Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua pelajaran besar. Pertama, perumpamaan Nabi ﷺ seperti orang yang menyalakan api untuk menerangi jalan, sementara banyak manusia seperti serangga yang justru menjatuhkan diri ke dalam api karena kebodohan dan hawa nafsu mereka. Kedua, kisah dua wanita yang berselisih tentang seorang anak, lalu Nabi Sulaiman عليه السلام dengan kecerdasan dan hikmah yang Allah berikan kepadanya mampu menemukan kebenaran melalui reaksi kasih sayang seorang ibu. Hadits ini mengajarkan pentingnya hikmah, kasih sayang, dan keselamatan dari mengikuti hawa nafsu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits yang relevan:
مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ تَقَعُ فِي النَّارِ
Terjemahan: "Perumpamaanku dan perumpamaan manusia adalah seperti seorang yang menyalakan api, lalu serangga dan kupu-kupu jatuh ke dalamnya."
Dan sabda beliau ﷺ:
فَقَالَ ائْتُونِي بِالسِّكِّينِ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا
Terjemahan: "Ia berkata: 'Bawakan aku pisau agar aku dapat membelahnya di antara kalian.'"
Ayat yang berkaitan dengan pujian Allah kepada Sulaiman عليه السلام:
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
(QS. Az-Zumar [39]: 2)
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
Dan firman Allah tentang Sulaiman:
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
(QS. Shad [38]: 30)
Terjemahan: "Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah)."
Penjelasan Rinci
Pertama: Perumpamaan Nabi ﷺ dan Manusia
Rasulullah ﷺ mengumpamakan dirinya sebagai orang yang menyalakan api. Api di sini adalah simbol petunjuk, cahaya ilmu, dan peringatan. Beliau menyalakan api agar manusia melihat jalan yang benar dan menjauhi bahaya. Namun banyak manusia, seperti serangga dan kupu-kupu, justru tertarik kepada cahaya lalu menjatuhkan diri ke dalam api dan binasa.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan tentang orang yang menentang petunjuk Nabi ﷺ. Mereka tertarik kepada dunia dan syahwat, lalu terjatuh ke dalam kebinasaan, sementara Nabi ﷺ berusaha menarik mereka dengan sabda dan nasihat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ seperti orang yang menyalakan api untuk menerangi, dan manusia seperti serangga yang tidak menyadari bahaya. Nabi ﷺ tidak mampu memaksa mereka untuk tidak terjatuh, karena hidayah hanya milik Allah.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau ingin menyelamatkan mereka, tetapi mereka sendiri yang menjauh dan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
Kedua: Kisah Dua Wanita dan Nabi Sulaiman عليه السلام
Kisah ini menunjukkan hikmah yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman عليه السلام. Dua wanita mengaku sebagai ibu dari seorang anak. Nabi Daud عليه السلام memutuskan anak itu untuk wanita yang lebih tua. Namun Nabi Sulaiman عليه السلام menggunakan cara yang cerdik: ia berpura-pura ingin membelah anak itu menjadi dua. Wanita yang lebih tua diam saja, tetapi wanita yang lebih muda langsung menolak dan rela anak itu diberikan kepada wanita lain asalkan anaknya tidak dibunuh. Dari reaksi kasih sayang itu, Nabi Sulaiman عليه السلام mengetahui bahwa wanita yang lebih muda adalah ibu sebenarnya.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan kecerdasan dan hikmah Nabi Sulaiman عليه السلام yang Allah berikan kepadanya. Allah berfirman dalam QS. Shad [38]: 30 bahwa Sulaiman adalah sebaik-baik hamba yang banyak kembali kepada Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kisah ini juga menunjukkan bahwa seorang hakim boleh menggunakan cara atau pertanyaan yang tidak biasa untuk menemukan kebenaran, selama tidak melanggar syariat.
Perbedaan Pendapat di Antara Ulama
Sebagian ulama membahas apakah Nabi Daud عليه السلام salah dalam keputusannya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Daud عليه السلام memutuskan berdasarkan bukti yang tampak, sedangkan Nabi Sulaiman عليه السلام mendapatkan tambahan hikmah dari Allah untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam. Ini bukan berarti Nabi Daud عليه السلام salah, tetapi menunjukkan bahwa Allah memberikan keutamaan kepada sebagian nabi atas sebagian yang lain.
Story Telling
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua wanita yang berselisih. Ketika Nabi Sulaiman عليه السلام memerintahkan untuk membawa pisau, wanita yang lebih muda langsung menangis dan berkata, "Jangan lakukan itu, semoga Allah merahmatimu! Dia adalah anaknya." Mendengar itu, Nabi Sulaiman عليه السلام tahu siapa ibu sebenarnya.
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah mendengar kata 'pisau' (sikkin) kecuali pada hari itu. Kami biasa menyebutnya 'alat pemotong' (mudyah)." Ini menunjukkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه memperhatikan dengan seksama setiap kata yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Hendaknya kita menyadari bahwa petunjuk Nabi ﷺ adalah cahaya yang menyelamatkan, dan menjauhi hawa nafsu yang menjerumuskan ke dalam kebinasaan.
- Kasih sayang seorang ibu adalah fitrah yang Allah tanamkan, dan itu bisa menjadi tanda kebenaran.
- Hikmah dan kecerdasan adalah karunia Allah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan.
- Hendaknya kita meneladani Abu Hurairah رضي الله عنه dalam memperhatikan dan meriwayatkan hadits dengan teliti.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.