Penjelasan Hadits Bukhari No. 3278 tentang Kisah Musa dan ikan yang dilupakan karena setan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Nabi Musa عليه السلام bersama pembantunya (Yusya' bin Nun) dalam perjalanan mencari Khidir. Yang menarik, hadits ini menyoroti peran setan yang membuat pembantu Nabi Musa lupa memberitahukan hilangnya ikan sebagai tanda. Ini menunjukkan bahwa setan benar-benar ada, memiliki pasukan, dan bekerja menggoda manusia — termasuk membuat lupa hal-hal penting. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa Nabi Musa tidak merasa lelah sampai melewati tempat yang seharusnya menjadi tujuan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Kahfi [18]: 62

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

Terjemahan: "Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, 'Bawakanlah kepada kami makanan pagi kami; sungguh, kita telah mengalami kelelahan dalam perjalanan ini.'"

QS. Al-Kahfi [18]: 63

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Terjemahan: "Dia (pembantunya) berkata, 'Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (tentang) ikan itu, dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang menakjubkan.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Penciptaan (Bad'ul Khalq), Bab Sifat Iblis dan Pasukannya, nomor 3278. Sanadnya: Al-Humaidi → Sufyan (bin 'Uyainah) → Amr (bin Dinar) → Sa'id bin Jubair → Ibnu Abbas → Ubay bin Ka'b → Rasulullah ﷺ.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keberadaan setan dan pengaruhnya terhadap manusia, serta bahwa setan dapat menyebabkan lupa.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini adalah bagian dari perjalanan Nabi Musa mencari Khidir, dan lupa yang dialami pembantu Musa adalah godaan setan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa setan memang memiliki kemampuan untuk mengganggu ingatan manusia, namun tidak dapat memaksa manusia berbuat dosa tanpa kehendak manusia sendiri.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini merupakan potongan dari kisah panjang perjalanan Nabi Musa عليه السلام bersama pembantunya, Yusya' bin Nun, untuk menemui Nabi Khidir. Allah memerintahkan Musa untuk pergi ke tempat pertemuan dua laut, dengan tanda berupa ikan yang akan hidup kembali dan masuk ke laut.

Dalam perjalanan tersebut, ketika mereka beristirahat di dekat sebuah batu, ikan yang mereka bawa tiba-tiba hidup dan melompat ke laut. Pembantu Nabi Musa melihat kejadian itu tetapi lupa memberitahukannya kepada Nabi Musa. Ia mengakui bahwa yang membuatnya lupa adalah setan.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:

  • Hadits ini membuktikan bahwa setan benar-benar ada dan memiliki pengaruh nyata terhadap manusia.
  • Setan dapat menyebabkan manusia lupa, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan atau hal penting.
  • Namun, lupa yang disebabkan setan tidaklah menjadikan seseorang berdosa, karena lupa bukanlah perbuatan yang disengaja.
  • Hadits ini juga menunjukkan bahwa setan memiliki pasukan, sebagaimana judul bab yang dipilih Imam Al-Bukhari.

2. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:

  • Kisah ini mengajarkan bahwa setan selalu berusaha menggagalkan kebaikan, bahkan dalam hal kecil seperti mengingatkan ikan yang menjadi tanda kebesaran Allah.
  • Lupa yang dialami pembantu Musa adalah ujian, dan Allah menjadikan ikan itu sebagai tanda yang menakjubkan.

3. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan memiliki strategi dalam menggoda manusia, salah satunya adalah membuat manusia lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat. Beliau menegaskan bahwa seorang hamba harus selalu berdzikir dan memohon perlindungan Allah dari godaan setan.

4. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa setan tidak memiliki kekuatan untuk memaksa, tetapi hanya membisikkan dan menggoda. Manusia tetap memiliki pilihan untuk mengingat atau melupakan.

Perbedaan pendapat:

Para ulama dalam daftar ini sepakat bahwa setan dapat menyebabkan lupa, tetapi mereka berbeda dalam memahami sejauh mana pengaruh setan terhadap ingatan manusia. Sebagian ulama menekankan bahwa pengaruh setan terbatas pada bisikan dan godaan, bukan kontrol penuh. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa setan dapat menyebabkan lupa dalam hal-hal tertentu, tetapi manusia tetap bertanggung jawab untuk berusaha mengingat dan berdzikir.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Nabi Musa عليه السلام dan pembantunya melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Mereka membawa bekal, termasuk seekor ikan. Ketika mereka beristirahat di dekat sebuah batu besar di tepi laut, tanpa mereka sadari ikan yang mereka bawa hidup kembali dan melompat ke laut, meninggalkan jejak yang menakjubkan di air.

Pembantu Nabi Musa melihat kejadian itu, tetapi ia lupa memberitahukannya. Setelah mereka melanjutkan perjalanan cukup jauh, Nabi Musa merasa lelah dan meminta makanan. Saat itulah pembantunya teringat dan menceritakan apa yang terjadi. Ia berkata dengan jujur, "Tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan."

Mendengar itu, Nabi Musa menyadari bahwa tempat itu adalah tempat yang dicari. Mereka pun berbalik kembali dan bertemu dengan Khidir, sebagaimana disebutkan dalam kelanjutan surah Al-Kahfi.

Hikmah: Setan selalu berusaha menggagalkan kebaikan, bahkan melalui hal-hal kecil. Kita harus selalu berdzikir dan memohon perlindungan Allah agar tidak lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat.

Kesimpulan Praktis

  1. Setan itu nyata dan memiliki pengaruh — ia dapat menyebabkan lupa, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan. Maka perbanyaklah dzikir dan doa perlindungan.
  2. Lupa bukanlah dosa — jika seseorang lupa karena godaan setan, ia tidak berdosa, tetapi hendaknya segera mengingat dan memperbaiki.
  3. Berdzikir adalah benteng — dengan mengingat Allah, kita terlindungi dari godaan setan yang menyebabkan lupa.
  4. Jujur dalam mengakui kesalahan — pembantu Nabi Musa mengakui dengan jujur bahwa setan yang membuatnya lupa. Ini adalah adab yang baik.
  5. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana — segala sesuatu, termasuk lupa, adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji dan mengarahkan hamba-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?