Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan kedudukan mulia Nabi Isa ‘alaihis salam dan hubungan erat antara beliau dengan Nabi Muhammad ﷺ. Para nabi semuanya bersaudara dalam akidah tauhid, meskipun syariat mereka berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa agama yang benar sejak awal adalah Islam, yaitu menyerahkan diri kepada Allah semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab: “Dan sebutkanlah dalam kitab (Maryam) ketika ia menjauh dari keluarganya” (no. 3443). Berikut adalah teks hadits lengkap dengan sanadnya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ، حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ".
Terjemahan:
“Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat. Para nabi adalah saudara seayah (berbeda ibu), ibu-ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu.”
Ayat Al-Qur’an yang terkait dengan makna ini, misalnya firman Allah:
﴿شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ﴾
(QS. Asy-Syura [42]: 13)
Terjemahan:
“Dia telah mensyariatkan kepadamu tentang agama sebagaimana yang telah diwasiatkan kepada Nuh, dan apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa faedah besar yang dijelaskan oleh para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah:
- Makna “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling berhak menyandang hubungan dan persaudaraan dengan Nabi Isa di antara seluruh umat manusia. Hal ini karena tidak ada nabi lain yang diutus antara Isa dan Muhammad, dan keduanya sama-sama membawa ajaran tauhid. Beliau ﷺ juga yang akan menjadi pemimpin para nabi pada hari kiamat, dan beliau yang akan memberi syafaat.
- Para nabi adalah saudara seayah (li’allat)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa “li’allat” artinya saudara satu ayah tetapi berbeda ibu. Ini adalah kiasan yang sangat indah: para nabi memiliki satu ayah yaitu agama tauhid (ushuluddin), tetapi syariat dan hukum-hukum cabang mereka berbeda-beda sesuai zaman dan kondisi umat.
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa inti dakwah semua nabi adalah Laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang benar selain Allah).
- “Agama mereka satu”
Maksudnya adalah pokok agama mereka sama, yaitu tauhid, ikhlas beribadah kepada Allah, dan menjauhi kesyirikan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam mengatakan bahwa para nabi bersepakat dalam prinsip-prinsip akidah, meskipun dalam furu’ (cabang) mereka berbeda.
- Kedudukan Nabi Isa ‘alaihis salam
Dalam hadits ini, Nabi Muhammad ﷺ secara khusus menyebut dirinya paling dekat dengan Isa. Ini menunjukkan kemuliaan Nabi Isa dan bahwa beliau adalah nabi yang sangat dimuliakan dalam Islam. Tidak ada jarak kenabian antara Isa dan Muhammad, sehingga umat Islam wajib beriman kepada Isa sebagai nabi dan rasul, serta meyakini bahwa beliau akan turun di akhir zaman sebagai pengikut syariat Nabi Muhammad ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku adalah orang yang paling berhak dengan Isa bin Maryam di dunia dan akhirat. Para nabi adalah saudara seayah, ibu mereka berbeda-beda, dan agama mereka satu.”
(HR. al-Bukhari no. 3443)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa meskipun para nabi berasal dari zaman, bangsa, dan tempat yang berbeda, mereka semua bersatu dalam satu misi: mengajak manusia menyembah Allah semata. Tidak ada pertentangan di antara mereka. Maka, seorang mukmin tidak boleh membeda-bedakan para nabi dalam hal keimanan, tetapi wajib beriman kepada mereka semua.
Kesimpulan Praktis
- Wajib beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan.
- Inti agama semua nabi adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.
- Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin para nabi dan yang paling dekat dengan Nabi Isa.
- Umat Islam harus mencintai dan memuliakan Nabi Isa ‘alaihis salam sebagai nabi yang mulia.
- Perbedaan syariat antara para nabi adalah rahmat dan sesuai dengan kondisi umat masing-masing.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.