Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ melihat Nabi Musa, Isa, dan Ibrahim ‘alaihimus salam pada malam Isra' Mi'raj. Nabi Isa digambarkan berkulit merah, berambut keriting, dan berbadan kekar; sedangkan Nabi Musa digambarkan berkulit coklat, berambut lurus, dan bertubuh tinggi. Ini adalah kabar tentang sifat fisik para nabi yang Allah perlihatkan kepada Nabi ﷺ, dan menjadi dalil bahwa ruh para nabi tetap dalam bentuk aslinya serta bahwa Isra' Mi'raj adalah peristiwa yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ahaditsil Anbiya', dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan).
Teks hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ، أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ "رَأَيْتُ عِيسَى وَمُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ، فَأَمَّا عِيسَى فَأَحْمَرُ جَعْدٌ عَرِيضُ الصَّدْرِ، وَأَمَّا مُوسَى فَآدَمُ جَسِيمٌ سَبْطٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الزُّطِّ"
Terjemahan: "Aku melihat Isa, Musa, dan Ibrahim. Adapun Isa, ia berkulit merah, berambut keriting, dan lebar dadanya (kekar). Adapun Musa, ia berkulit coklat (sawo matang), bertubuh besar/tinggi, berambut lurus, seolah-olah ia dari kaum Az-Zutt."
Ayat yang berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
QS. Al-Isra' [17]: 1
Terjemahan: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk dalam bab tentang berita-berita para nabi, dan disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan bagian dari hadits-hadits tentang Isra' Mi'raj, di mana Nabi ﷺ diperlihatkan para nabi terdahulu. Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa penyebutan sifat-sifat fisik ini bertujuan agar umat Islam mengenali para nabi dan menegaskan bahwa mereka adalah manusia nyata, bukan mitos.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa kata "جَعْد" (ja'd) berarti rambut yang keriting atau bergelombang, bukan lurus. Adapun "سَبْط" (sabt) berarti rambut yang lurus. Ini menunjukkan perbedaan fisik antara Nabi Isa dan Nabi Musa 'alaihimas salam.
Kata "أَحْمَر" (ahmar) pada Nabi Isa ditafsirkan oleh para ulama sebagai warna kulit yang kemerahan, yaitu warna kulit yang cerah kemerah-merahan, bukan merah menyala. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah warna kulit yang biasa ditemukan pada bangsa Romawi atau penduduk Syam. Adapun "آدَم" (aadam) pada Nabi Musa berarti warna kulit coklat atau sawo matang, yaitu warna kulit orang Arab dan penduduk Timur Tengah pada umumnya.
Kata "عَرِيضُ الصَّدْرِ" (‘aridhush shadr) berarti lebar dadanya, yang menunjukkan kekuatan dan kekar. Sedangkan "جَسِيمٌ" (jasiim) berarti bertubuh besar atau tinggi.
Adapun "الزُّطِّ" (Az-Zutt) adalah nama suatu kaum yang dikenal memiliki tubuh tinggi dan rambut lurus, yang pada masa itu tinggal di wilayah Irak atau India. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyebutan ini adalah untuk memberikan gambaran yang bisa dipahami oleh pendengar hadits saat itu.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah ketika membahas kisah Isra' Mi'raj menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat para nabi dalam bentuk asli mereka, dan ini adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada beliau. Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa ruh para nabi tetap dalam bentuk jasad mereka di alam barzakh, dan Allah memperlihatkan mereka kepada Nabi ﷺ pada malam itu.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsirnya ketika menafsirkan QS. Al-Isra' [17]: 1 menjelaskan bahwa Isra' Mi'raj adalah perjalanan yang Allah khususkan bagi Nabi ﷺ untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, termasuk bertemu dengan para nabi. As-Sa'di menegaskan bahwa peristiwa ini adalah haq (benar) dan tidak boleh diingkari.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para nabi memiliki bentuk fisik yang berbeda-beda, dan ini tidak mengurangi kemuliaan mereka. Beliau juga menegaskan bahwa melihat para nabi dalam mimpi atau dalam keadaan terjaga (seperti Isra' Mi'raj) adalah mungkin dengan izin Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam memahami hadits ini. Semua ulama sepakat bahwa ini adalah berita yang benar dari Nabi ﷺ, dan bahwa sifat-sifat fisik yang disebutkan adalah sifat asli para nabi. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan hadits ini sebagaimana adanya tanpa ta'wil (penakwilan) yang berlebihan, sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj kepada penduduk Mekkah, sebagian orang Quraisy mendustakannya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu langsung membenarkannya tanpa ragu. Ketika ditanya bagaimana ia bisa percaya begitu cepat, Abu Bakar berkata, "Aku sudah membenarkannya dalam hal yang lebih besar dari itu, yaitu berita wahyu dari langit." Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.
Hikmahnya: Keimanan kepada berita-berita gaib yang disampaikan Nabi ﷺ adalah tanda kejujuran iman. Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum menerima berita ini tanpa keraguan, dan ini menjadi teladan bagi kita.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini menegaskan kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj dan bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat para nabi.
- Kita meyakini sifat-sifat fisik para nabi yang disebutkan dalam hadits ini sebagai berita yang benar, tanpa menambah atau mengurangi.
- Perbedaan fisik para nabi menunjukkan kekuasaan Allah dalam menciptakan makhluk-Nya.
- Hendaknya kita meneladani keimanan para sahabat yang langsung membenarkan berita Nabi ﷺ tanpa ragu.
- Hendaknya kita mempelajari hadits-hadits tentang para nabi untuk menambah keimanan dan kecintaan kepada mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.