Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang tentang perjalanan Isra' Mi'raj. Di dalamnya, Nabi ﷺ mengabarkan tentang bentuk fisik Nabi Musa dan Nabi Isa 'alaihimas salam yang beliau lihat di langit, serta menyebutkan tentang Malik penjaga neraka dan Dajjal. Hadits ini mengajarkan kita untuk beriman kepada hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ, termasuk perjalanan Isra' Mi'raj, wujud para nabi di alam malakut, dan fitnah Dajjal yang akan datang. Ini juga menunjukkan bahwa Madinah dijaga oleh para malaikat dari masuknya Dajjal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman tentang pertemuan Nabi Musa dan kitab Taurat:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ ۖ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
"Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat), maka janganlah engkau (Muhammad) ragu-ragu untuk bertemu dengannya, dan Kami jadikan Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil." (QS. As-Sajdah [32]: 23)
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab "Jika Salah Seorang Di Antara Kalian Mengucapkan Amin..." (no. 3239). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Isra' Rasulullah ﷺ ke Langit" (no. 165).
Kaitan dengan ulama:
Hadits ini diriwayatkan dari jalur Qatadah (tabi'in) dari Abu Al-'Aliyah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Qatadah adalah salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati dalam tafsir dan hadits. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, dan para ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Tentang Isra' Mi'raj dan Melihat Para Nabi
Perjalanan Isra' Mi'raj adalah perjalanan yang nyata dan benar, dilakukan oleh Nabi ﷺ dengan ruh dan jasadnya. Dalam perjalanan ini, beliau ﷺ melihat para nabi di langit-langit yang berbeda. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ memperlihatkan kepada Nabi ﷺ para nabi sebelumnya sebagai bentuk penghormatan dan untuk meneguhkan hatinya.
2. Sifat Fisik Nabi Musa dan Nabi Isa
Nabi ﷺ menggambarkan Nabi Musa sebagai laki-laki yang tinggi, berkulit coklat (adam), berambut keriting, seolah-olah dari kaum Syanu'ah (salah satu kabilah Yaman yang dikenal berkulit coklat dan berambut keriting). Sedangkan Nabi Isa digambarkan sebagai laki-laki yang sedang tingginya, tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, berkulit cenderung merah dan putih, serta berambut lurus.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa gambaran ini menunjukkan kebenaran Nabi ﷺ, karena beliau menyebutkan ciri-ciri yang detail yang tidak mungkin diketahui kecuali melalui wahyu. Ini juga menegaskan bahwa para nabi yang telah wafat tetap hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang layak, dan Allah ﷻ memperlihatkan mereka kepada Nabi ﷺ.
3. Tentang Malik Penjaga Neraka
Nabi ﷺ juga melihat Malik, malaikat penjaga neraka. Ini menunjukkan bahwa neraka itu benar adanya dan memiliki penjaga yang ditugaskan oleh Allah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang hari akhir menjelaskan bahwa melihat Malik penjaga neraka adalah peringatan bagi Nabi ﷺ dan umatnya agar takut akan siksa neraka.
4. Tentang Dajjal
Nabi ﷺ juga melihat Dajjal dalam keadaan yang Allah perlihatkan kepadanya. Dajjal adalah fitnah terbesar di akhir zaman. Namun, kabar gembira dalam hadits ini adalah bahwa para malaikat menjaga Madinah dari Dajjal, sehingga Dajjal tidak akan bisa masuk ke kota Madinah. Ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas dan Abu Bakrah yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam bab yang sama.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa beriman kepada Dajjal adalah bagian dari beriman kepada hal-hal ghaib. Kita wajib meyakini bahwa Dajjal akan keluar di akhir zaman, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari fitnahnya, terutama dalam tasyahud akhir setiap shalat.
5. Pelajaran tentang Ayat "Fala Takun Fi Miryatin Min Liqa'ihi"
Nabi ﷺ membaca ayat ini setelah menyebutkan pertemuannya dengan Nabi Musa. Para ulama menafsirkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj, yaitu agar Nabi ﷺ tidak ragu bahwa beliau benar-benar bertemu dengan Nabi Musa. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kebenaran pertemuan Nabi ﷺ dengan Nabi Musa, dan bahwa Taurat yang diturunkan kepada Musa adalah petunjuk bagi Bani Israil.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Aku melihat Musa pada malam Isra'ku, seorang laki-laki yang tinggi, berkulit coklat, berambut keriting, seolah-olah ia dari kaum Syanu'ah. Dan aku melihat Isa, seorang laki-laki yang sedang tingginya, berkulit merah dan putih, berambut lurus. Dan aku melihat Malik penjaga neraka, dan Dajjal di antara tanda-tanda yang Allah perlihatkan kepadaku.'" (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan hikmah dari gambaran ini: "Nabi ﷺ menyebutkan sifat-sifat ini agar umatnya mengenal para nabi tersebut ketika mereka bertemu dengannya di akhirat nanti, dan juga agar umatnya mengenal Dajjal sehingga tidak tertipu olehnya."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa Allah ﷻ memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Beliau dipertemukan dengan para nabi, melihat mereka secara langsung, dan kemudian mengabarkan kepada umatnya sebagai bentuk kasih sayang dan peringatan.
Kesimpulan Praktis
- Beriman kepada Isra' Mi'raj sebagai peristiwa nyata yang dialami Nabi ﷺ dengan ruh dan jasad.
- Beriman kepada para nabi dan bahwa mereka hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang layak di sisi Allah.
- Beriman kepada malaikat, termasuk Malik penjaga neraka, dan meyakini bahwa neraka itu benar adanya.
- Beriman kepada Dajjal dan fitnahnya, serta berlindung kepada Allah dari fitnahnya setiap selesai tasyahud akhir.
- Meyakini keutamaan Madinah yang dijaga oleh para malaikat dari masuknya Dajjal.
- Menjauhi keraguan terhadap kabar-kabar ghaib yang disampaikan oleh Nabi ﷺ, karena semuanya adalah kebenaran dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.