Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa penaklukan Khaibar oleh Rasulullah ﷺ. Beliau tiba di pagi hari secara tiba-tiba, sehingga penduduk Khaibar terkejut dan berlindung ke benteng. Nabi ﷺ kemudian mengangkat tangan beliau berdoa dengan bertakbir dan mengucapkan kalimat yang menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang kepada kaum mukminin, dan kehancuran menanti orang-orang yang telah diperingatkan namun tetap memusuhi. Hadits ini mengajarkan tentang adab berperang, kekuatan doa, dan keyakinan akan pertolongan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Perang-perang Nabi), Bab "Ghazwah Khaibar" (HR. Al-Bukhari no. 3647). Lafadz yang Anda sebutkan sesuai dengan riwayat tersebut.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf [7]: 96)
Hadits terkait:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
"إِذَا نَزَلْتُ بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ"
"Jika aku singgah di halaman suatu kaum, maka buruklah pagi hari bagi orang-orang yang telah diperingatkan." (HR. Al-Bukhari no. 3647, Muslim no. 1365)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kalimat "خَرِبَتْ خَيْبَرُ" (Khaibar hancur) adalah doa dari Nabi ﷺ yang bermakna kehancuran bagi penduduk Khaibar karena kekufuran dan permusuhan mereka. Beliau juga menjelaskan bahwa ungkapan "فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ" adalah kalimat yang diambil dari firman Allah dalam Al-Qur'an, yaitu ketika para rasul memperingatkan kaumnya, maka akibat buruk menanti mereka yang tidak mau mendengar peringatan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Strategi Perang yang Cerdas dan Tiba-tiba
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kedatangan Nabi ﷺ ke Khaibar di pagi hari secara tiba-tiba adalah bagian dari strategi perang yang diajarkan Islam. Beliau tidak memberi tahu musuh terlebih dahulu, sehingga mereka tidak sempat mempersiapkan diri. Ini menunjukkan bahwa dalam peperangan, kaum muslimin boleh menggunakan strategi yang cerdas selama tidak melanggar larangan syariat seperti berkhianat.
2. Doa dan Tawakkal kepada Allah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ melihat musuh, beliau mengangkat kedua tangan beliau berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata utama kaum mukminin dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Mengangkat tangan dalam doa adalah bentuk kerendahan diri dan harapan yang kuat kepada Allah.
3. Makna "خَرِبَتْ خَيْبَرُ" (Khaibar hancur)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kalimat ini adalah doa yang diucapkan Nabi ﷺ dengan penuh keyakinan akan pertolongan Allah. Ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan doa yang mustajab. Kehancuran Khaibar terjadi karena penduduknya telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ sebelumnya, namun mereka tetap memilih untuk memusuhi Islam.
4. Makna "فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ"
Kalimat ini diambil dari firman Allah dalam Al-Qur'an:
فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ
"Maka alangkah buruknya pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu." (QS. Ash-Shaffat [37]: 177)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini adalah ancaman bagi orang-orang kafir yang telah diperingatkan oleh para rasul namun tetap mendustakan. Ketika azab Allah datang, maka pagi hari mereka menjadi pagi yang paling buruk dan menyedihkan.
5. Pelajaran tentang Adab Berperang
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarah Kitab At-Tauhid menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ datang dengan pasukan, beliau tetap berdoa dan bertakbir. Ini menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak boleh membuat seorang muslim lupa bahwa kemenangan sejati datangnya dari Allah. Umat Islam diajarkan untuk menggabungkan antara ikhtiar (usaha) dan doa.
Story Telling
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Khaibar, penduduknya keluar membawa cangkul dan alat-alat pertanian mereka. Ketika mereka melihat kedatangan Nabi ﷺ dan pasukannya, mereka berteriak, "Muhammad dan pasukannya!" lalu berlarian masuk ke benteng.
Nabi ﷺ kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa dengan suara yang penuh keyakinan: "Allahu Akbar! Khaibar hancur! Jika kami singgah di halaman suatu kaum, maka buruklah pagi hari bagi orang-orang yang telah diperingatkan."
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Allah ﷻ menanamkan rasa takut di hati musuh-musuh-Nya. Khaibar yang dikenal sebagai benteng terkuat di Jazirah Arab pada masa itu, akhirnya berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin dengan pertolongan Allah. Kemenangan ini bukan hanya karena kekuatan fisik, tetapi karena keimanan, doa, dan tawakkal yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakkal kepada Allah dalam setiap urusan — Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan mudah maupun sulit.
- Menggabungkan ikhtiar dan doa — Nabi ﷺ tetap menyiapkan pasukan dan strategi, namun beliau juga tidak lupa berdoa kepada Allah. Ini adalah keseimbangan yang harus dimiliki setiap muslim.
- Mengangkat tangan saat berdoa — Terutama dalam doa-doa penting, mengangkat tangan adalah bentuk adab yang diajarkan dalam Islam.
- Yakin akan pertolongan Allah — Kemenangan sejati datangnya dari Allah. Sebesar apa pun kekuatan musuh, jika Allah menghendaki kemenangan bagi kaum mukminin, maka tidak ada yang bisa menghalanginya.
- Menjauhi sifat sombong dan ghuluw — Kemenangan bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk disyukuri dan dijadikan sarana untuk semakin taat kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.