Penjelasan Hadits Bukhari No. 3267 tentang Hukuman bagi penyeru kebaikan yang tidak mengamalkannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya besar seorang yang suka memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapi dirinya sendiri tidak mengamalkan apa yang ia ucapkan. Ini adalah ancaman siksa yang pedih di akhirat bagi para dai, ulama, dan penuntut ilmu yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan. Hadits ini juga mengajarkan adab yang sangat agung dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu dalam menyikapi pemimpin, yaitu tidak gegabah membuka pintu fitnah dan tetap menjaga kehormatan pemimpin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab Sifat Api dan Bahwa Ia Diciptakan, no. 3267. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2989) dari jalur lain.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff [61]: 2-3)

Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang mengaku berjuang di jalan Allah namun tidak membuktikannya. Namun maknanya umum mencakup setiap orang yang berkata baik tetapi tidak mengamalkannya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kecaman keras bagi orang yang menyelisihi perkataannya dengan perbuatannya, kecuali jika ada uzur syar'i.

Hadits Terkait Lainnya:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالُوا: خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

"Pada malam diisra'kan aku, aku melihat sekelompok orang yang bibir-bibir mereka digunting dengan gunting-gunting dari api." Aku bertanya: "Siapakah mereka?" Para malaikat menjawab: "Mereka adalah para khatib (penceramah) umatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan." (HR. Ahmad, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 2978)

Penjelasan Rinci

Pertama: Konteks dan Latar Belakang Hadits

Hadits ini diawali dengan kisah tentang Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Ada sebagian orang yang meminta beliau untuk menemui seorang pejabat tinggi (kemungkinan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pada masa fitnah) untuk menasihatinya. Namun Usamah menolak dengan bijak. Beliau berkata bahwa beliau sebenarnya sudah berbicara kepada orang tersebut secara rahasia, tanpa membuka pintu fitnah dan pemberontakan terhadap pemimpin.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "si Fulan" dalam hadits ini adalah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Usamah tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu kritik terbuka yang bisa berujung pada pemberontakan terhadap khalifah.

Kemudian Usamah menjelaskan alasannya: beliau tidak mau berkata kepada seorang pemimpin bahwa ia adalah "sebaik-baik manusia" setelah mendengar hadits Nabi ﷺ tentang orang yang suka memerintah tapi tidak melaksanakan. Maksudnya, Usamah tidak mau menyanjung pemimpin secara berlebihan, karena beliau tahu bahwa sanjungan buta bisa membuat pemimpin lalim. Namun di saat yang sama, beliau juga tidak mau membuka pintu fitnah dengan menyerang pemimpin secara terbuka.

Kedua: Makna Hadits tentang Siksa Orang yang Tidak Konsisten

Bagian inti hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ tentang seorang lelaki yang dilemparkan ke neraka, ususnya terburai keluar, dan ia berputar seperti keledai yang memutar batu gilingan. Penduduk neraka heran dan bertanya: "Bukankah kamu dulu memerintahkan kami berbuat baik dan melarang kami dari kemungkaran?"

Orang itu menjawab dengan jujur: "Aku dulu memerintahkan kalian berbuat baik, tetapi aku sendiri tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran, tetapi aku sendiri melakukannya."

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang mengajak kepada kebaikan namun meninggalkannya, dan melarang dari kemungkaran namun melakukannya. Siksa yang digambarkan sangat mengerikan—usus terburai dan berputar seperti keledai—adalah bentuk balasan yang setimpal. Karena orang tersebut di dunia "berputar-putar" antara perkataan dan perbuatan yang bertentangan, maka di akhirat ia dibuat berputar-putar dalam keadaan yang sangat menyiksa.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan bagi para ulama dan dai agar tidak terjebak dalam kemunafikan praktis. Namun beliau juga menegaskan bahwa hal ini tidak berarti seseorang harus meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar hanya karena dirinya belum sempurna. Yang wajib adalah tetap memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, sambil berusaha memperbaiki diri sendiri.

Ketiga: Pelajaran tentang Adab Terhadap Pemimpin

Bagian awal hadits mengajarkan adab yang sangat penting: tidak boleh membuka pintu fitnah terhadap pemimpin muslim. Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu memilih menasihati secara rahasia, bukan secara terbuka yang bisa memicu kekacauan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa nasihat kepada pemimpin sebaiknya dilakukan secara rahasia, karena jika dilakukan terbuka dan di hadapan massa, bisa menimbulkan fitnah yang lebih besar. Namun jika pemimpin melakukan kemungkaran yang nyata, maka tetap harus diingkari sesuai kemampuan, dengan cara yang bijak dan tidak memicu perpecahan umat.

Keempat: Apakah Orang yang Belum Sempurna Boleh Berdakwah?

Pertanyaan penting yang muncul: apakah hadits ini berarti kita tidak boleh berdakwah sebelum diri kita sempurna? Jawabannya: tidak. Para ulama menjelaskan bahwa yang tercela adalah meninggalkan amalan sambil terus-menerus mengajak orang lain, tanpa ada usaha memperbaiki diri. Adapun jika seseorang berdakwah sambil berusaha memperbaiki diri, maka ini tetap wajib dan terpuji.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Miftah Dar As-Sa'adah menjelaskan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah kewajiban yang tidak gugur hanya karena pelakunya belum sempurna. Bahkan para sahabat dan tabi'in tetap memerintahkan kebaikan meskipun mereka belum sempurna dalam semua aspek. Yang penting adalah keikhlasan dan kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa juga menegaskan bahwa seseorang yang menyeru kepada kebaikan namun memiliki kekurangan, tetap mendapat pahala atas dakwahnya, dan dosa atas kekurangannya adalah urusan pribadi dengan Allah. Namun ia harus segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah—salah seorang tabi'in besar—sangat takut dengan hadits ini. Beliau adalah ulama yang sangat fasih dalam menasihati para khalifah dan pejabat. Suatu hari, beliau menangis tersedu-sedu ketika membaca firman Allah:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ

"Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?" (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Salah seorang muridnya bertanya: "Wahai Abu Sa'id, mengapa engkau menangis?"

Al-Hasan menjawab: "Aku takut menjadi orang yang disebut dalam hadits Nabi ﷺ, yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya. Demi Allah, jika aku termasuk golongan itu, maka celakalah aku."

Kemudian beliau berkata: "Wahai anakku, jika engkau mampu, janganlah engkau menjadi orang yang menunjukkan jalan kepada manusia, tetapi engkau sendiri tersesat di jalan itu. Jadilah orang yang berjalan di atas jalan tersebut, lalu mengajak orang lain mengikutimu."

Kisah ini menunjukkan ketakutan para salaf terhadap ancaman dalam hadits ini. Mereka sangat berhati-hati dalam berdakwah, selalu mengoreksi diri, dan tidak merasa aman dari siksa Allah. Namun mereka tetap berdakwah dan menasihati manusia, karena itu adalah kewajiban, sambil terus berusaha memperbaiki diri.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dan konsisten — Seorang dai, ulama, atau penuntut ilmu harus berusaha keras mengamalkan apa yang ia sampaikan. Jangan sampai perkataan dan perbuatan bertentangan.
  2. Tetap berdakwah meski belum sempurna — Jangan meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar dengan alasan diri belum baik. Yang wajib adalah berdakwah sambil terus memperbaiki diri dan bertaubat atas kekurangan.
  3. Nasihat kepada pemimpin secara rahasia — Jika ingin menasihati pemimpin atau pejabat, lakukan secara bijak dan rahasia, bukan dengan cara membuka aib di depan umum yang bisa memicu fitnah dan perpecahan.
  4. Jangan menyanjung pemimpin secara berlebihan — Sanjungan buta kepada pemimpin adalah bentuk penjilatan yang dilarang, karena bisa membuat pemimpin semakin lalim dan jauh dari kebenaran.
  5. Muhasabah diri — Biasakan mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Evaluasi amalan kita setiap hari, apakah kita sudah konsisten antara ucapan dan perbuatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?