Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perumpamaan yang sangat indah dari Nabi ﷺ tentang umat Islam dibandingkan umat-umat sebelumnya. Umat Islam diibaratkan pekerja yang bekerja pada waktu paling singkat (dari Ashar hingga Maghrib) namun mendapat upah paling besar (dua qirath). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ, kemuliaan syariat Islam, dan luasnya karunia Allah. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak iri kepada orang lain, karena karunia Allah diberikan sesuai kehendak-Nya dengan penuh keadilan dan hikmah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab "Apa yang Diceritakan tentang Bani Israel", no. 3459, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran [3]: 110)
Allah Ta'ala juga berfirman:
ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar." (QS. Al-Hadid [57]: 21)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, menegaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan umat Muhammad ﷺ dari sisi singkatnya masa dan banyaknya pahala.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits semakna dan menekankan bahwa ini adalah kabar gembira bagi umat Islam tentang keutamaan mereka di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:
1. Perumpamaan Waktu dan Keutamaan Umat Islam
Nabi ﷺ mengumpamakan usia dunia dan perjalanan umat manusia seperti satu hari. Umat-umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani) diibaratkan bekerja di pagi dan siang hari, sementara umat Islam diibaratkan bekerja di waktu Ashar hingga Maghrib — waktu yang paling singkat. Namun justru umat Islam yang mendapat upah dua qirath (dua kali lipat). Ini menunjukkan bahwa meskipun usia umat Islam secara keseluruhan lebih pendek dibanding umat-umat sebelumnya, pahala dan keutamaan mereka lebih besar.
2. Makna "Dua Qirath"
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa dua qirath ini adalah simbol dari dua kali lipat pahala yang Allah berikan kepada umat Islam. Ini karena umat Islam beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul, mengamalkan seluruh syariat yang sempurna, dan tidak ada nabi lagi setelah Muhammad ﷺ. Sementara umat sebelumnya hanya diwajibkan sebagian syariat dan masa mereka lebih panjang.
3. Kemarahan Yahudi dan Nasrani
Ketika mereka melihat umat Islam mendapat pahala lebih besar dengan amal yang lebih singkat, mereka marah dan berkata, "Kami lebih banyak beramal dan lebih sedikit mendapat upah." Ini menggambarkan sifat iri dan dengki yang tercela. Namun Allah menjawab dengan adil: "Apakah Aku menzalimi kalian dari hak kalian sedikit pun?" Mereka menjawab, "Tidak." Maka Allah berfirman, "Itu adalah karunia-Ku, Aku memberikannya kepada siapa yang Aku kehendaki."
4. Pelajaran tentang Karunia Allah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa karunia Allah tidak bisa dituntut oleh siapapun. Allah memberi sesuai hikmah dan keadilan-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa berkata, "Mengapa dia mendapat lebih?" karena semua adalah hak mutlak Allah.
5. Pelajaran tentang Iri Hati
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa iri hati adalah penyakit hati yang pertama kali muncul ketika Allah memberi karunia kepada sebagian hamba-Nya. Hadits ini mengajarkan kita untuk menerima takdir Allah dengan lapang dada dan tidak iri kepada keutamaan orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri — seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud — pernah menangis ketika membaca ayat tentang karunia Allah. Beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya Allah memberi karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa memandang banyak atau sedikitnya amal. Maka perbanyaklah memohon karunia Allah, karena Dia Maha Pemurah lagi Maha Memberi."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa keutamaan dan pahala adalah murni karunia Allah. Kita tidak boleh merasa bangga dengan amal kita, karena bisa jadi amal kita sedikit namun Allah melipatgandakannya, atau amal kita banyak namun tidak diterima karena kurang ikhlas. Yang terpenting adalah keikhlasan dan mengikuti sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah menjadi umat Muhammad ﷺ — kita diberi syariat yang sempurna, pahala yang berlipat, dan masa yang singkat namun penuh keberkahan.
- Jangan iri kepada kelebihan orang lain — karena karunia Allah diberikan sesuai kehendak-Nya dengan penuh keadilan.
- Perbanyak amal di waktu yang tersisa — seperti pekerja yang memanfaatkan waktu Ashar hingga Maghrib, kita harus memanfaatkan sisa umur kita dengan sebaik-baiknya.
- Jangan berdebat tentang takdir Allah — terimalah ketentuan-Nya dengan ridha dan tawakal.
- Raih "dua qirath" dengan iman dan amal shalih — keutamaan ini didapat dengan beriman kepada seluruh rasul dan mengamalkan syariat Nabi Muhammad ﷺ secara istiqamah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.