Penjelasan Hadits Bukhari No. 3436 tentang Kisah tiga bayi yang berbicara dalam buaian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan tiga orang yang berbicara saat masih bayi atau dalam buaian sebagai mukjizat dari Allah: pertama, Nabi Isa 'alaihis salam; kedua, Juraij yang dijaga Allah dari fitnah keji berkat keikhlasan dan kesabarannya; ketiga, seorang bayi yang berbicara untuk mengajarkan hakikat kemuliaan di sisi Allah—bukan berdasarkan harta, kedudukan, atau kecantikan, melainkan ketakwaan dan kesucian diri dari dosa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab: "Dan sebutkan dalam kitab Maryam ketika ia menjauh dari keluarganya" (no. 3436), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2550).

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا ۗ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

"Dan mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.' Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar." (QS. Maryam [19]: 88)

Ayat ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari sebagai pengantar bab sebelum membawakan hadits ini, karena di dalamnya terdapat kisah Nabi Isa yang berbicara saat masih bayi untuk membantah tuduhan kaumnya terhadap ibunya Maryam.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa kisah Nabi Isa yang berbicara dalam buaian merupakan mukjizat nyata yang Allah berikan untuk membela kesucian Maryam dan membuktikan kebenaran kenabian Isa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran agung yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Kisah Pertama: Nabi Isa 'alaihis salam

Nabi Isa berbicara saat masih bayi dalam buaian untuk membela ibunya Maryam dari tuduhan keji kaumnya. Ini adalah mukjizat yang Allah berikan kepadanya sebagai bukti kekuasaan Allah dan kesucian Maryam. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini merupakan salah satu bukti kenabian Isa dan kebesaran Allah yang mampu membuat bayi berbicara.

2. Kisah Kedua: Juraij dan Ujian Kesabaran

Juraij adalah seorang ahli ibadah dari Bani Israel yang tekun beribadah dalam tempat peribadatannya (shau-ma'ah). Suatu hari ibunya memanggilnya saat ia sedang shalat sunnah. Juraij bimbang antara menjawab panggilan ibunya atau melanjutkan shalatnya. Ia memilih melanjutkan shalat, dan ibunya yang kecewa mendoakan keburukan baginya.

Para ulama menjelaskan pelajaran penting di sini: dalam Islam, berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang agung. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Juraij sebenarnya lebih utama menjawab panggilan ibunya, karena berbakti kepada ibu adalah kewajiban yang lebih didahulukan daripada shalat sunnah. Namun karena ia belum mengetahui hukum ini dengan jelas, ia memilih melanjutkan shalatnya. Ini menunjukkan bahwa keutamaan ilmu dan pemahaman sangat penting dalam beribadah.

Kemudian Allah menguji Juraij dengan fitnah besar. Seorang wanita pezina menuduhnya sebagai ayah dari anaknya. Orang-orang merobohkan tempat ibadahnya dan menghinanya. Namun Juraij tetap tenang, berwudhu, shalat, kemudian bertanya kepada bayi tersebut, "Siapa ayahmu?" Bayi itu menjawab, "Penggembala." Maka terbuktilah kesucian Juraij.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang ikhlas dan sabar dalam menghadapi ujian. Juraij tidak membela diri dengan kekuatan atau amarah, tetapi dengan ketenangan dan tawakal kepada Allah.

3. Kisah Ketiga: Bayi yang Mengajarkan Hakikat Kemuliaan

Seorang wanita Bani Israel sedang menyusui anaknya. Ketika seorang penunggang kuda yang tampan dan berwibawa lewat, ia berdoa agar anaknya menjadi seperti orang itu. Bayinya yang masih menyusu tiba-tiba berbicara dan berdoa agar tidak menjadi seperti penunggang itu. Kemudian ketika seorang budak wanita yang dituduh mencuri dan berzina lewat, wanita itu berdoa agar anaknya tidak menjadi seperti budak tersebut. Namun bayinya justru berdoa agar menjadi seperti budak wanita itu.

Bayi itu menjelaskan alasannya: penunggang kuda itu adalah seorang tiran yang sombong dan zalim, sedangkan budak wanita itu dituduh berzina dan mencuri padahal ia bersih dari tuduhan tersebut. Maka kemuliaan sejati bukan pada kedudukan duniawi, tetapi pada kesucian jiwa dan ketakwaan kepada Allah.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kisah ini mengajarkan kita untuk tidak tertipu oleh kemegahan dunia. Orang yang berkuasa namun zalim lebih rendah di sisi Allah daripada orang yang hina namun bersih dari dosa.

4. Pelajaran tentang Mukjizat dan Kekuasaan Allah

Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini dalam bab tentang kisah para Nabi untuk menunjukkan bahwa mukjizat berbicara saat bayi adalah perkara yang mungkin terjadi dengan kekuasaan Allah. Ini juga menjadi dalil bahwa Allah mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits ini, beliau mempraktikkan bagaimana bayi itu menyusu dengan memasukkan jarinya ke mulut dan mengisapnya, meniru gerakan Nabi ﷺ saat menyampaikan hadits ini. Para sahabat yang hadir dapat membayangkan dengan jelas bagaimana mukjizat itu terjadi.

Kisah ini mengingatkan kita pada kisah Maryam binti Imran yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Ketika ia melahirkan Nabi Isa sendirian di bawah pohon kurma, dan kaumnya menuduhnya dengan tuduhan keji, Allah membela hamba-Nya yang suci dengan membuat bayinya berbicara:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللّٰهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا

"Berkata Isa: 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.'" (QS. Maryam [19]: 30)

Ini menunjukkan bahwa Allah selalu membela hamba-hamba-Nya yang suci dan bertakwa, meskipun manusia menzalimi mereka dengan tuduhan dusta.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan berbakti kepada orang tua — dalam hadits Juraij, kita belajar bahwa memenuhi panggilan ibu lebih utama daripada melanjutkan shalat sunnah. Jangan sampai ibadah kita membuat kita lalai dari kewajiban berbakti kepada orang tua.
  2. Bersabar dalam menghadapi fitnah dan tuduhan — Juraij tidak membalas kejahatan orang-orang yang menzaliminya dengan keburukan. Ia bersabar dan bertawakal kepada Allah, maka Allah membuktikan kesuciannya dengan cara yang menakjubkan.
  3. Jangan tertipu oleh kemegahan dunia — kemuliaan sejati bukan pada harta, kedudukan, atau kecantikan, melainkan pada ketakwaan dan kesucian diri dari dosa.
  4. Yakinlah dengan kekuasaan Allah — mukjizat berbicara saat bayi menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ini menguatkan keimanan kita kepada kekuasaan-Nya yang mutlak.
  5. Jaga lisan dan hati dari dosa — budak wanita dalam kisah ini dijaga Allah karena ia bersih dari tuduhan zina dan pencurian. Kesucian diri adalah perisai terbaik dari fitnah dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?