Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan kepada kita tentang penciptaan Nabi Adam `alaihissalam` dengan tinggi yang sangat besar, yaitu 60 hasta, serta mengajarkan kita adab dan keutamaan salam. Hadits ini juga mengabarkan bahwa seluruh penghuni surga kelak akan masuk dengan bentuk dan postur seperti Nabi Adam, dan bahwa tinggi manusia terus berkurang dari generasi ke generasi hingga sekarang. Ini adalah kabar ghaib yang wajib kita imani, dan di dalamnya terdapat pelajaran tentang adab mengucapkan salam serta keutamaan menambahkan doa rahmat di dalamnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab Penciptaan Adam dan Keturunannya, no. 3326, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang penciptaan Adam:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin [95]: 4)
Ayat ini menunjukkan kesempurnaan bentuk penciptaan manusia, dan hadits di atas menjelaskan salah satu bentuk kesempurnaan itu, yaitu tingginya yang mencapai 60 hasta.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (penjelasan Shahih Al-Bukhari) membahas hadits ini secara panjang lebar. Beliau menukil perkataan Al-Khathabi dan ulama lainnya bahwa hadits ini termasuk kabar ghaib yang wajib diimani, dan tidak boleh ditakwilkan secara sembarangan. Beliau juga menjelaskan bahwa tinggi Adam 60 hasta adalah ukuran di surga, dan manusia akan masuk surga dengan ukuran tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Tentang Tinggi Nabi Adam
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar berita dari Nabi ﷺ tentang perkara ghaib. Kita wajib mengimani bahwa Nabi Adam diciptakan dengan tinggi 60 hasta. Ini adalah ukuran yang sangat besar, jauh melebihi manusia-manusia setelahnya. Ukuran ini bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah yang Maha Kuasa.
2. Tentang Adab dan Keutamaan Salam
Dalam hadits ini, Allah mengajarkan kepada Nabi Adam adab mengucapkan salam. Beliau diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada para malaikat dan mendengarkan jawaban mereka. Jawaban para malaikat, "Assalamu 'alaika wa rahmatullah" (Semoga keselamatan dan rahmat Allah atasmu), menjadi contoh bagi seluruh keturunan Adam hingga hari kiamat.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya menambahkan lafadz "wa rahmatullah" dalam menjawab salam. Ini adalah sunnah yang diajarkan langsung oleh para malaikat dan diabadikan dalam hadits ini.
3. Tentang Penghuni Surga
Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap orang yang masuk surga akan menyerupai bentuk Nabi Adam, yaitu dengan tinggi 60 hasta. Ini adalah kenikmatan tambahan bagi penghuni surga, di samping kenikmatan-kenikmatan lainnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah memberikan kepada penghuni surga bentuk yang sempurna dan indah, sebagai bagian dari kesempurnaan kenikmatan di surga.
4. Tentang Berkurangnya Tinggi Manusia
Sabda Nabi ﷺ, "Manusia terus berkurang (tingginya) hingga sekarang" menunjukkan bahwa dari generasi ke generasi, postur manusia semakin mengecil. Ini adalah fakta yang bisa kita saksikan dari peninggalan-peninggalan sejarah, seperti pintu-pintu bangunan kuno yang sangat besar, yang menunjukkan bahwa manusia pada masa lalu memiliki postur yang lebih tinggi.
5. Pelajaran Aqidah
Hadits ini termasuk dalam perkara ghaib yang wajib diimani. Kita tidak boleh menolaknya atau menakwilkannya secara sembarangan hanya karena bertentangan dengan akal atau teori tertentu. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal dengan sikapnya yang tegas dalam menerima hadits-hadits tentang sifat dan perkara ghaib tanpa menanyakan "bagaimana" (bila kaif). Ini adalah manhaj yang benar dalam menyikapi kabar-kabar ghaib.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Adam `alaihissalam` diciptakan, Allah memerintahkannya untuk mendatangi sekelompok malaikat yang sedang duduk, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Adam pun pergi dan mengucapkan, "Assalamu 'alaikum". Para malaikat menjawab, "Assalamu 'alaika wa rahmatullah" — mereka menambahkan "wa rahmatullah".
Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa jawaban para malaikat itulah yang menjadi salam bagi Adam dan keturunannya. Sejak saat itu, umat Islam mengucapkan salam dengan lafadz yang diajarkan ini. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan adab dan hubungan baik antar sesama, bahkan sejak manusia pertama diciptakan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan Praktis
- Imani kabar ghaib dalam hadits ini dengan penuh keyakinan, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Biasakan mengucapkan salam dengan lafadz yang sempurna: Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, dan jawablah dengan yang lebih baik atau yang semisal.
- Sebarkan salam di antara sesama muslim, karena ini adalah salah satu sebab tersebarnya cinta dan kasih sayang.
- Bersyukurlah atas nikmat Islam yang mengajarkan adab yang mulia ini.
- Jangan heran dengan fakta sejarah tentang bangunan-bangunan kuno yang besar, karena itu sesuai dengan kabar Nabi ﷺ bahwa manusia dahulu lebih tinggi posturnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.