Penjelasan Hadits Bukhari No. 3351 tentang Larangan gambar makhluk di dalam Ka'bah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ ketika memasuki Ka'bah mendapati gambar Nabi Ibrahim dan Maryam di dalamnya, lalu beliau mengingkari hal itu karena gambar-gambar tersebut bertentangan dengan ajaran tauhid dan menghalangi masuknya malaikat ke dalam rumah. Beliau juga menegaskan bahwa Ibrahim tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah, sehingga penggambaran itu adalah kedustaan atas beliau. Hadits ini mengajarkan pentingnya menjaga kesucian Ka'bah, menjauhi gambar makhluk bernyawa di tempat ibadah, dan berhati-hati dalam menggambarkan para nabi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

QS. An-Nisa' [4]: 125

"Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits-hadits Para Nabi, Bab Firman Allah: "Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih" (no. 3351), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Hadits lain yang semakna, dari Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

HR. Al-Bukhari dan Muslim

"Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar (makhluk bernyawa)."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang, termasuk hukum gambar dan keistimewaan Ka'bah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan larangan gambar makhluk bernyawa.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "khalil" dan kedudukan Ibrahim 'alaihissalam.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Peristiwa ini terjadi pada Fathu Makkah (penaklukan Makkah), ketika Nabi ﷺ memasuki Ka'bah. Saat itu Ka'bah dipenuhi berbagai patung dan gambar yang diletakkan oleh kaum Quraisy pada masa jahiliyah. Di antara gambar tersebut terdapat gambar Nabi Ibrahim dan Maryam 'alaihimassalam.

Pengingkaran Nabi ﷺ:

Nabi ﷺ mengingkari dua hal:

  1. Adanya gambar di dalam Ka'bah — karena Ka'bah adalah rumah Allah yang harus bersih dari segala bentuk syirik dan gambar makhluk bernyawa. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa malaikat tidak masuk ke rumah yang ada gambarnya, dan ini menunjukkan keutamaan menjaga kesucian tempat ibadah.
  2. Penggambaran Ibrahim sedang mengundi nasib — Nabi ﷺ menegaskan bahwa Ibrahim tidak pernah melakukan praktik istiqsam (mengundi dengan anak panah), karena itu adalah praktik syirik jahiliyah. Ibnu Katsir menegaskan bahwa Ibrahim adalah imam tauhid, jauh dari praktik syirik.

Hukum gambar makhluk bernyawa:

Para ulama dalam daftar — seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah — menjelaskan bahwa membuat dan memasang gambar makhluk bernyawa di rumah atau tempat ibadah adalah perkara yang dilarang dalam syariat, terutama jika gambar tersebut dimuliakan atau dikhawatirkan mengantarkan pada pengagungan berlebihan.

Makna "khalil":

Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa khalil berarti kekasih yang cintanya sempurna, bukan sekadar kasih sayang biasa. Kedudukan ini khusus bagi Ibrahim 'alaihissalam, dan Nabi Muhammad ﷺ juga memiliki kedudukan serupa sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.

Pelajaran tentang kejujuran dalam menggambarkan para nabi:

Nabi ﷺ membantah penggambaran yang tidak sesuai kenyataan. Ini mengajarkan bahwa para nabi tidak boleh digambarkan dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran mereka, apalagi dengan praktik syirik.

Story Telling

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal sebagai turjumanul Qur'an (juru tafsir Al-Qur'an). Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ membersihkan Ka'bah dari segala bentuk kesyirikan.

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ memasuki Ka'bah pada Fathu Makkah, beliau memerintahkan agar semua gambar dan patung dihapus. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak sekadar mengingkari dengan lisan, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk membersihkan rumah Allah.

Hikmah: Seorang mukmin tidak boleh diam terhadap kemungkaran, terutama yang berkaitan dengan tauhid dan kesucian tempat ibadah. Namun, pengingkaran harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan cara yang tepat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga kesucian tempat ibadah dari gambar makhluk bernyawa, patung, dan segala bentuk kesyirikan.
  2. Jangan menggambarkan para nabi dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran mereka, karena itu adalah kedustaan atas mereka.
  3. Pahami kedudukan Ibrahim 'alaihissalam sebagai khalilullah (kekasih Allah) dan imam tauhid yang bersih dari syirik.
  4. Teladani sikap Nabi ﷺ yang tegas dalam mengingkari kemungkaran, namun tetap dengan cara yang penuh hikmah.
  5. Pelajari hadits ini melalui penjelasan ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?