Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi penjelasan Aisyah radhiyallahu 'anha tentang makna firman Allah dalam QS. Yusuf [12]: 110, yaitu tentang para rasul yang "putus asa" dan "mengira mereka telah didustakan". Aisyah menegaskan bahwa para rasul tidak pernah berburuk sangka kepada Allah; yang "mengira didustakan" adalah para pengikut (umat) mereka, bukan para rasul itu sendiri. Jadi ayat ini menggambarkan beratnya ujian yang menimpa para pengikut rasul, bukan keraguan para rasul terhadap janji Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dibahas:
QS. Yusuf [12]: 110
حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِّبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا
Terjemahan: "Hingga ketika para rasul telah berputus asa dan mereka mengira bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadits-hadits Para Nabi, Bab Firman Allah: "Sungguh, dalam kisah Yusuf dan saudaranya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertanya." Sanad: Yahya bin Bukair ← Al-Layts ← 'Uqail ← Ibnu Syihab (Az-Zuhri) ← 'Urwah ← Aisyah radhiyallahu 'anha.
Kaitan dengan ulama:
- Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah perawi hadits ini dari 'Urwah.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya membahas ayat ini dan menguatkan pendapat Aisyah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan makna yang sama.
Penjelasan Rinci
Konteks ayat:
Ayat ini berada dalam surat Yusuf, yang menceritakan kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam dan saudara-saudaranya. Allah menyebutkan bahwa para rasul sebelum kedatangan pertolongan, mengalami masa yang sangat panjang dan berat. Kaum mereka mendustakan, menolak, dan menyakiti mereka. Hingga ketika para rasul "putus asa" (استيأس) dari keimanan kaum mereka, dan "mengira" (ظنوا) bahwa mereka telah "didustakan" (كذبوا), maka datanglah pertolongan Allah.
Perbedaan bacaan (qira'at):
Dalam hadits ini, 'Urwah bertanya kepada Aisyah tentang dua kemungkinan bacaan:
- كُذِّبُوا (kudzdzibuu) — dengan tasydid, artinya "mereka telah didustakan" (bentuk pasif yang kuat).
- كُذِبُوا (kudzibuu) — dengan takhfif, artinya "mereka didustakan" (bentuk pasif yang lebih ringan).
Penjelasan Aisyah radhiyallahu 'anha:
Aisyah menjelaskan bahwa ayat ini bukan tentang para rasul yang ragu terhadap Allah. Beliau berkata:
> "Para rasul tidak mungkin mencurigai Tuhan mereka. Akan tetapi ayat ini berbicara tentang para pengikut (umat) para rasul yang beriman kepada Tuhan mereka dan membenarkan para rasul. Ujian mereka panjang, dan pertolongan Allah tertunda. Hingga ketika para rasul putus asa terhadap orang-orang kafir di antara kaum mereka, dan para pengikut mengira bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah pertolongan Allah."
Jadi menurut Aisyah:
- Subjek "putus asa" adalah para rasul — mereka putus asa dari keimanan kaum yang mendustakan.
- Subjek "mengira didustakan" adalah para pengikut — mereka mulai ragu apakah janji pertolongan akan datang, karena ujian begitu panjang.
Penjelasan Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat ini dari Aisyah dan menguatkannya. Beliau menjelaskan bahwa makna yang paling kuat adalah pendapat Aisyah, yaitu bahwa para rasul tidak ragu kepada Allah, tetapi para pengikut mereka yang diuji dengan berat hingga hampir goyah keyakinannya, lalu Allah memberikan pertolongan.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kedalaman ilmu Aisyah dalam tafsir. Beliau juga menyebutkan bahwa pendapat Aisyah ini lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan bahwa para rasul sendiri yang ragu. Ibnu Hajar menegaskan bahwa para rasul ma'shum (terjaga) dari keraguan terhadap janji Allah.
Penjelasan Imam an-Nawawi:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adab 'Urwah dalam bertanya dan ketegasan Aisyah dalam membela kemuliaan para rasul. Beliau juga menegaskan bahwa pendapat Aisyah adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama tafsir.
Catatan bahasa:
Imam Al-Bukhari di akhir hadits memberikan catatan bahasa:
- استيأسوا (istai-asuu) adalah bentuk ifta'ala dari يئست (ya'istu) yang berarti "putus asa".
- منه (minhu) dalam konteks ini merujuk kepada Yusuf.
- لا تيأسوا من روح الله (QS. Yusuf [12]: 87) — "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" — di sini روح (rauh) berarti الرجاء (ar-rajaa'), yaitu harapan.
Story Telling
Kisah 'Urwah bin Az-Zubair dan Aisyah radhiyallahu 'anha:
'Urwah bin Az-Zubair adalah salah satu tabi'in terkemuka, keponakan Aisyah sendiri (anak dari Asma binti Abu Bakar). Beliau dikenal sangat tekun menuntut ilmu dan sering bertanya kepada Aisyah tentang berbagai masalah agama.
Suatu hari, 'Urwah bertanya kepada Aisyah tentang ayat yang sulit dipahami ini. Beliau bertanya dengan penuh adab, namun dengan keyakinan bahwa para rasul pasti yakin bahwa kaum mereka mendustakan mereka. Aisyah dengan lembut namun tegas membetulkan pemahaman 'Urwah.
Aisyah berkata: "Wahai 'Uraiya!" — panggilan sayang kepada keponakannya — "Sesungguhnya mereka (para rasul) sangat yakin akan hal itu."
Kemudian 'Urwah bertanya lagi: "Mungkin ayat itu dibaca sehingga para rasul mengira bahwa Allah tidak membantu mereka?"
Aisyah langsung menjawab dengan tegas: "Ma'adzallah! (Allah melarang!) Para rasul tidak mencurigai Tuhan mereka akan hal itu."
Kemudian Aisyah menjelaskan makna yang benar dengan sangat jelas dan rinci.
Hikmah:
- Kedalaman ilmu Aisyah dalam tafsir Al-Qur'an, bahkan para tabi'in sekaliber 'Urwah bin Az-Zubair belajar darinya.
- Adab dalam bertanya — 'Urwah bertanya dengan sopan, dan Aisyah menjawab dengan penuh kasih sayang.
- Membela kemuliaan para rasul — Aisyah tidak ragu menegur pemahaman yang keliru tentang para rasul.
- Pentingnya merujuk kepada ahlinya — 'Urwah bertanya kepada Aisyah karena beliau adalah istri Nabi dan ahli tafsir.
Kesimpulan Praktis
- Para rasul ma'shum dari keraguan terhadap janji Allah. Mereka adalah manusia pilihan yang paling kuat imannya.
- Ujian yang panjang bisa membuat manusia hampir goyah, tetapi Allah selalu menepati janji-Nya.
- Pentingnya memahami Al-Qur'an dengan merujuk kepada ulama yang mumpuni, bukan dengan pemahaman sendiri yang bisa keliru.
- Adab dalam bertanya tentang masalah agama — bertanya dengan sopan, dan menerima jawaban dengan lapang dada.
- Kisah para rasul adalah pelajaran bagi kita bahwa pertolongan Allah pasti datang, meskipun tertunda.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah — sebagaimana firman Allah: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Yusuf [12]: 87).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.