Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Siti Hajar, ibu Nabi Ismail عليه السلام, yang ketika air Zamzam memancar di padang tandus Mekkah, beliau segera bergegas menampung dan mengurung air itu karena khawatir airnya habis. Nabi ﷺ mendoakan rahmat untuk beliau, dan menjelaskan bahwa seandainya beliau tidak tergesa-gesa, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir deras di permukaan bumi. Hadits ini mengajarkan tentang keutamaan tawakal, kesabaran, dan hikmah di balik ketergesa-gesaan yang tetap dirahmati Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah ﷻ berfirman tentang doa Nabi Ibrahim عليه السلام:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 126)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, dari sahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Siti Hajar dan kisah awal mula air Zamzam yang menjadi berkah bagi penduduk Mekkah hingga hari ini.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits:
Nabi ﷺ bersabda: "Yarhamullah umma Isma'il" — "Semoga Allah merahmati ibu Ismail." Ini adalah doa pujian dari Nabi ﷺ kepada Siti Hajar, menunjukkan kedudukan beliau yang mulia.
"Lau la anna ha 'ajilat" — "Seandainya dia tidak tergesa-gesa." Ketergesa-gesaan yang dimaksud adalah ketika Siti Hajar melihat air memancar dari tanah, beliau segera bergegas menampungnya dengan kantong air (qirbah) dan mengurungnya dengan tanah agar air tidak mengalir ke mana-mana.
"Lakana zamzamu 'ainan ma'inan" — "Niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir." Ibnu Abbas menjelaskan bahwa maksudnya adalah air Zamzam akan mengalir di permukaan bumi tanpa perlu ditimba.
Pemahaman Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran:
- Keutamaan Siti Hajar — Nabi ﷺ mendoakan rahmat untuk beliau, menunjukkan bahwa beliau adalah wanita shalihah yang sabar dan tawakal.
- Hikmah ketergesa-gesaan — Meskipun Siti Hajar tergesa-gesa, hal itu bukanlah celaan, melainkan menunjukkan usaha manusiawi beliau untuk menjaga nikmat Allah. Allah tetap menjadikan Zamzam sebagai air yang berkah, meskipun tidak mengalir deras.
- Kisah awal mula Zamzam — Air Zamzam adalah mukjizat dan berkah yang Allah berikan kepada keluarga Ibrahim عليه السلام di padang tandus Mekkah.
Imam Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan kisah ini secara panjang, bahwa ketika Nabi Ibrahim عليه السلام membawa Siti Hajar dan Ismail kecil ke Mekkah, beliau meninggalkan mereka di tempat yang tidak ada air dan tidak ada manusia. Siti Hajar bertanya, "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah ini perintah Allah?" Ibrahim menjawab, "Ya." Maka Siti Hajar berkata, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Kemudian Siti Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencari air atau pertolongan. Kemudian Allah mengutus Jibril عليه السلام yang menghentakkan sayapnya atau kakinya ke tanah, lalu memancarlah air Zamzam. Siti Hajar segera menampung air itu dengan tangannya dan mengurungnya dengan tanah agar tidak mengalir.
Perbedaan Riwayat:
Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam hadits ini melalui jalur lain dari Ibnu Juraij, dari Katsir bin Katsir, bahwa ia dan Utsman bin Abi Sulaiman duduk bersama Sa'id bin Jubair, lalu Sa'id berkata, "Beginilah Ibnu Abbas menceritakan kepadaku: Ibrahim datang membawa Ismail dan ibunya, dan ibunya sedang menyusui Ismail, membawa kantong air bersamanya."
Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan.
Story Telling
Kisah Siti Hajar dan Air Zamzam:
Suatu ketika, Nabi Ibrahim عليه السلام diperintahkan Allah untuk membawa Siti Hajar dan putranya, Ismail, ke sebuah lembah yang tandus, tanpa air, tanpa tanaman, dan tanpa manusia. Lembah itu adalah Mekkah.
Siti Hajar, seorang wanita yang penuh iman, bertanya kepada suaminya, "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat yang tidak ada air dan tidak ada manusia ini?"
Nabi Ibrahim tidak menjawab, karena itu adalah perintah Allah. Siti Hajar bertanya lagi, "Apakah ini perintah Allah?"
Ibrahim menjawab, "Ya."
Maka Siti Hajar berkata dengan penuh tawakal, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Ibrahim pun pergi, dan sebelum pergi, beliau berdoa:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim [14]: 37)
Setelah Ibrahim pergi, Siti Hajar dan Ismail kecil ditinggal sendirian. Ketika persediaan air habis, Ismail menangis kehausan. Siti Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, mencari air atau pertolongan. Beliau berlari tujuh kali, tetapi tidak menemukan apa pun.
Kemudian, Allah mengutus Malaikat Jibril عليه السلام. Jibril menghentakkan kakinya ke tanah, dan tiba-tiba memancarlah air dari bawah kaki Ismail. Siti Hajar segera bergegas menampung air itu dengan tangannya, membentuk kolam kecil dengan tanah agar air tidak mengalir ke mana-mana.
Nabi ﷺ bersabda, "Semoga Allah merahmati ibu Ismail! Seandainya dia tidak tergesa-gesa, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di permukaan bumi."
Sejak saat itu, air Zamzam menjadi sumber kehidupan di Mekkah. Burung-burung datang ke tempat itu, dan kabilah Jurhum yang melihat burung-burung itu tahu bahwa ada air di sana. Mereka pun datang dan menetap di Mekkah bersama Siti Hajar dan Ismail.
Hikmah:
Kisah ini mengajarkan tentang tawakal, kesabaran, dan usaha. Siti Hajar telah berusaha maksimal (berlari antara Shafa dan Marwah), lalu bertawakal kepada Allah. Allah pun memberikan pertolongan-Nya. Ketergesa-gesaan Siti Hajar untuk menjaga air Zamzam adalah bentuk usaha manusiawi yang tetap dirahmati Allah, meskipun seandainya beliau bersabar, Zamzam akan mengalir lebih deras.
Kesimpulan Praktis
- Tawakal dan usaha harus sejalan — Siti Hajar berusaha mencari air, lalu bertawakal kepada Allah. Kita pun harus berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
- Keutamaan sabar dan syukur — Siti Hajar adalah contoh wanita shalihah yang sabar dan tawakal. Allah memuliakan beliau dengan doa Nabi ﷺ.
- Zamzam adalah berkah — Air Zamzam adalah mukjizat dan berkah yang Allah berikan kepada keluarga Ibrahim عليه السلام. Kita dianjurkan untuk meminumnya dengan niat yang baik dan doa.
- Jangan mencela ketergesa-gesaan yang wajar — Nabi ﷺ tidak mencela Siti Hajar, tetapi justru mendoakan rahmat untuk beliau. Ini menunjukkan bahwa usaha manusiawi yang wajar tetap dihargai.
- Pelajaran tentang keimanan — Siti Hajar percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakal. Keyakinan ini adalah inti dari keimanan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.