Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab yang sangat agung dalam menyikapi perbedaan bacaan Al-Qur'an (qira'at). Nabi ﷺ menegaskan bahwa perbedaan cara membaca yang benar bukanlah alasan untuk berselisih dan bermusuhan. Beliau melarang keras perpecahan, karena perselisihan itulah yang membinasakan umat-umat terdahulu. Inti hadits ini adalah menjaga persatuan dan menghormati setiap bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab "Qauluhu Ta'ala: Wa laqad arsalna Nuhan..." (HR. Al-Bukhari no. 3476), dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَةَ الْهِلاَلِيَّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلاً، قَرَأَ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ خِلاَفَهَا فَجِئْتُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ فَأَخْبَرْتُهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ وَقَالَ " كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ، وَلاَ تَخْتَلِفُوا، فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا ".
Terjemahan: Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar seorang laki-laki membaca (Al-Qur'an), dan aku mendengar Nabi ﷺ membaca dengan cara yang berbeda dengannya. Maka aku membawanya kepada Nabi ﷺ dan mengabarkan hal itu, lalu aku melihat tanda kebencian di wajah beliau, dan beliau bersabda: 'Kalian berdua sama-sama baik (benar). Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih, maka mereka pun binasa.'"
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal [8]: 46)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
- Kebenaran Qira'at yang Mutawatir: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa perbedaan bacaan (qira'at) yang diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi ﷺ adalah benar dan merupakan wahyu dari Allah. Beliau menegaskan bahwa tidak boleh mengingkari salah satu qira'at yang shahih, karena semuanya datang dari sisi Allah. Perbedaan ini adalah rahmat dan kemudahan bagi umat, bukan sumber perpecahan.
- Larangan Berselisih: Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa larangan Nabi ﷺ untuk berselisih di sini adalah larangan untuk saling menyalahkan dan bermusuhan karena perbedaan yang sebenarnya dibenarkan. Yang dilarang adalah perselisihan yang membawa pada perpecahan dan kebinasaan, seperti yang terjadi pada umat-umat sebelumnya.
- Adab Menyikapi Perbedaan: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menekankan bahwa seorang mukmin hendaknya berlapang dada terhadap perbedaan yang dibenarkan syariat. Sikap yang benar adalah mengakui kebaikan dan kebenaran pada pihak lain, selama semuanya bersumber dari dalil yang shahih.
- Hikmah Larangan: Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Kitab Hadits Para Nabi untuk menunjukkan bahwa perselisihan adalah sebab kehancuran umat terdahulu. Ini adalah pelajaran berharga agar umat Islam senantiasa menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah belah karena hal-hal yang masih dalam koridor yang dibenarkan.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang beliau ketahui. Umar hampir saja menegurnya, namun ia menahannya hingga Hisyam selesai. Kemudian Umar membawanya menghadap Nabi ﷺ dan melaporkan perbedaan bacaan tersebut. Nabi ﷺ bersabda: "Lepaskan dia. Bacalah wahai Hisyam." Maka Hisyam membacanya sebagaimana tadi. Nabi ﷺ bersabda: "Begitulah diturunkan." Kemudian beliau meminta Umar untuk membaca, dan Umar membacanya dengan bacaannya. Nabi ﷺ bersabda: "Begitulah diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh macam bacaan), maka bacalah yang mudah bagimu." (HR. Al-Bukhari no. 2419 dan Muslim no. 818).
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat pun pernah mengalami kebingungan dan perbedaan, namun mereka menyelesaikannya dengan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk saling menerima selama bacaan tersebut benar dan diajarkan oleh beliau.
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Yakinlah bahwa semua qira'at yang shahih adalah benar dan berasal dari Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama Ahlus Sunnah.
- Jangan mudah menyalahkan saudara muslim yang membaca Al-Qur'an dengan bacaan (qira'at) lain yang shahih dan mutawatir.
- Jadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai alat untuk berpecah belah dan saling membenci.
- Kembalikan setiap perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama salaf, bukan kepada hawa nafsu atau fanatisme golongan.
- Jaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah, karena perpecahan adalah sebab kehancuran umat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.