Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan penuh harapan. Hadits ini menceritakan tentang seorang laki-laki dari umat terdahulu yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali, namun karena dalam hatinya tertanam rasa takut yang tulus kepada Allah ﷻ, Allah mengampuni dan merahmatinya. Ini menunjukkan bahwa rasa takut kepada Allah yang benar dan disertai tauhid, meskipun amalnya sedikit, bisa menjadi sebab selamatnya seseorang dari azab. Hadits ini juga mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, bahkan mengumpulkan kembali abu yang telah tersebar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab "Hadits Al-Khidhr dengan Musa" (Bab tentang kisah orang yang dibakar dan disebar abunya), nomor 3478. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab At-Taubah, Bab "Qauluhu Ta'ala: Innahu Huwa Yubdi'u wa Yu'id" (Bab tentang firman Allah: "Sesungguhnya Dialah yang memulai dan mengembalikan"), nomor 2756.
Berikut adalah teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
Teks Hadits (dari Shahih Al-Bukhari):
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الْغَافِرِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّ رَجُلًا كَانَ قَبْلَكُمْ رَغَسَهُ اللهُ مَالًا فَقَالَ لِبَنِيهِ لَمَّا حُضِرَ أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ. قَالَ فَإِنِّي لَمْ أَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَإِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اسْحَقُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ. فَفَعَلُوا، فَجَمَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ مَا حَمَلَكَ قَالَ مَخَافَتُكَ. فَتَلَقَّاهُ بِرَحْمَتِهِ
Artinya: Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, "Bahwa ada seorang laki-laki sebelum kalian yang Allah berikan banyak harta. Ketika ia menghadapi kematian, ia berkata kepada anak-anaknya, 'Ayah seperti apakah aku bagi kalian?' Mereka menjawab, 'Sebaik-baik ayah.' Ia berkata, 'Sungguh aku tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Maka jika aku mati, bakarlah aku, lalu hancurkanlah (tubuhku), lalu taburkanlah (abuku) di hari yang berangin kencang.' Maka mereka pun melakukannya. Lalu Allah mengumpulkannya kembali dan berfirman, 'Apa yang mendorongmu melakukan itu?' Ia menjawab, 'Takut kepada-Mu.' Maka Allah pun menyambutnya dengan rahmat-Nya."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
QS. At-Thalaq [65]: 2
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."
Juga firman Allah ﷻ:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
QS. Al-Ma'idah [5]: 27
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa yang dimaksud dengan "takut" dalam hadits ini adalah takut yang lahir dari keimanan dan tauhid, bukan sekadar takut alamiah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan rasa takut kepada Allah dan bahwa Allah mengampuni dosa besar bagi siapa yang mati di atas tauhid, meskipun ia belum sempat beramal saleh.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Makna "Raghasahu Allahu Malan" (Allah memberinya banyak harta)
Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata "raghasa" berarti memberikan harta yang banyak dan melimpah. Orang ini adalah laki-laki yang kaya raya, namun ia mengakui sendiri bahwa ia tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Ini menunjukkan kejujuran dan kesadaran dirinya di akhir hayat.
2. Perintah membakar dan menaburkan abu
Orang ini memerintahkan anaknya untuk membakar tubuhnya, menghancurkannya, lalu menaburkan abunya di hari yang berangin. Ini menunjukkan bahwa ia sangat takut kepada Allah dan menganggap dosanya terlalu besar, sehingga ia ingin "menghilang" agar tidak dihisab. Namun ini adalah pemahaman yang keliru, karena Allah Maha Kuasa untuk mengumpulkan kembali apa pun yang telah tersebar.
3. Pertanyaan Allah: "Apa yang mendorongmu melakukan itu?"
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa jawaban orang itu, "Takut kepada-Mu," adalah jawaban yang jujur dan ikhlas. Rasa takutnya bukanlah takut yang sia-sia, melainkan takut yang lahir dari pengagungan kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa. Inilah yang menjadi sebab Allah mengampuninya.
4. "Fatalaqqahu bi Rahmatihi" (Allah menyambutnya dengan rahmat-Nya)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Meskipun orang ini tidak pernah beramal saleh, namun karena ia mati di atas tauhid dan memiliki rasa takut yang tulus kepada Allah, Allah mengampuninya. Ini adalah bentuk keutamaan tauhid dan rasa takut kepada Allah.
5. Perbedaan pendapat ulama tentang orang ini
Sebagian ulama seperti Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya) berpendapat bahwa orang ini adalah seorang yang beriman namun belum sempat beramal. Sementara itu, Imam Ibnu Hajar menukil pendapat yang menyatakan bahwa orang ini termasuk orang yang jujur dalam takutnya, dan Allah menerima kejujurannya. Yang terpenting, hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk meninggalkan amal saleh, karena justru hadits ini menunjukkan bahwa amal saleh adalah bukti keimanan.
6. Pelajaran tentang kekuasaan Allah
Hadits ini juga mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengumpulkan kembali abu yang telah tersebar di udara. Ini adalah bukti kekuasaan Allah dalam kebangkitan setelah mati. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kebangkitan adalah perkara yang mudah bagi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Yasin [36]: 79.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari sebagian salaf tentang betapa besarnya rahmat Allah bagi orang yang bertakwa. Disebutkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Sesungguhnya seorang hamba bisa saja berbuat dosa, lalu ia terus merasa takut kepada Allah, maka Allah mengampuninya karena rasa takutnya itu." Ini selaras dengan hadits di atas, bahwa rasa takut yang tulus kepada Allah adalah kunci ampunan.
Kisah lain, dari Sufyan Ats-Tsauri, beliau berkata, "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih cepat mendatangkan rahmat Allah selain rasa takut kepada-Nya yang bersemi di dalam hati seorang mukmin." Maka hadits ini menjadi penguat bahwa rasa takut kepada Allah adalah salah satu amalan hati yang paling agung.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, meskipun kita banyak berbuat dosa. Selama masih hidup, pintu taubat terbuka.
- Tanamkan rasa takut kepada Allah di dalam hati, karena rasa takut yang tulus kepada Allah bisa menjadi sebab ampunan, sebagaimana dalam hadits ini.
- Pahami bahwa amal saleh adalah bukti keimanan, dan hadits ini tidak boleh dijadikan alasan untuk malas beribadah. Justru kita harus bersemangat beramal karena takut dan cinta kepada Allah.
- Yakinlah dengan kekuasaan Allah dalam kebangkitan, karena Allah mampu mengumpulkan kembali apa pun yang telah hancur.
- Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk menunda taubat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.