Penjelasan Hadits Bukhari No. 3395 tentang Larangan mengaku lebih baik dari Nabi Yunus

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat penting: seorang hamba tidak boleh menganggap dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta 'alaihissalam. Ini bukan berarti Nabi Yunus lebih rendah, tetapi menunjukkan larangan merasa lebih mulia dari siapa pun, karena kemuliaan hakiki hanya milik Allah. Hadits ini juga memuat sebagian gambaran fisik para nabi yang dilihat Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj, serta penyebutan Malaikat Malik penjaga neraka dan Al-Dajjal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadis-hadis Para Nabi, no. 3395, dari jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan) dari Abu Al-'Aliyah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Adapun ayat yang berkaitan dengan larangan merasa lebih baik dari orang lain dan tentang kemuliaan yang hakiki hanya milik Allah:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

وَإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Dan sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

QS. Yusuf [12]: 76 (mengisahkan tentang Nabi Yusuf yang tidak ingin menonjolkan keunggulan dirinya):

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

"Dia (Yusuf) berkata: 'Tidak ada celaan atas kalian pada hari ini.'"

Adapun hadits ini sendiri sudah menjadi dalil utama, dan penjelasannya dapat dirujuk kepada Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, serta Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya.

Penjelasan Rinci

Pertama: Larangan merasa lebih baik daripada Nabi Yunus 'alaihissalam.

Sabda Nabi ﷺ "Tidak sepatutnya seorang hamba mengatakan bahwa aku lebih baik daripada Yunus bin Matta" mengandung beberapa pelajaran yang dijelaskan oleh para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum, artinya tidak boleh bagi siapa pun — termasuk Nabi Muhammad ﷺ sendiri — untuk mengklaim keunggulan atas Nabi Yunus dengan cara merendahkan beliau. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) yang diajarkan Nabi ﷺ, sekaligus menutup pintu perbandingan yang bisa menimbulkan sikap merendahkan nabi lain.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna larangan ini. Sebagian berpendapat bahwa ini adalah larangan bagi manusia secara umum agar tidak merasa lebih baik dari nabi mana pun. Sebagian lain menjelaskan bahwa ini khusus terkait dengan konteks tertentu, yaitu ketika ada yang membanding-bandingkan para nabi. Namun yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar — adalah bahwa larangan ini bersifat umum dan merupakan pelajaran adab: seorang hamba tidak boleh menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain, karena kemuliaan di sisi Allah hanya berdasarkan ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13).

Kedua: Penyebutan nasab Nabi Yunus.

Nabi ﷺ menyebut "Yunus bin Matta" — menisbatkan kepada ayahnya, Matta. Ini menunjukkan bahwa Nabi Yunus adalah manusia biasa yang memiliki nasab, bukan sosok yang boleh dianggap rendah. Justru dengan menyebut nasabnya, Nabi ﷺ menegaskan kedudukan beliau sebagai nabi yang mulia.

Ketiga: Gambaran fisik para nabi pada malam Isra' Mi'raj.

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Nabi Musa 'alaihissalam adalah seorang yang "آدَمُ طُوَالٌ" — berkulit cokelat (sawo matang) dan tinggi, "كأنه من رجال شنوءة" — seperti orang-orang dari suku Syanu'ah (suku Arab yang dikenal tinggi dan tegap). Sedangkan Nabi Isa 'alaihissalam digambarkan "جَعْدٌ مَرْبُوعٌ" — berambut keriting dan berperawakan sedang.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa penyebutan ciri-ciri fisik ini adalah bagian dari mukjizat Isra' Mi'raj, di mana Nabi ﷺ benar-benar melihat para nabi dalam bentuk asli mereka. Ini juga menjadi dalil bahwa para nabi adalah manusia yang memiliki bentuk fisik, bukan makhluk halus atau cahaya semata.

Keempat: Penyebutan Malaikat Malik dan Al-Dajjal.

Nabi ﷺ juga menyebutkan Malik, penjaga neraka, dan Al-Dajjal. Penyebutan Malik disebutkan dalam Al-Qur'an:

QS. Az-Zukhruf [43]: 77

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

"Dan mereka menyeru: 'Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.'"

Adapun Al-Dajjal adalah fitnah terbesar yang akan muncul di akhir zaman, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits shahih. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyebutan Al-Dajjal dalam hadits ini adalah peringatan agar umat Islam selalu waspada terhadap fitnahnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah larangan "aku lebih baik dari Yunus" bersifat umum atau khusus. Ibnu Hajar merajihkan (menguatkan) pendapat bahwa larangan ini bersifat umum, karena Nabi ﷺ sendiri tidak pernah mengklaim keunggulan atas nabi lain dengan cara merendahkan. Ini adalah adab yang harus diteladani oleh setiap Muslim.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika, seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil berkata, "Siapakah yang lebih mulia di sisi Allah daripada Musa?" — karena Musa adalah nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah (Kalimullah). Maka Allah menurunkan wahyu kepada Musa untuk memberitahukan bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya yang lebih mulia, yaitu Yunus bin Matta.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadits lain yang shahih. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dari mukjizat atau keistimewaan tertentu, tetapi dari ketakwaan dan ketaatan. Nabi Yunus 'alaihissalam memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, dan tidak seorang pun boleh merendahkan beliau.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang sahabat yang dikenal sebagai Turjumanul Qur'an (juru tafsir Al-Qur'an). Beliau meriwayatkan hadits ini dengan sangat teliti, bahkan menyebutkan nasab Nabi Yunus dan ciri-ciri fisik para nabi. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga keakuratan riwayat dari Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan merasa lebih baik dari orang lain — termasuk dari para nabi dan hamba-hamba Allah yang saleh. Kemuliaan hakiki hanya di sisi Allah, diukur dengan ketakwaan.
  2. Hormati semua nabi — tidak boleh merendahkan nabi mana pun, karena mereka semua adalah utusan Allah yang mulia.
  3. Pelajari Isra' Mi'raj — peristiwa ini adalah mukjizat besar yang meneguhkan iman, dan penyebutan ciri-ciri fisik para nabi adalah bagian dari kebenaran berita Nabi ﷺ.
  4. Waspadai fitnah Al-Dajjal — sebagaimana Nabi ﷺ mengingatkan, kita harus selalu berlindung kepada Allah dari fitnahnya.
  5. Teladani tawadhu' Nabi ﷺ — beliau adalah makhluk paling mulia, namun tetap mengajarkan kerendahan hati dan tidak mengklaim keunggulan atas hamba Allah yang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?