Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan sifat fisik Nabi Muhammad ﷺ yang sangat mulia: beliau bertubuh sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), memiliki bahu yang lebar, rambut yang panjangnya mencapai daun telinga, dan beliau tampak sangat tampan ketika mengenakan jubah merah. Hadits ini mengajarkan kita untuk mengenal dan mencintai Rasulullah ﷺ melalui sifat-sifatnya yang disebutkan dalam riwayat shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Teks Hadits (Shahih al-Bukhari, no. 3551):
<p dir="rtl">حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، لَهُ شَعَرٌ يَبْلُغُ شَحْمَةَ أُذُنِهِ، رَأَيْتُهُ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ، لَمْ أَرَ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ. قَالَ يُوسُفُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ: عَنْ أَبِيهِ: إِلَى مَنْكِبَيْهِ.</p>
Makna ringkas:
Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi ﷺ adalah seorang yang bertubuh sedang (tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek), memiliki bahu yang lebar, dan rambutnya panjang hingga mencapai daun telinga. Aku pernah melihat beliau mengenakan jubah merah, dan aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang lebih tampan dari beliau.” Dalam riwayat Yūsuf bin Abī Ishāq dari ayahnya disebutkan: “(Rambutnya) hingga kedua bahunya.”
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlu Sunnah menjelaskan hadits ini dengan perincian sebagai berikut:
- Makna “marbū’an”
Ibnu Hajar al-‘Asqalānī rahimahullah dalam Fatḥul Bārī (6/34) menjelaskan bahwa marbū’ artinya sedang tingginya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Ini menunjukkan bahwa postur Nabi ﷺ adalah proporsional, bukan jangkung atau cebol. Al-Bukhārī sendiri meriwayatkan dari Anas bin Mālik bahwa beliau ﷺ adalah rab’ah (sedang) dan tidak tinggi (lihat Fatḥul Bārī, jilid 6, hlm. 34 – cet. Dār al-Fikr).
- Makna “ba‘īda mā bain al-mankibain”
Artinya jarak antara kedua bahunya lebar. Ibnu Hajar menukil dari Imam al-Khattābī bahwa hal ini menandakan kekuatan dan ketampanan fisik. Bahu yang lebar merupakan sifat yang disukai dan menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam an-Nawawī dalam Syarh Shahih Muslim (15/93 – kitab al-Fadhā’il).
- Makna “lahu sya‘arun yablughu syahmata udzunihi”
Ialah rambut beliau panjangnya mencapai daun telinga. Dalam riwayat lain (Yūsuf bin Abī Ishāq) disebutkan bahwa rambut itu mencapai kedua bahu. Imam Ibnu Hajar menggabungkan kedua riwayat tersebut dengan menyatakan bahwa kadang rambut beliau memanjang hingga bahu, kadang hingga daun telinga, tergantung bagaimana beliau menyisir dan memotongnya. Ini menunjukkan bahwa rambut Nabi ﷺ tidaklah terlalu panjang seperti rambut wanita, tetapi tidak pula terlalu pendek.
- “Ḥullah ḥamrā’u”
Jubah merah yang dimaksud bukanlah merah murni, melainkan pakaian bergaris-garis merah (kain Yaman). Imam an-Nawawī dalam al-Minhāj (15/81) menjelaskan bahwa ḥullah adalah kain atau pakaian yang terdiri dari dua helai, sedangkan warna merahnya adalah garis-garis. Beliau menegaskan bahwa tidak boleh dipahami bahwa Nabi ﷺ memakai pakaian merah polos, karena ada hadits lain yang melarang pakaian mu‘ashfar (kuning) dan merah murni. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar (Fatḥul Bārī, 6/35).
- Ketampanan Nabi ﷺ
Perkataan al-Barā’ “lam ara syai’an qaṭṭu aḥsana minhu” menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling tampan. Hal ini juga dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain, seperti dari Anas bin Mālik dan Jābir bin Samurah. Imam al-Bukhārī dan Imam Muslim sama-sama meriwayatkan keindahan fisik beliau. Syaikh al-Albānī rahimahullah dalam Silsilah al-Aḥādīts ash-Shahīhah (no. 1980) menguatkan bahwa tidak ada seorang pun yang melebihi ketampanan beliau.
Story Telling (Opsional)
Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2337) dari Jābir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku melihat Rasulullah ﷺ pada malam terang bulan (purnama). Aku memandang kepada beliau dan aku memandang kepada bulan. Ternyata beliau lebih aku sukai daripada bulan purnama.” (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa luar biasanya cahaya fisik dan ruhani Nabi ﷺ. Para sahabat tidak bosan memandang beliau, dan mereka lebih mencintai beliau dari apa pun. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu merindukan dan mencintai beliau, walaupun kita tidak sempat melihatnya secara langsung.
Kesimpulan Praktis
- Kita wajib mengimani dan meyakini sifat-sifat fisik Nabi ﷺ yang shahih seperti yang disampaikan dalam hadits ini.
- Mencintai Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari iman, salah satu caranya adalah dengan mengenal dan merenungkan keindahan akhlak dan fisik beliau.
- Tidak boleh berlebihan dalam menggambarkan sifat Nabi ﷺ, tetapi juga tidak boleh meremehkan atau mengingkari riwayat yang shahih.
- Kisah ketampanan Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bersyukur atas nikmat Allah dan meneladani kesederhanaan serta keindahan akhlak beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.