Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3519 tentang Larangan meratapi mayat dengan cara jahiliyah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita larangan keras terhadap tiga perbuatan yang merupakan ciri-ciri kebiasaan orang-orang jahiliyah (masa sebelum Islam): menampar/memukul wajah sendiri saat tertimpa musibah, merobek-robek baju karena kesedihan yang berlebihan, dan menyerukan doa atau seruan dengan cara-cara jahiliyah. Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa orang yang melakukan hal-hal ini tidak termasuk golongan beliau, yang menunjukkan betapa besarnya larangan tersebut. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana seorang Muslim harus bersabar dan menerima ketentuan Allah dengan sikap yang mulia, bukan dengan meratapi secara berlebihan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنِي ثَابِتُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَعَنْ سُفْيَانَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ " لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ "

Terjemahan: "Bukan dari kami siapa yang menampar wajahnya, merobek baju, dan menyerukan seruan jahiliyah." (HR. Al-Bukhari no. 3519, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 153:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."

Juga firman-Nya dalam QS. Ali 'Imran [3]: 139:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

"Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya perbuatan-perbuatan tersebut, dan kata "bukan dari kami" adalah bentuk ancaman keras yang berarti "bukan mengikuti jalan kami" atau "bukan termasuk sunnah kami."
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan makna "seruan jahiliyah" dan perinciannya, serta membawakan beberapa pendapat ulama tentang hal ini.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab "Apa yang Dilarang dari Doa Jahiliyah" untuk menunjukkan bahwa larangan ini terkait dengan kebiasaan buruk masa jahiliyah yang harus ditinggalkan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan terhadap tiga perbuatan yang saling berkaitan, yaitu:

1. Menampar Wajah (ضَرَبَ الْخُدُودَ)

Ini adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah ketika tertimpa musibah, terutama ketika ada kematian. Mereka menampar pipi, memukul wajah, bahkan sampai melukai diri sendiri sebagai bentuk keputusasaan dan ketidaksabaran terhadap takdir Allah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menampar wajah termasuk perbuatan yang diharamkan karena:

  • Menunjukkan ketidaksabaran terhadap qadha dan qadar Allah
  • Menyakiti diri sendiri yang dilarang dalam Islam
  • Menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah yang tidak mengenal Allah dengan benar

2. Merobek Baju (شَقَّ الْجُيُوبِ)

Yaitu merobek kerah baju atau pakaian sebagai ekspresi kesedihan yang berlebihan. Ini juga kebiasaan orang jahiliyah yang menunjukkan sikap memberontak terhadap takdir Allah. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perbuatan ini diharamkan karena termasuk perbuatan sia-sia yang tidak bermanfaat dan menunjukkan ketidaksabaran.

3. Menyerukan Seruan Jahiliyah (دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "seruan jahiliyah" ini:

  • Pendapat pertama: Yang dimaksud adalah meratapi mayat dengan suara keras, menyebut-nyebut kebaikan mayat secara berlebihan, atau memanggil-manggil dengan nama-nama tertentu seperti "Wahai fulan!" dengan nada meratap.
  • Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah doa atau permohonan dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat, seperti meminta kepada selain Allah, atau berdoa dengan keyakinan yang salah.
  • Pendapat ketiga: Yang dimaksud adalah seruan untuk meminta pertolongan kepada selain Allah, atau menyerukan hal-hal yang merupakan kebiasaan jahiliyah seperti membangkitkan fanatisme kesukuan yang berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa "seruan jahiliyah" mencakup semua bentuk doa atau permohonan yang menyelisihi syariat Islam, baik itu meminta kepada selain Allah, meratapi dengan cara yang berlebihan, atau menyerukan hal-hal yang mengandung kesyirikan dan kebid'ahan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang menerima takdir Allah dengan sabar, tidak meratapi musibah dengan cara-cara yang dilarang, dan selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.

Makna "Bukan dari Kami" (لَيْسَ مِنَّا)

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa maknanya adalah "bukan termasuk orang yang mengikuti jalan kami" atau "bukan termasuk golongan kami dalam hal ini." Ini bukan berarti keluar dari Islam, tetapi menunjukkan bahwa perbuatan tersebut sangat tercela dan bertentangan dengan ajaran Nabi ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan besarnya dosa perbuatan tersebut, namun pelakunya tetap muslim selama tidak melakukan kekufuran. Ini adalah bentuk peringatan keras agar umat menjauhi perbuatan tersebut.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang kesabaran seorang sahabat yang bisa menjadi pelajaran. Diriwayatkan bahwa ketika putra Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu meninggal dunia, istrinya Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha menyembunyikan kabar tersebut dari suaminya yang sedang pergi. Ketika Abu Thalhah pulang dan bertanya tentang anaknya, Ummu Sulaim menjawab dengan bijak, "Anakmu sudah tenang." Abu Thalhah mengira anaknya sedang tidur.

Kemudian Ummu Sulaim menyiapkan makan malam untuk suaminya. Setelah Abu Thalhah selesai makan dan merasa kenyang, barulah Ummu Sulaim berkata, "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjam barang kepada keluarga lain, lalu pemiliknya meminta kembali barang tersebut? Apakah mereka berhak menolak?" Abu Thalhah menjawab, "Tentu tidak, mereka harus mengembalikannya." Ummu Sulaim berkata, "Maka bersabarlah, sesungguhnya anakmu telah dipanggil oleh Allah."

Abu Thalhah marah dan berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku dari awal?" Kemudian beliau pergi menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah bagaimana Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha mengajarkan kita tentang kesabaran yang indah. Tidak ada tamparan wajah, tidak ada robekan baju, tidak ada ratapan. Yang ada adalah kepasrahan penuh kepada ketentuan Allah. Inilah teladan dari para sahabat yang mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar saat tertimpa musibah adalah tanda keimanan yang sejati. Jangan menampar wajah, merobek baju, atau melakukan hal-hal yang menunjukkan ketidaksabaran.
  2. Jauhi segala bentuk ratapan berlebihan atas orang yang meninggal. Cukup berdoa untuk kebaikan mereka dan bersabar dengan ketentuan Allah.
  3. Tinggalkan semua kebiasaan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Islam, baik dalam bentuk doa, seruan, maupun perilaku.
  4. Perbaiki cara berdoa — hanya kepada Allah kita meminta, dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
  5. Hibur dan nasihati saudara kita yang tertimpa musibah dengan cara yang baik, ingatkan mereka tentang pahala kesabaran dan keutamaan menerima takdir Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.