kisah Nabi ﷺ dan para sahabat untuk menguatkan iman.
- Tanamkan tawakal: ketika menghadapi kesulitan, ingatlah kalimat "إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا" — Allah bersama orang yang beriman dan bertawakal.
- Jauhi ghuluw: cintai para sahabat sebagaimana mereka dicintai Nabi ﷺ, tanpa berlebihan dan tanpa merendahkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.