Penjelasan Hadits Bukhari No. 3463 tentang Larangan menyakiti diri sendiri karena tidak sabar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan seorang laki-laki dari umat terdahulu yang mengalami luka parah. Karena tidak sabar menahan sakit, ia memotong tangannya sendiri dengan pisau hingga meninggal dunia. Allah murka atas perbuatannya karena ia telah mendahului ketetapan Allah dengan membunuh dirinya sendiri. Hadits ini menunjukkan larangan keras bunuh diri dan bahwa putus asa dari rahmat Allah serta tidak sabar atas ujian adalah perkara yang sangat tercela.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi (Ahaditsil Anbiya'), Bab "Ma Dzukira 'An Bani Israil", no. 3463, dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

(QS. An-Nisa' [4]: 29)

Kaitan dengan Ulama:

Perkataan ulama tentang larangan bunuh diri dan sikap tidak sabar atas ujian banyak diriwayatkan. Di antaranya, Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat di atas adalah larangan tegas dari Allah untuk membunuh diri sendiri, baik dengan cara langsung maupun tidak langsung. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya juga menegaskan bahwa larangan ini mencakup segala bentuk tindakan yang membahayakan jiwa, dan bahwa Allah melarang hal tersebut karena kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Kisah dan Maknanya: Hadits ini menceritakan seorang laki-laki dari Bani Israil yang terluka. Karena rasa sakitnya sangat berat dan ia tidak sabar (jazi'a), ia mengambil pisau dan memotong tangannya sendiri. Akibatnya, darah tidak berhenti mengalir hingga ia meninggal dunia. Ini menunjukkan betapa bahayanya sifat tidak sabar dan putus asa.
  2. Murka Allah atas Perbuatan Tersebut: Dalam hadits Qudsi ini, Allah berfirman, "Hamba-Ku telah mendahului-Ku dengan (membawa) dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga." Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "badarani bi nafsihi" adalah ia bersegera membunuh dirinya sendiri sebelum ajalnya tiba yang telah ditentukan oleh Allah. Tindakan ini adalah bentuk ketidakridhaan terhadap takdir Allah dan pelanggaran atas hak Allah yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.
  3. Hukum Bunuh Diri: Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, sepakat bahwa bunuh diri adalah dosa besar. Pelakunya terancam kekal di neraka jika ia meyakini keharamannya namun tetap melakukannya (dengan catatan, urusan akhiratnya diserahkan kepada Allah, jika Allah berkehendak mengampuni, maka Dia Maha Pengampun, namun ancaman hadits ini sangat serius). Namun, perlu dipahami bahwa ancaman "diharamkan baginya surga" adalah untuk menunjukkan besarnya dosa ini, bukan berarti pelakunya otomatis kekal di neraka jika ia seorang mukmin. Ini adalah masalah yang termasuk dalam kehendak Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya sesuai kadar dosanya, kemudian memasukkannya ke surga. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa dosa bunuh diri tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun ia terancam dengan azab yang pedih di akhirat.
  4. Pelajaran tentang Kesabaran: Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa kesabaran adalah obat yang paling ampuh untuk menghadapi musibah. Orang yang tidak sabar justru akan menambah penderitaannya, baik di dunia maupun di akhirat. Kisah dalam hadits ini adalah contoh nyata bagaimana ketidaksabaran seseorang membawanya pada kebinasaan.
  5. Hikmah Larangan: Allah melarang bunuh diri karena Dia Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang mukmin, kecuali di dalamnya ada kebaikan dan pahala jika ia bersabar. Dengan bersabar, seorang hamba akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi yang lain, "Aku menyediakan bagi hamba-Ku yang shalih apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia."

Story Telling

Dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Ada seorang laki-laki di antara orang-orang sebelum kalian yang terluka. Ia merasa sangat sakit dan tidak sabar, lalu ia mengambil pisau dan memotong tangannya. Maka darahnya tidak berhenti mengalir hingga ia mati." (HR. Al-Bukhari)

Kisah ini sangat singkat namun penuh makna. Bayangkan, sakit karena luka saja sudah membuatnya tidak mampu bersabar, hingga ia mengambil jalan pintas yang salah. Padahal, jika ia bersabar, mungkin lukanya akan sembuh dan ia akan mendapatkan pahala. Namun, karena putus asa dan tidak sabar, ia justru kehilangan nyawanya dan mendapat murka Allah.

Imam Al-Hasan Al-Bashri -rahimahullah- seringkali menangis ketika menyebutkan tentang kematian dan hari akhir. Beliau sangat takut jika amalannya tidak diterima. Suatu kali, beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak akan bisa merasakan manisnya iman sampai kalian bersabar atas pahitnya dunia." Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah kunci untuk meraih kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi segala bentuk bunuh diri, apa pun alasannya. Ini adalah dosa besar yang diancam dengan neraka.
  2. Perbanyaklah berdoa dan bersabar ketika menghadapi musibah, sakit, atau ujian hidup. Ingatlah bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melampaui batas kemampuannya.
  3. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Rasa sakit, kesulitan, dan ujian adalah bagian dari takdir Allah yang memiliki hikmah. Allah mencintai hamba-Nya yang bersabar.
  4. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis yang berat hingga terlintas pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segeralah berkonsultasi dengan ahli (psikiater/psikolog) dan perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah serta memohon pertolongan-Nya. Ini bukanlah aib, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga diri yang diperintahkan agama.
  5. Pahami bahwa sakit dan ujian adalah penghapus dosa bagi seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?