Penjelasan Hadits Bukhari No. 3385 tentang Perintah Nabi agar Abu Bakr memimpin shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ secara tegas menunjuk Abu Bakr ash-Shiddiq untuk menggantikan beliau memimpin shalat ketika beliau sakit. Perintah ini diulang tiga kali, dan ketika Aisyah radhiyallahu 'anha menyampaikan keberatan karena kelembutan hati ayahnya, Nabi ﷺ menegaskan perintahnya dan menyinggung "para wanita teman Yusuf" — isyarat halus bahwa keberatan itu tidak seharusnya diutarakan. Hadits ini menjadi dalil kuat tentang keutamaan Abu Bakr dan isyarat kepemimpinan beliau setelah Nabi ﷺ wafat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman dalam kisah Yusuf:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

"Dan raja berkata, 'Bawalah dia kepadaku, aku hendak menjadikannya orang kepercayaan.' Maka ketika raja telah berbicara dengannya, dia berkata, 'Sesungguhnya engkau pada hari ini di sisi kami adalah orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya.'" (QS. Yusuf [12]: 54)

Juga firman Allah tentang tipu daya para wanita:

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَن نَّفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

"Dan beberapa wanita di kota itu berkata, 'Istri pembesar (Mesir) menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya; sungguh dia telah dicengkeram cinta yang mendalam. Sungguh kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.'" (QS. Yusuf [12]: 30)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab Firman Allah: "Sesungguhnya dalam kisah Yusuf dan saudaranya terdapat tanda-tanda bagi orang yang bertanya" (nomor 3385). Perawi sahabat: Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Hadits senada juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan redaksi yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Perintahkan Abu Bakr untuk memimpin shalat." Aisyah berkata: "Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang lembut, jika ia berdiri menggantikan tempatmu, ia tidak akan mampu memperdengarkan bacaan kepada orang-orang." Nabi ﷺ tetap bersabda: "Perintahkan Abu Bakr untuk memimpin shalat." (HR. Al-Bukhari no. 682, Muslim no. 418)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil paling jelas tentang keutamaan Abu Bakr dan isyarat kekhalifahannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa penunjukan Abu Bakr dalam shalat menjadi dalil jumhur ulama tentang kepemimpinan beliau setelah Nabi ﷺ.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengaitkan isyarat "para wanita teman Yusuf" dengan kelembutan dan kecenderungan hati wanita yang bisa mempengaruhi keputusan, sebagaimana kisah Zulaikha dan para wanita Mesir.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan peristiwa ketika Nabi ﷺ jatuh sakit menjelang wafatnya. Beliau memerintahkan agar Abu Bakr memimpin shalat berjamaah. Perintah ini disampaikan melalui orang lain (kemungkinan kepada Aisyah atau kepada para sahabat di sekitarnya). Aisyah radhiyallahu 'anha, karena kasih sayangnya kepada ayahnya dan kekhawatirannya bahwa Abu Bakr akan kesulitan menahan tangisnya saat membaca Al-Qur'an di depan orang banyak, menyampaikan bahwa Abu Bakr adalah "rajulun raqiqun" (orang yang lembut hatinya). Nabi ﷺ mengulangi perintahnya, dan Aisyah mengulangi jawabannya. Pada kali ketiga, Nabi ﷺ bersabda: "Perintahkan Abu Bakr! Kalian adalah (seperti) para wanita teman Yusuf."

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Keutamaan Abu Bakr: Penunjukan beliau untuk menggantikan Nabi ﷺ dalam shalat — ibadah paling utama dan simbol kepemimpinan umat — menunjukkan kedudukan beliau yang tinggi. Ini menjadi dalil bahwa beliau adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ.
  2. Isyarat "para wanita teman Yusuf": Ini adalah teguran halus dari Nabi ﷺ. Beliau menyerupakan keberatan Aisyah dengan keberatan para wanita dalam kisah Yusuf yang cenderung mengikuti perasaan daripada kebenaran. Namun ini bukan celaan terhadap pribadi Aisyah, melainkan isyarat bahwa dalam urusan kepemimpinan dan kemaslahatan umat, perasaan pribadi tidak boleh mengalahkan perintah yang jelas.
  3. Ketetapan perintah: Nabi ﷺ mengulangi perintahnya tiga kali, menunjukkan ketegasan dan bahwa ini bukan perkara yang bisa ditawar. Ini juga menunjukkan bahwa beliau memiliki pertimbangan yang lebih tinggi daripada kekhawatiran yang disampaikan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menambahkan:

  • Hadits ini menunjukkan bahwa shalat adalah perkara agung dalam Islam, sehingga Nabi ﷺ yang sedang sakit pun tetap memikirkan siapa yang akan memimpin shalat.
  • Abu Bakr adalah orang yang paling utama di antara para sahabat, karena Nabi ﷺ tidak menunjuk selain beliau.
  • Kelembutan hati Abu Bakr bukanlah cela, melainkan tanda keimanan yang mendalam. Namun Nabi ﷺ mengetahui bahwa Abu Bakr mampu melaksanakan tugas tersebut.

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya ketika menjelaskan ayat tentang "para wanita teman Yusuf" menyebutkan bahwa Allah menggambarkan bagaimana para wanita itu terpengaruh oleh perasaan dan kecantikan Yusuf sehingga mereka memotong tangan mereka sendiri tanpa sadar. Ini menjadi perumpamaan bahwa perasaan yang berlebihan bisa mengaburkan penilaian. Nabi ﷺ menggunakan perumpamaan ini untuk menegaskan bahwa dalam urusan kepemimpinan umat, pertimbangan harus berdasarkan kemaslahatan, bukan perasaan pribadi.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah penunjukan Abu Bakr dalam shalat ini merupakan nash (dalil tegas) tentang kekhalifahan beliau atau hanya isyarat. Jumhur ulama — termasuk Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Taymiyyah — berpendapat bahwa ini adalah dalil kuat yang menunjukkan bahwa Abu Bakr adalah yang paling berhak menjadi khalifah. Ibnu Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menegaskan bahwa penunjukan ini adalah salah satu dalil terbesar tentang keutamaan Abu Bakr dan kepemimpinannya.

Adapun tentang sabda "kalian adalah para wanita teman Yusuf", Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini bukan berarti Aisyah berdosa, melainkan teguran lembut agar tidak mengulangi keberatan yang sama. Aisyah sendiri adalah istri Nabi ﷺ yang paling dicintai dan seorang yang sangat memahami agama.

Pelajaran tentang adab:

Hadits ini juga mengajarkan adab dalam bermusyawarah dan menyampaikan pendapat. Aisyah menyampaikan keberatannya dengan cara yang sopan, dan Nabi ﷺ menanggapinya dengan teguran yang lembut namun tegas. Ini menunjukkan bahwa dalam urusan kepemimpinan dan kemaslahatan umat, keputusan harus berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata perasaan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan agar Abu Bakr memimpin shalat. Aisyah radhiyallahu 'anha, yang sangat mencintai ayahnya, khawatir bahwa Abu Bakr akan menangis tersedu-sedu saat membaca Al-Qur'an di depan orang banyak, sehingga suaranya tidak terdengar. Ia pun menyampaikan kekhawatirannya. Namun Nabi ﷺ tetap pada perintahnya. Ketika Aisyah mengulangi keberatannya, Nabi ﷺ bersabda dengan lembut namun tegas: "Kalian adalah (seperti) para wanita teman Yusuf."

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Tidak ada yang lebih kami anggap sebagai dalil kekhalifahan Abu Bakr selain penunjukan Nabi ﷺ kepadanya untuk memimpin shalat." (HR. Al-Bukhari)

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukanlah tentang siapa yang paling dicintai secara pribadi, melainkan tentang siapa yang paling mampu dan paling berhak menurut syariat. Abu Bakr dipilih bukan karena kedekatannya dengan Nabi ﷺ secara kekeluargaan, tetapi karena keutamaan, ilmu, dan ketakwaannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Keutamaan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah perkara yang disepakati oleh Ahlus Sunnah. Penunjukan beliau sebagai imam shalat oleh Nabi ﷺ adalah dalil kuat tentang kepemimpinannya setelah Nabi ﷺ wafat.
  2. Shalat adalah perkara agung dalam Islam. Nabi ﷺ yang sedang sakit berat pun tetap memikirkan siapa yang akan memimpin shalat, menunjukkan betapa pentingnya shalat berjamaah dan kepemimpinan dalam ibadah.
  3. Adab dalam menyampaikan pendapat: Aisyah menyampaikan keberatannya dengan sopan, dan Nabi ﷺ menanggapinya dengan teguran lembut. Ini mengajarkan kita untuk menyampaikan pendapat dengan adab, dan menerima keputusan dengan lapang dada ketika keputusan itu berdasarkan kemaslahatan yang lebih besar.
  4. Perasaan pribadi tidak boleh mengalahkan kebenaran: Sabda Nabi ﷺ tentang "para wanita teman Yusuf" mengingatkan bahwa dalam urusan umat, pertimbangan harus berdasarkan dalil dan kemaslahatan, bukan semata-mata perasaan.
  5. Mengikuti pemahaman salaf: Para ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Taymiyyah, dan Ibnu Katsir telah menjelaskan hadits ini dengan jelas. Hendaknya kita mengikuti pemahaman mereka yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?