Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pelajaran agung tentang adab kita kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau melarang kita bersikap ghuluw (berlebihan) dalam memujinya, seperti kaum Nasrani yang berlebihan memuji Nabi Isa 'alaihis salam hingga menjadikannya tuhan. Sebagai gantinya, kita diperintahkan untuk menyebut beliau dengan sebutan yang tepat dan penuh cinta: hamba Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi yang justru menjaga kemuliaan beliau di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, Bab: "Dan sebutkanlah dalam kitab Maryam ketika ia menjauh dari keluarganya" (no. 3445), dari sahabat mulia Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Selain itu, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan An-Nasa'i dari jalur lain. Berikut teks haditsnya:
Teks Arab (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ، يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، سَمِعَ عُمَرَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: "لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ".
Terjemahan: Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata di atas mimbar: "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.'"
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 111:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada penolong bagi-Nya dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'"
Ayat ini menegaskan kesucian Allah dari sifat memiliki anak, yang merupakan bantahan terhadap keyakinan Nasrani tentang Nabi Isa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata "لَا تُطْرُونِي" (janganlah kalian mengitrani/memuji secara berlebihan) berasal dari kata al-itraa' yang berarti melampaui batas dalam pujian. Ini adalah larangan tegas dari Nabi ﷺ.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ghuluw (berlebihan) dalam memuji makhluk adalah pintu menuju kesyirikan. Beliau berkata: "Barangsiapa yang memuji makhluk melebihi kedudukannya, maka ia telah menyerupai perbuatan orang-orang Nasrani terhadap Nabi Isa." Beliau juga menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak boleh membawa seseorang pada perbuatan yang dilarang oleh Nabi ﷺ sendiri.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini mencakup semua bentuk pujian yang berlebihan, seperti mengangkat derajat beliau melebihi statusnya sebagai hamba dan rasul, atau meminta pertolongan kepada beliau dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa makna hadits ini adalah: "Janganlah kalian memujiku dengan pujian yang bathil dan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa dengan mengakuinya sebagai tuhan atau anak Tuhan. Karena sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya."
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita dua hal sekaligus:
- Larangan untuk berlebihan dalam memuji Nabi ﷺ, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
- Perintah untuk menggunakan sebutan yang tepat dan penuh adab: "Abdullah wa Rasuluh" (hamba Allah dan Rasul-Nya). Sebutan ini mengandung puncak penghormatan, karena menjadi hamba Allah adalah kemuliaan tertinggi, dan menjadi Rasul-Nya adalah tugas mulia yang diemban beliau.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ harus dibingkai dengan ittiba' (mengikuti) sunnahnya, bukan dengan ibda' (mengada-adakan) perkara baru dalam agama. Beliau berkata: "Sesungguhnya memuliakan Nabi ﷺ adalah dengan mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak berlebihan dalam memujinya."
Perbedaan pendapat di antara ulama tentang hukum tawassul (memohon perantaraan) kepada Nabi ﷺ setelah wafatnya adalah masalah yang sudah masyhur. Namun yang disepakati semua ulama dari daftar rujukan kita adalah: tidak boleh meminta langsung kepada Nabi ﷺ apa yang hanya bisa diberikan oleh Allah, karena ini adalah bentuk ghuluw yang dilarang dalam hadits ini.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang adab para sahabat kepada Nabi ﷺ. Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Nabiyyallah, kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Nabi ﷺ menegurnya dengan tegas: "Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Tidak! Tetapi katakanlah: 'Kehendak Allah semata.'" (HR. An-Nasa'i, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ sangat menjaga kemurnian tauhid, bahkan dalam hal perkataan yang mungkin terlihat sepele. Beliau tidak ingin umatnya terbiasa dengan ucapan yang bisa mengarah pada kesyirikan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada umatnya, hingga beliau mengajarkan adab yang paling halus sekalipun.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi pujian berlebihan kepada Nabi ﷺ, seperti menyebut beliau dengan sifat-sifat yang hanya milik Allah, atau meyakini beliau mengetahui perkara gaib secara mutlak.
- Gunakan sebutan yang diajarkan Nabi ﷺ: "hamba Allah dan Rasul-Nya" sebagai bentuk penghormatan yang benar.
- Cintai Nabi ﷺ dengan cara mengikuti sunnahnya, bukan dengan mengada-adakan perayaan atau amalan yang tidak beliau ajarkan.
- Jadikan hadits ini sebagai pelajaran untuk tidak berlebihan dalam memuji siapa pun, baik ulama, pemimpin, atau orang-orang saleh, karena pujian yang berlebihan bisa merusak orang yang dipuji dan menjerumuskan yang memuji.
- Perbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ dengan lafazh yang diajarkan beliau, seperti "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad" tanpa menambah-nambah dengan lafazh yang tidak ada tuntunannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.