Penjelasan Hadits Bukhari No. 3575 tentang Mukjizat air sedikit cukup untuk wudhu delapan puluh orang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan salah satu mukjizat (tanda kenabian) Nabi ﷺ: air dalam wadah batu yang kecil dan sempit cukup untuk wudhu sekitar delapan puluh orang sahabat sekaligus. Ini menunjukkan bahwa Allah memberi keberkahan pada air melalui tangan Nabi ﷺ, sebagai bukti kebenaran kenabian beliau. Anas bin Malik رضي الله عنه menyaksikan langsung peristiwa ini dan menyebutkan jumlah mereka dengan pasti.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah berfirman tentang mukjizat Nabi ﷺ:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

QS. An-Najm [53]: 3-4

Terjemahan: "Dan dia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain ucapannya itu adalah wahyu yang diwahyukan."

Ayat ini menjadi dasar bahwa apa yang Nabi ﷺ kabarkan dan perbuat sebagai tanda kenabian adalah benar, bukan rekayasa.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib (Keutamaan-Keutamaan), Bab Tanda-Tanda Kenabian dalam Islam, nomor 3575. Perawi: Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Humaid, dari Yazid, dari Abdullah bin Munir.

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari jalur lain, di antaranya riwayat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang air yang memancar dari sela-sela jari Nabi ﷺ.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab "A'lam an-Nubuwwah" (tanda-tanda kenabian), yaitu perkara luar biasa yang hanya Allah berikan kepada para nabi untuk membuktikan kerasulan mereka.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa menegaskan bahwa mukjizat air ini terjadi berulang kali dalam beberapa kesempatan berbeda, bukan satu peristiwa saja.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan mukjizat air dari tangan Nabi ﷺ sebagai salah satu bukti kenabian yang mutawatir maknanya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Anas bin Malik رضي الله عنه — pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun — menceritakan sebuah peristiwa ketika waktu shalat tiba. Sebagian sahabat yang rumahnya dekat masjid pulang untuk berwudhu, sementara sebagian lain tetap tinggal. Lalu dibawakan kepada Nabi ﷺ sebuah mikhdhab — yaitu wadah dari batu — yang berisi air. Wadah itu kecil dan sempit. Ketika Nabi ﷺ hendak membuka telapak tangannya ke dalamnya, wadah itu terlalu kecil, sehingga beliau menggenggam jari-jarinya lalu memasukkannya ke dalam wadah. Kemudian seluruh sahabat yang hadir berwudhu dengan air tersebut. Anas berkata: "Aku bertanya, berapa jumlah mereka?" Ia menjawab: "Delapan puluh orang."

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini termasuk kategori mukjizat yang disebut taktsirul ma' (memperbanyak air). Beliau menyebutkan bahwa air yang sedikit menjadi cukup untuk delapan puluh orang berwudhu, dan ini terjadi secara nyata di hadapan banyak saksi sehingga tidak mungkin diragukan. Ibnu Hajar juga menukil bahwa sebagian ulama menyebutkan air itu tidak berkurang sebagaimana mestinya, atau berkurang namun tetap mencukupi — keduanya menunjukkan keberkahan.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa dari Jabir رضي الله عنه menjelaskan bahwa mukjizat ini termasuk dalail an-nubuwwah yang paling jelas, karena disaksikan oleh banyak orang dan diriwayatkan secara luas. Beliau menegaskan bahwa mukjizat bukan sihir, karena sihir adalah kebatilan, sedangkan mukjizat adalah kebenaran yang Allah tampakkan untuk menguatkan para nabi.

Ibnu Taymiyyah dalam Al-Jawab ash-Shahih dan Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa mukjizat para nabi bersifat hissiyah (inderawi) dan ma'nawiyah (maknawi). Mukjizat air ini termasuk yang hissiyah, disaksikan langsung oleh para sahabat, dan menjadi hujjah bagi orang yang menyaksikannya serta bagi umat setelahnya yang menerima riwayatnya dengan sanad yang shahih.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara hikmah mukjizat air ini adalah untuk memuliakan Nabi ﷺ di hadapan para sahabat, meneguhkan iman mereka, dan menjadi bukti bagi orang-orang yang menentang beliau. Beliau juga mencatat bahwa peristiwa serupa terjadi pada beberapa kesempatan, seperti saat Perang Hudaibiyah dan saat perjalanan Tabuk.

Poin penting tentang jumlah delapan puluh orang:

Anas bin Malik رضي الله عنه menyebutkan jumlah secara pasti — delapan puluh orang — yang menunjukkan bahwa peristiwa ini bukanlah sesuatu yang samar atau dibesar-besarkan. Ini adalah kesaksian langsung dari seorang sahabat yang dipercaya, dan jumlah yang disebutkan menunjukkan betapa nyatanya mukjizat tersebut.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah air itu bertambah secara hakiki atau tetap sedikit namun cukup untuk semua. Ibnu Hajar menyebutkan kedua kemungkinan dan tidak memastikan salah satunya, namun beliau menegaskan bahwa apa pun bentuknya, itu adalah mukjizat. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa air itu cukup untuk semua yang hadir, baik dengan bertambah secara hakiki maupun dengan keberkahan yang Allah tanamkan padanya. Keduanya sama-sama menunjukkan kekuasaan Allah dan kebenaran kenabian.

Story Telling

Anas bin Malik رضي الله عنه adalah seorang anak yang tumbuh di rumah Nabi ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan dirinya untuk melayani Rasulullah ﷺ. Selama sepuluh tahun ia bersama Nabi ﷺ, ia menyaksikan langsung berbagai peristiwa luar biasa yang tidak dilihat oleh banyak orang.

Suatu hari, ketika para sahabat berkumpul di masjid dan waktu shalat telah tiba, sebagian mereka pergi berwudhu ke rumah masing-masing. Yang tinggal di masjid hanya sebagian saja. Nabi ﷺ datang, dan dibawakan sebuah wadah batu kecil berisi air. Beliau ingin memasukkan tangannya, tetapi wadah itu terlalu sempit. Maka beliau menggenggam jari-jarinya dan memasukkannya ke dalam wadah.

Kemudian — dengan izin Allah — delapan puluh orang sahabat berwudhu dari air yang sedikit itu. Tidak ada yang kehabisan, tidak ada yang tertinggal. Semua cukup. Anas kecil menyaksikan semuanya, dan bertahun-tahun kemudian ia menceritakannya kepada murid-muridnya dengan detail yang jelas, termasuk jumlah orangnya.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menukil bahwa peristiwa ini terjadi di Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu bukti yang membuat banyak orang masuk Islam pada masa itu. Sebagaimana kisah-kisah mukjizat lainnya, peristiwa ini mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Nabi ﷺ adalah benar-benar utusan-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kebenaran Islam. Peristiwa air yang cukup untuk delapan puluh orang ini disaksikan langsung oleh para sahabat dan diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Kita menerimanya sebagai bagian dari aqidah kita.
  2. Keberkahan datang dari Allah melalui sebab yang Dia kehendaki. Air yang sedikit bisa mencukupi banyak orang jika Allah menghendaki. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan perkara kecil dan selalu bertawakal kepada Allah.
  3. Hendaknya kita meneladani kesungguhan sahabat dalam beribadah. Mereka bersegera berwudhu ketika waktu shalat tiba, sebagian pulang ke rumah, sebagian menunggu. Ini menunjukkan perhatian mereka terhadap shalat berjamaah.
  4. Menerima riwayat sahabat dengan lapang dada. Anas bin Malik رضي الله عنه menyebutkan jumlah dengan pasti, dan para ulama hadits seperti Al-Bukhari, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi menerima riwayat ini sebagai hujjah. Kita pun menerimanya sebagai bagian dari ilmu yang shahih.
  5. Mukjizat bukanlah tujuan, melainkan sarana. Tujuan utamanya adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah menyaksikan atau mendengar mukjizat, yang dituntut dari kita adalah ketundukan dan ketaatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?